Makam Ki Balak

0 78

Balakan terletak di Desa Mertan, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo, Jawa Tengah. Daerah itu disebut Balakan karena di tempat tersebut terdapat makam Ki Ageng Balak yang dijadikan tempat ritual sejak dahulu kala. Komplek pemakaman ini selalu ramai dikunjungi orang dari berbagai daerah di setiap harinya yang bertujuan mencari penyelesaian atas masalah dalam kehidupan mereka. Konon katanya, banyak pengunjung yang berhasil dan sukses setelah menjalani ritual di tempat ini.

Asal muasal tempat ini yaitu pada siang hari di musim paceklik, warga desa mendengar suara entah dari mana, yang berbunyi:

“Yah mene kok golek uwi, kae lho openono panggonanku ono ngisor uwit serut, openono bleduge, panganen kanggo wong sak eyupen blarak. Aku putro wayah ratu ping rolas isih turun Majapahit”

Yang kira- kira memiliki arti:

Zaman sekarang kok cari susah, rawat saja tempatku di bawah pohon serut, bersihkan debunya, maka kamu tidak akan kelaparan. Aku anak dari cucu ratu keduabelas keturunan Majapahit

Sejak mendengar suara tersebut, tepat di bawah pohon serut kemudian dibangun gubuk bambu beratapkan ilalang. Namun seiring dengan perkembangan zaman serta banyaknya para pelaku ritual yang memperoleh suara ghaib secara pribadi, maka bangunan gubuk akhirnya direnovasi menjadi sebuah bangunan pesanggrahan.

Setiap tahun (tepatnya minggu terakhir menjelang bulan suro), di tempat tersebut diadakan event budaya Pulung Langse, yaitu mengganti selubung kain (kelambu) yang digunakan untuk menutup makam. Agenda budaya tersebut selalu menjadi daya tarik ribuan masyarakat dari berbagai daerah. Rata-rata masyarakat ingin mendapatkan bekas kelambu yang diyakini membawa berkah. Dalam menunggu jalannya prosesi ritual, ribuan masyarakat dari berbagai daerah melakukan berbagai hal. Ada yang duduk dengan beralaskan tikar, koran, dan ada juga yang berdiri bergerombol di bawah pohon yang rindang. Para pengunjung didominasi orang dewasa meski ada juga yang mengajak anak-anaknya.

Selain bau dupa yang cukup mendominasi, terdengar juga alunan gending Jawa sebelum prosesi ritual Pulung Langse dimulai. Acara prosesi dimulai dengan sebuah Tari Gambyong sebagai penyambut para pengunjung. Setelah itu, sesepuh warga pun terdengar memimpin doa pertanda ritual akan segera dimulai. Usai doa selesai, ritual pun dimulai dengan kirab gunungan mengelilingi kompleks makam. Dalam kirab tersebut dipimpin oleh seorang “cucuk lampah”. Selain gunungan, terlihat juga sebuah pusaka yang dibungkus dengan kain hitam turut dalam kirab.

Selama jalannya kirab, para pengunjung yang tadinya duduk-duduk santai mulai beranjak dan memadati rute kirab. Warga yang datang ke lokasi tersebut memang hendak “ngalap berkah” atau “mencari berkah” dengan berebut isi gunungan serta mencari sisa kain atau langse bekas penutup makam. Hanya saja, untuk kain bekas penutup makam tidak diperebutkan karena jumlahnya yang sedikit.

Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Makam-Ki-Balak/
Comments
Loading...