Macapat Malangan Tembang Tradsisional Jawa

0 184

Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu. Filosofinya menggambarkan perjalanan manusia dari lahir sampai meninggal dunia.

Biasanya macapat diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Sebuah karya sastra macapat biasanya dibagi menjadi beberapa pupuh, sementara setiap pupuh dibagi menjadi beberapa pada. Setiap pupuh menggunakan metrum yang sama. Metrum ini biasanya tergantung kepada watak isi teks yang diceritakan.

Ada beberapa tembang macapat yang menjadi ciri khas daerah-daerah di Jawa. Beberapanya adalah Semarangan, Mataraman, Gresikan, Majapahitan, Tengger, dan Malangan. Ragam tersebut diambil dari tempat berkembangnya. Dimana cirinya sesuai dengan budaya setempat.

Untuk tembang macapat Malangan, cirinya ada di cengkok khas Malangan yang dimilikinya. Ciri ini berlaku untuk setiap cengkok dan lafal pengucapan kata-katanya dikenali dari Malang. Sehingga, jika memenuhi ciri-ciri tersebut, dapat dipastikan itulah tembang macapat Malangan.

Aturan dan ciri-ciri Macapat Malangan yaitu:

1. Tata aturan umum pada bait, yaitu guru gatra : jumlah gatra (baris) di tiap bait. Guru wilangan yaitu jumlah suku kata di tiap gatra, dan guru lagu (swara) yaitu bunyi vokal di setiap akhir bait. Guru lagu dan guru wilangan tembang macapat malangan harus diperhatikan. Karena tidak jarang guru wilangan ditambah atau dikurangi, bahkan ada gatra yang ditambah senggakan, contohnya aauu, auan, ii, dan lain-lain. Selain itu juga guru lagunya sering kemudian tidak sama dengan tata aturan tembang macapat yang sudah umum. Yang perlu diperhatikan, sebelum belajar guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu macapat malangan harus sudah mengerti aturan pokok tembang macapat. Agar dapat diketahui aturan baku dan aturan yang tak baku.

2. Memiliki cengkok yang jelas sekali perbedaannya. Hal itu terjadi karena terpengaruh dari lingkungan sosial budaya masyarakatnya.

3. Lafal pengucapan kata yang menunjukkan dialek khas bahasa Malangan, yang umumnya hampir mirip dengan bahasa Surabayan. Misalnya saja pengucapan kata wurung menjadi wUrUng, grimis diucapkan grImIs dan lain-lain.

Tembang sendiri terdiri dari dua bagian, yaitu rasaning basa (sastra) dan rasaning swara (lagu). Letak keindahan swara atau lagu itu berdasarkan tangga nada dan tergantung dari luk, gregel, dan cengkok. Cara menempatkan luk, gregel, dan cengkok tidak terikat dalam tata aturan tetapi tergantung dengan orang yang menembangkan. Gregel yaitu lekuk-lekuk suara yang berlangsung sebentar. Luk yaitu lekuk-lekuk suara yang agak panjang. Sedangkan cengkok yaitu lekuk-lekuk suara untuk melagukan tembang menurut perasaan yang menembang.

Keberadaan macapat Malangan sudah kurang terkenal keberadaannya. Apalagi jika tidak tergabung dalam komunitas terkait atau belajar sastra Jawa. Setiap tembang yang dilantunkan, pasti memiliki filosofi yang mendalam. Sehingga pelantun dan pendengar dapat memaknai suatu tembang yang sedang diperdengarkan. Selain itu, juga untuk melestarikan sastra Jawa di tengah era modern.

Source Kenali Kembali Macapat Malangan MACAPAT MALANGAN Macapat Malangan
Comments
Loading...