Legenda Timbulnya Saparan Kalibuko

0 208

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, di Desa Kalibuko terdapat satu tempat yang dahulu ketika akan berakhirnya kerajaan Majapahit, pernah dipakai oleh para wali yang dipimpin oleh Sunan Kalijaga, untuk bersidang atau bermusyawarah menentukan siapa yang akan menjadi raja di tanah Jawa. Tempat itu sekarang dinamakan Sebatur. Para wali sebelum bersidang terlebih dahulu melaksanakan puasa, dengan tujuan supaya nantinya musyawarah itu dapat berjalan dengan lancar dan menghasilkan keputusan yang haik. Pada hari Jumat Kliwon di bulan Sapar para wali merasakan bahwa puasanya telah cukup, maka para wali mengakhiri puasanya dengan melaksanakan buka, `buka puasa’. Adapun pada waktu itu yang dipakai buka puasa adalah daging wedhus kendhit yang dimasak sate.

Ketika beliau selesai makan sate Kanjeng Sunan Kalijaga melempar tusuk sate tersebut dan jatuh di tanah tidak jauh dari Sebatur. Tusuk sate tersebut kemudian tumbuh menjadi serumpun bambu. Kanjeng Sunan Kalijaga mengetahui bahwa tusuk sate tersebut menjadi pohon bambu, maka beliau berpesan agar bambu tersebut dipelihara, namun jangan dipakai untuk peralatan atau perlengkapan bangunan, karena akan menyebabkan kurang baik pemakainya. Masyarakat setempat sangat mengkeramatkan pohon bambu tersebut, dan mereka menamakan serumpun bambu itu dengan nama pring gedhe.

Daerah di sekitar tempat para wali melaksanakan musyawarah dan berbuka puasa itu kemudian dinamakan Kalibuko, hal ini berkaitan dengan peristiwa masa lalu bahwa di tempat itu para wali melaksanakan buka puasa sehingga pada mulanya disebut wali buka dan kemudian menjadi kali buko, yang sampai sekarang dijadikan nama dua dusun di wilayah Desa Kalirejo yaitu Kalibuko I dan Kalibuko II.

Peristiwa yang terjadi di Sebatur Kalibuko pada jaman para wali, bagi masyarakat setempat sampai sekarang masih merupakan misteri yang hidup di setiap sanubari. Oleh karenanya sejak nenek moyangnya untuk memperingati peristiwa yang pernah dilakukan oleh para wali, di tempat tersebut pada setiap bulan Sapar dilaksanakan tradisi yang dinamakan Saparan Kalibuko. Saparan Kalibuko merupakan kenangan tersendiri bagi masyarakat Kalibuko terhadap jasa-jasa para wali dalam menentukan siapa yang akan menjadi raja di tanah jawa, di samping merupakan bentuk permohonan keselamatan kepada Tuhan. Masyarakat Kalibuko percaya, bahwa apabila Saparan ini sampai tidak dilaksanakan maka akan terjadi sesuatu yang kurang baik. Oleh karena itu setiap tahunnya Saparan Kalibuko selalu dilaksanakan.

Source http://wisatadanbudaya.blogspot.com/2010/11/tradisi-dan-makna-simbolik-saparan.html http://wisatadanbudaya.blogspot.com
Comments
Loading...