Legenda Danau Ranu Grati Pasuruan

0 217

Legenda Danau Ranu Grati Pasuruan

Legenda Ranu Grati merupakan cerita rakyat dari Jawa Timur yang mengisahkan asal-usul terbentuknya Danau Ranu Grati. Legenda ini bermula pada zaman dahulu hidup seorang yang bernama Ki Ageng Bangil. Pada waktu itu Ki Ageng Bangil mengambil telur ular sanca di hutan untuk mengobati istrinya (Purwosari) yang sakit lumpuh. Setelah meminum telur ular sanca itu, secara ajaib kaki Purwosari sembuh. Tapi sepasang ular sanca raksasa pemilik telur itu mengamuk di kampung Bangil untuk mengambil kembali telurnya. Sepasang ular sanca itu berhasil dikalahkan Ki Ageng Bangil dengan tongkat emas yang sakti.

Mengetahui kalau telurnya sudah diminumkan ke istrinya, ular sanca kembang mengutuk mereka bila anak yang dikandung Purwosari akan segera lahir dengan kulit bersisik ular. Kutukan itu benar terjadi karena bayi perempuan yang dilahirkan Purwosari kulitnya berisisik seperti ular. Untuk menutupi aib tersebut Ki Ageng Bangil mengungsikan anak dan istrinya di sebuah gubuk di tengah hutan. Tapi Purwosari sangat menyayangi anaknya dan diberi nama Grati.

Sepasang ular sanca memberi tahu bahwa sisik ular di kulit Grati akan hilang kalau ada yang berhasil mengeluarkan mustika merah delima dari dalam tubuhnya. Namun mustika merah delima itu harus diserahkan kepada sepasang ular sanca karena merupakan intisari dari telur yang diminum Purwosari. Jika mustika itu keluar tapi hilang maka Grati akan dimakan sebagai gantinya. Ki Ageng Bangil merasa bersalah kemudian membuang tongkat emasnya di kawah gunung berapi.

10 tahun berlalu dan Grati tumbuh sebagai gadis cilik bersisik ular. Ia tidak dibolehkan keluar dari hutan dan hanya diperbolehkan bermain dengan berbagai jenis ular termasuk sepasang ular sanca yang selalu mengawasi sekaligus melindungi. Suatu ketika ada bocah laki-laki bernama Ranu tersesat di hutan dan terjebak lumpur hidup. Grati kemudian menolongnya dan sejak itu Ranu dan Grati berteman.

Sementara itu di desa Pakis, Ki Lurah Pakis (ayahnya Ranu) yang mau mengambil empedu ular raja kobra malah kena patok. Akibat bisa ular itu Ki Lurah Pakis mengalami sakit kepala tengleng. Menurut seorang pawang ular bernama Ki Sronen, sakit kepala tengleng Ki Lurah pakis hanya bisa disembuhkan dengan mustika ular. Perburuan ularpun segera dilakukan dan disisi lain Grati bersama para ular melakukan perlawanan. Namun suling ajaib yang ditiup Ki Sronen mampu melumpuhkan semua ular bahkan Grati pun dibikin tak berdaya oleh suara suling. Melihat cahaya merah delima memancar dari dada Grati, Ki Sronen langsung yakin kalau mustika ular itu ada di dalam tubuh Grati. Ki Sronen berusaha mengeluarkan mustika dari tubuh Grati dengan suling ajaib.

Grati kejang-kejang mendengar suara suling. Anehnya sisik-sisik ular ditubuh Grati berontokan dan menjadi kepingan emas. Ki Lurah Pakis dan istrinya yang tamak segera mengambili semua kepingan emas itu. Setelah sisik terakhir terlepas, mustika berwarna merah delima juga keluar dari dalam tubuh Grati. Dengan meminum air rendaman mustika itu sakit kepala tengleng Ki Lurah Pakis berhasil disembuhkan. Ki Ageng Bangil datang meminta mustika itu untuk dikembalikan pada sepasang ular sanca. Tapi Ki Lurah Pakis tidak mau memberikan mustika kecuali ditukar dengan tongkat emas milik Ki Ageng Bangil. Karena tongkat emas itu sudah dibuang dikawah gunung berapi, Grati berniat mengambilnya namun diam-diam Ranu mengikuti. Setelah melewati berbagai halangan akhirnya Ranu dan Grati berhasil mengambil tongkat emas itu. Tapi Ki Lurah Pakis tidak mau menyerhkan mustika ular.

Bahkan Ki Lurah Pakis dan Ki Sronen malah saling berebut tongkat emas yang dikenal sakti itu. Grati kesal kemudian menancapkan tongkat emas itu di tanah. Ki Lurah Pakis dan Ki Sronen tak sanggup mencabutnya bahkan semua warga kampung yang ingin memiliki tongkat emas itu juga tak ada yang sanggup mencabutnya. Menurut Ki Ageng Bangil yang bisa mencabut hanya anak yang masih suci, berhati bersih dan berpikiran jernih, tanpa maksud untuk memilikinya. Akhirnya Ranu dan Grati bersedia mencabut tongkat emas itu asal diberikan mustikanya.

Akhirnya Ki Lurah Pakis memberikan mustika tersebut pada Grati. Ranu dan Grati berhasil mencabut tongkat emas itu dengan mudah. Tapi dari lobang bekas tancapan tongkat emas, memancar air beserta kepingan-kepingan emas. Warga pada berebut menghumpulkan kepingan emas itu, sementara Ki Lurah Pakis berebut tongkat dengan Ki Sronen. Ki Ageng Bangil segera membawa pergi Ranu dan Grati beserta sebagian warga yang mau mengungsi meninggalkan desa Pakis. Dalam waktu singkat muncratan air menjadi banjir bah yang dahsyat. Ki Lurah Pakis dan Ki Sronen yang berebut tongkat emas serta warga yang berebut mengumpulkan kepingan ikut tenggelam karena desa Pakis sudah berubah menjadi danau. Danau itu kemudian diberi nama Ranu Grati.

Source Legenda Danau Ranu Grati Pasuruan Teamtouring.net
Comments
Loading...