Makna di Balik Tari Topeng Reog Ponorogo

0 1.253

Makna di Balik Tari Topeng Reog Ponorogo

Makna di Balik Tari Topeng Reog Ponorogo mengandung nilai seni budaya yang tinggi. Indonesia kaya akan budaya dan kesenian tradisionalnya yang bahkan telah terkenal hingga ke seluruh dunia. Beragam suku dan budaya juga mempengaruhi adat dan kebudayaan di masing-masing pulau sehingga muncul berbagai tarian tradisional. Salah satu tarian yang selalu berhasil menarik perhatian publik adalah tari topeng dari daerah Jawa Timur atau biasa dikenal sebagai Reog Ponorogo.

 

 

Kesenian tari topeng Reog Ponorogo ini berasal dari provinsi Jawa Timur bagian barat dan Ponorogo. Ponorogo sendiri memang disebut sebagai asal-mula kesenian reog ini. Bahkan, di gerbang kota Ponorogo terhias dua sosok yang terdapat dalam kesenian ini. Sosok tersebut disebut Warok dan juga Gemblak. Reog Ponorogo masih begitu kental dengan aura mistis serta ilmu kebathinan yang dipercaya oleh penduduk sekitar. Reog Ponorogo berasal dari sebuah cerita rakyat. Meskipun terdapat lima versi cerita yang beredar, namun ada satu cerita yang paling terkenal. Mitos tersebut adalah kisah tentang pemberontakan yang dilakukan oleh Ki Ageng Kutu.

Ki Ageng Kutu adalah seorang abdi kerajaan di masa Bhre Kertabumi pada abad ke-15. Tokoh tersebut memberontak terhadap pemerintahan raja karena banyak terjadi korupsi dan mendapatkan pengaruh buruk dari wanita China yang menjadi istri raja Majapahit. Dalam masa pemberontakannya, dia meninggalkan kerajaan dan kemudian mendirikan sebuah perguruan bela diri. Karena menyadari bahwa pasukan yang dimiliki terlalu sedikit untuk melawan pemerintahan, maka Ia membuat sebuah pertunjukan yang berisi sindiran kepada Raja Kertabumi dan pemerintahannya.

Dalam pertunjukannya, kesenian ini menampilkan topeng yang berbentuk kepala singa dan dikenal dengan sebutan “Singa Barong” yang merupakan raja hutan dan menjadi simbol Raja Kertabumi. Kemudian ada juga penari yang menunggang kuda-kuda dan disebut sebagai jathilan sebagai simbol pasukan kerajaan. Berbanding terbalik dengan semua itu yaitu adanya Warok yang menggunakan pakaian badut merah yang menjadi simbol Ki Ageng Kutu yang hanya seorang diri menghadapi banyaknya penari penunggang kuda.

Kepopuleran Reog yang digawangi oleh Ki Ageng Putu menyebabkan Raja Kertabumi murka dan menyerang perguruan miliknya. Pemberontakan ini dengan cepat mampu diatasi oleh sang raja karena perguruan dilarang untuk beroperasi kembali. Meski begitu, murid Ki Ageng Putu masih belum menyerah dan terus melanjutkannya secara diam-diam. Meski begitu, seni Reog masih tetap boleh dipertunjukkan karena kala itu menjadi pertunjukan populer di kalangan masyarakat dengan perubahan alur cerita.

Source http://globalwealthdjm.com/ http://globalwealthdjm.com/makna-tari-topeng-reog-ponorogo/
Comments
Loading...