Macapatan Yogyakarta

0 111

Macapatan Yogyakarta

Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII, tradisi macapat mulai dipopulerkan kembali. Sultan Hamengkubuwono VII yang sangat peduli tentang pendidikan, industry, dan kesenian, mewajibkan parakeluarga kerajaan untuk mempelajari dan melestarikan tradisi macapat. Pada awal perkembangannya, macapat hanya diperuntukkan untuk keluarga istana seperti anak, adik dan kerabat raja; namun lama kelamaan para abdi dalem keraton mulai mempelajari dan menyukai tradisi tersebut; kemudian dikenal oleh masyarakat luas, sehingga pada tahun 1960-an didirikan sekolah khusus macapat bagi masyarakat. Selain di Keraton Yogyakarta, berdasarkan Babad Pakualaman dijelaskan bahwa tradisi macapat telah dilakukan sejak Pakualam I hingga Pakualam IV, pelaksanaannya setiap hari Jum’at di Pendapa Pakualaman. Macapat dibacakan oleh abdi dalem di hadapan adipati atau raja, dan keluarga kerajaan, serta terdapat orang yang bertugas untuk membedah atau menjelaskan isi dan maksud dari macapat tersebut.

Macapat merupakan tradisi melagukan tembang pada masa “Jawa Baru”. Sebelum dikenal tradisi macapat, pada masyarakat masa “Jawa Kuno” dikenal tradisi kakawin dan kidung. Tradisi kakawin berasal dari kata “kawin”, merupakan tradisi melagukan tembang dengan aturan-aturan yang berasal dari India; sedangkan pada masa “Jawa Pertengahan”, masyarakat mengenal adanya tradisi kidung yang masih memiliki sedikit kesamaan dengan kakawin, yakni dengan melagukan tembang yang masih memiliki pengaruh budaya India, namun aturan atau metrum menggunakan aturan Jawa. Dalam pembacaan kidung dan kakawin para penyair harus memperhatikan cara membaca panjangpendeknya suatu teks seperti dalam pembacaan Al-Qur’an.

Macapat memiliki tiga metrum atau aturan baku yang harus selalu dijadikan sebagai patokan yaitu:

  1. Guru gatra, merupakan jumlah baris dalam satu baris;
  2. Guru wilangan, merupakan jumlah suku kata dalam tiap baris;
  3. Guru lagu, merupakan vokal terakhir dalam setiap baris. Bahasa yang digunakan dalam macapat tergantung bahasa yang ditulis dalam naskah, babad atau serat yang akan dilagukan. Akan tetapi pada umumnya bahasa yang digunakan merupakan bahasa “Jawa Baru”.

Metrum pada macapat digunakan untuk mencapai tujuan dari macapat, yaitu:

  1. Digunakan untuk membaca doa: ”Ana kidung remokso ing wengi, teguh ayu luput ng loro luput o billahi kabeh, jin syetan datang purun, paneluhan tan ono wani….” (Doa dijauhkan dari bala atau bahaya).
  2. Bisa untuk membaca sejarah seperti membaca babad Majapahit, Mataram, Padjajaran dan lain sebagainya.
  3. Bisa membaca serat (nasihat-nasihat yang ditulis oleh para pujangga).
  4. Bisa untuk kepentingan masa kini seperti perayaan pesta rakyat.
Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Macapatan-Yogyakarta/
Comments
Loading...