Mai Song

0 137

Mai Song

Mai Song merupakan tradisi yang berasal dari suku Tionghoa dan juga dilakukan di Indonesia. Mai Song merupakan salah satu tradisi kematian Tionghoa yang berhubungan erat dengan tradisi Ceng Beng, Rebutan (Setan Lapar) dan Sincia.

Ceng Beng adalah suatu ritual tahunan dari etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah kubur sesuai dengan ajaran Konghuchu, biasanya tradisi ini dilaksanakan setiap tanggal 5 April dalam setiap tahun (setelah terjadi titik balik matahari di musim dingin). Secara Astronomi dalam terminologi matahari festival Ceng Beng dilaksanakan pada hari pertama dari 5 terminologi matahari yang juga diberi nama Qing Ming. Nama yang menandakan waktu untuk orang pergi keluar dan menikmati hijaunya musim semi dan juga ditunjukkan kepada orang – orang untuk berziarah kubur. Hari festival ini dijadikan libur umum di Tiongkok, Hongkong, Macau, dan Taiwan.

Upacara rebutan adalah suatu tradisi perayaan dari etnis Tionghoa yang dimana dalam tradisi tersebut terdapat sebuah acara untuk memberi makan arwah – arwah kelaparan yang telah dilupakan oleh anak dan cucu mereka, biasanya makanan – makanan ini ditumpuk menyerupai gunung dan mereka percaya bahwa arwah – arwah tersebut akan berebut mengambil makanan yang telah disediakan.

Sincia adalah sebuah tradisi dari etnis Tionghoa dimana biasanya anggota – anggota keluarga besar berkumpul bersama disuatu tempat dan saling bercengkrama serta berbagi kebahagiaan yang telah mereka dapatkan selama tahun tersebut dan bersiap untuk menyambut suka cita di tahun yang akan datang, biasanya orang yang lebih muda akan memberikan suatu bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua dan orang yang lebih tua akan memberikan suatu bentuk hadiah berupa angpao berwarna merah yang melambangkan keberuntungan, kesejahteraan, kebahagiaan di tahun yang akan datang.

Mai Song merupakan sebuah tradisi yang mengawali berjalannya ketiga tradisi ini. Ketiga tradisi tersebut dilakukan berurutan dalam satu tahun. Latar belakang dari pemilihan waktu pelaksanaan tradisi adalah para penganut agama Kong Hu Chu mempercayai bahwa satu tahun di dunia sama dengan satu hari di dunia akhirat. Ketiga tradisi tersebut dianggap ibarat jam makan pada manusia: Ceng Beng diibaratkan sebagai makan pagi, Rebutan diibaratkan sebagai makan siang, dan Sincia sebagai makan malam. Semua tradisi ini didasari dan diawali oleh tradisi Mai Song, dimana Mai Song merupakan awal mula orang Tionghoa melakukan tradisi-tradisi selanjutnya.

Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Mai-Song/
Comments
Loading...