Magi, Banten

0 149

Magi, Banten

Kata magi memiliki sejarah yang sangat panjang, seperti berikut (Ibid, 40-43). “Persia Kuna sekitar 3000 tahun yang lalu melalui kuneiform Mesopotamia Kuna peradabannya secara histories dapat diungkap, di antaranya tentang kepercayaan Zoroastrianisme. Zarathrustra mengajarkan bahwa alam semesta dibagi antara gelap dan terang, antara kebaikan dan kejahatan, antara kebenaran dan kepalsuan, hidup dan mati. Alam semesta terbagi dalam kubu pertentangan sejak saat penciptaan, dunia terkunci dalam pertarungan dua kubu sampai akhir zaman. Manusia bebas memilih, berbuat pilihan moral luhur atau sebaliknya. Dewa yang mewujudkan prinsip kebaikan ada dua yakni Ahura dan Mazda “Tuhan Maha Bijaksana”, dan Dewa yang berprinsip jahat yaitu Ahriman. Reprensentasi Ikon Ahura dan Mazda adalah api, mereka seolah-olah memuja api, namun sebenarnya mereka memuja Ahura dan Mazda untuk memperoleh surga. Seorang Rahib Zoroastrian disebut magus , bentuk jamak dari magi (orang majus).

Menurut cerita Kristen tiga “orang bijak dari Timur” yakni rahib-rahib Zoroastian membawa mur dan kemenyan untuk bayi Yesus di kandang. Para rahib atau magus ini dianggap memiliki kekuatan gaib. Magician berasal dari kata magi.” Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary terdapat keterangan sebagai berikut, Magi the Magi the three wise men from who brought gifts to the infant Jesus (1989: 749). Dongeng-dongeng dan budaya dari wilayah Timur Tengah banyak diserap oleh kesusastraan Sunda baik ditel-ditel maupun keseluruhan kisah, contoh Dongeng Seribu Satu Malam, Abunawas, hagiografi, dan tentang jin. Kata “majus” itu sendiri banyak ditemukan pada kisah-kisah dari wawacan dengan istilah Nagara Kapir Majusi untuk menyatakan ‘negara orang-orang kapir yang belum masuk Islam’.

Magi adalah salah satu bentuk agama primitive. Dalam magi, banyak gejala dihubungkan dengan kekuatan gaib. Magi dapat diartikan juga ritus yang bertujuan mempengaruhi orang, binatang-binatang, atau roh-roh, dan lainnya. Magi primitive dipelajari oleh Levy – Bruhl dan Soviet N. Mart (1864 – 1934). Dalam magi terkandung bentuk pemikiran spesifik yang belum bisa ditarik pembedaan kualitatif antara benda-benda, karena itu terjadi pemindahan ciri-ciri suatu gejala atau hal ke beberapa gejala dan hal lain. Manusia primitive menganggap pemindahan seperti itu sebagai realitas yang tidak berubah di mana tidak ada tempat bagi hal yang adikodrati (supernatural).

Source https://budaya-indonesia.org/Magi/ https://budaya-indonesia.org/Magi/
Comments
Loading...