Lestarikan Tradisi, Bebeledugan Lodong Dilombakan

0 31

Sekitar Tajug Gede Cilodong Kabupaten Purwakarta sangat tenang pada hari terakhir Ramadan 1440 Hijriah beberapa waktu lalu. Namun, kebuntuan itu hilang seketika setelah terdengar suara dentuman keras.

Suara tersebut sontak mengejutkan pengunjung yang tengah beristirahat di dalam mesjid. Bahkan, ledakannya terdengar hingga ke Jalan Raya Bungursari yang berjarak ratusan meter dari sumber suara di belakang mesjid tersebut.

Suara itu tepatnya berasal dari lodong atau meriam yang terbuat dari bambu berukuran besar. Belasan benda tersebut sengaja dibunyikan dalam perlombaan bebeledugan (ledak-ledakan) yang diselenggarakan pemerintah daerah dan pengurus Tajug Gede.

Salah seorang peserta Embam Nadari berasal dari Desa Sumurugul Kecamatan Wanayasa Kabupaten Purwakarta. “Saya biasa main (bebeledugan) di hutan kebetulan daerahnya pegunungan, jadi banyak bahan bakunya,” kata dia.

Permainan tersebut diakui menjadi tradisi turun temurun dari orang tuanya dulu. Warga di kampungnya biasa memainkan lodong setiap bulan Ramadan, terutama pada siang hingga sore hari menjelang waktu berbuka puasa.

Awalnya, permainan tersebut dilakukan untuk membangunkan masyarakat pada dini hari memasuki waktu sahur. “Dalam semalam bisa menghabiskan 20 kilogram karbit (untuk bahan bakar ledakan). Kalau lodongnya biasa dari (batang pohon) kawung gunung, pakis, gombong atau bitung,” tutur Embam.

Embam dan para peserta lainnya dari berbagai wilayah di Kabupaten Purwakarta mengapresiasi penyelenggaraan lomba tersebut. Kegiatan kali ini merupakan perlombaan bebeledugan yang pertama kali diselenggarakan di daerahnya.

Salah seorang penonton, Ujang merasa takjub dengan volume ledakan lodong yang sangat kencang. “Saya tidak berani main itu, suaranya mengagetkan,” kata anak yang datang ke lokasi bersama teman-teman seusianya.

Meski relatif belum ramai menyedot pengunjung, kegiatan tersebut dinilai dapat melestarikan tradisi masyarakat. Ketua Dewan Keluarga Mesjid Tajug Gede Cilodong, Dedi Mulyadi berharap perlombaan serupa bisa digelar secara rutin setiap Ramadan.

“Perlombaan ini baru diikuti belasan peserta. Semoga ke depannya bisa lebih banyak dan diikuti dari berbagai daerah di Jawa Barat dengan hadiah yang menarik,” kata Dedi di lokasi acara. Pada kesempatan kali ini, ia pun menyiapkan hadiah senilai belasan juta rupiah bagi pemenang lodong dengan suara ledakan terkencang.

Di tempat lain, Pemerintah Kabupaten Purwakarta juga menyelenggarakan lomba dulag (bedug) tepat pada malam takbiran. Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika mengatakan bahwa Festival Bedug merupakan kegiatan rutin tahunan menyambut hari Idul Fitri.

“Festival Bedug ini merupakan kali ke-10, antusias masyarakat setiap tahun cukup tinggi bahkan peserta mengalami peningkatan,” katanya. Berbeda dari penyelenggaraan tahun sebelumnya, pemenang lomba kali ini kemudian diminta menabuh sembilan bedug raksasa di Tajug Gede sebelum solat Idul Fitri.

Source https://www.pikiran-rakyat.com https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2019/06/09/lestarikan-tradisi-bebeledugan-lodong-dilombakan
Comments
Loading...