Legenda Canthik Kyai Rajamala

0 84

Legenda Canthik Kyai Rajamala 

Di dalam museum Radya Pustaka yang sekarang umurnya lebih dari satu abad itu, tersimpan banyak sekali peninggalan-peninggalan kuno seperti senjata-senjata kuno, wayang-wayang, artefak-artefak kuno, dan naskah-naskah kuno yang jumlahnya tidak kurang dari tiga ribu lembar.

Museum yang didirikan pada tanggal 28 Oktober 1890 (15 Mulud tahun Ehe 1820) dengan nama Paheman Radya Pustaka oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV Ngendraprasta, mempunyai suatu benda yang menarik untuk diteliti lebih dalam. Benda atau barang tersebut adalah sebuah canthik—pajangan yang berada di depan sebuah kapal—yang berbentuk sebuah kepala. Nama dari canthik tersebut adalah Kyai Rajamala.

Alkisah, pada suatu hari Raja Paku Buwono IV tengah bersedih hati karena permaisuri beliau, Ratu Kencana Wungu, tidak menampakkan kegembiraan seperti biasanya. Tentu saja, jika seorang ibu menunjukkan wajah bersungut­sungut, suasana di dalam rumah menjadi tidak bergairah. Keadaan ini berlangsung beberapa minggu sehingga raja pun putus asa. Karena sedih, Raja Paku Buwono IV sering tidak dapat tidur. Akan tetapi, pada suatu hari, selepas ayam berkokok pada pukul tiga pagi, raja terlena beberapa menit. Pada saat yang demikian singkat itu, raja merasa ditemui seorang tua yang arif dan bijaksana yang memerintahkannya untuk membuat sebuah perahu dengan canthik kepala Rajamala.

Lima menit terlena dalam mimpi, Raja Paku Buwono IV terbangun. Keesokan harinya, beliau segera membicarakan kemungkinan dibuatnya perahu dengan canthik kepala Rajamala.

Untuk melaksanakan gagasan itu, seorang tukang kayu dipanggil. la diutus untuk mencari kayu dari pohon jati di hutan Danalaya, di wilayah Wonogiri. Hutan Danalaya dianggap keramat oleh masyarakat Keraton Surakarta karena itu tidak ada orang yang berani mencuri. Konon pihak Perhutani juga tidak berani menebang sembarangan karena hutan Danalaya dianggap wingit. Diameter kayu-kayu dari hutan Danalaya saat itu besar-besar yang apabila dirangkul oleh dua orang tidak akan cukup, dan juga kayu-kayu tersebut berumur ratusan tahun.

Akan tetapi, tatkala pohon jati yang dimaksud akan ditebang, para penebang terserang penyakit. Ternyata, penyakit itu disebarkan oleh bocah bajang (anak kerdil yang memiliki tenaga gaib dan tidak dapat dilihat dengan mata biasa). Dengan berbagai upaya, akhirnya bocah bajang itu dapat dikalahkan. Pohon jati dapat ditebang dan pembuatan perahu serta canthik-nya dapat dimulai.

Adipati Anom Hamengkunagara (yang kelak menajdi Paku Buwana V), diperintahkan untuk memimpin dalam pengukiran canthik. Bersama para abdi dalem, Adipati Anom Hamengkunagara mengukir kayu arca tersebut. Akan tetapi, pada saat pengerjaan, banyak abdi dalem yang menderita sakit, bahkan ada di antaranya yang meninggal dunia.

Para abdi dalem merasa diganggu oleh makhluk halus penunggu bahan-bahan kayu jati yang digunakan untuk membuat patung kepala Rajamala tersebut. Raja Paku Buwono IV kemudian melakukan puasa dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dapat mengatasi makhluk halus penunggubahan kayu hingga pembuatan patung kepala Rajamala itu dapat diselesaikan.

Makhluk halus tersebut akhirnya dapat ditaklukkan oleh Raja Paku Buwono IV, akan tetapi para makhluk halus tersebut meminta syarat agar dibiarkan tetap hidup menguasai patung kepala tersebut dan berjanji tidak akan mengganggu lagi. Setelah peristiwa tersebut, pembuatan canthik berjalan lancar.

Akan tetapi, setiap hari Adipati Anom Hamengkunagara bertanya-tanya, untuk apa Raja Paku Buwono IV memerintahkan pembuatan perahu sebesar itu. la menduga, mungkin karena jengkel terhadap Ratu Kencana Wungu yang berasal dari Madura. Mungkin, permaisuri akan dikembalikan ke tempat asalnya. Dengan mengikuti arus Bengawan Solo, perahu Rajamala yang membawa Kencana Wungu akan sampai di pulau itu. Akan tetapi, jika hal ini dilaksanakan dapat berakibat buruk. Raja Madura akan tersinggung dan perang dapat meletus.

Oleh karena itu, Adipati Anom Hamengkunagara merasa perlu mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan paling buruk. Kepada seorang empu (pembuat keris) bernama Ki Brojoguna, Adipati Anom Hamengkunagara memerintahkan pembuatan sebilah keris panjang, kuat, dan sakti.

Perahu akhirnya selesai dibuat. Patung kepala tersebut berwujud kepala tokoh Rajamala sebagaimana digambarkan dalam pewayangan. Ketika pembuatan perahunya selesai, Raja Paku Buwono IV memerintahkan agar patung kepala Rajamala ditempatkan sebagai canthik pada ujung (haluan) perahu, akhirnya perahu berhias canthik kepala Rajamala itu diberi nama perahu Kyai Rajamala.

Saat perahu selesai, keris yang dibuat Ki Brojoguna juga selesai dibuat. Namun Adipati Anom Hamengkunagara terkejut karena perahu Rajamala ternyata bukan untuk mengembalikan Ratu Kencana Wungu, melainkan untuk hadiah pernikahan mereka. Di luar dugaan, ternyata perahu itu dibuat untuk Raja Paku Buwono IV berlayar bersama Ratu Kencana Wungu agar beliau tidak bersedih lagi.

Setelah mengetahui peristiwa luar biasa itu, Adipati Anom Hamengkunagara merasa menyesal. Dugaannya ternyata tidak benar sama sekali. Antara bayangan dan kejadian bertolak belakang. Tidak mengherankan jika hatinya sedih, bahkan pikirannya dibayangi ketakutan akan marahnya Raja Paku Buwono IV jika mengetahui semuanya itu. Akan tetapi, sebagai seorang ksatria yang terdidik bertindak jujur dan berhati bersih, Adipati Anom Hamengkunagara akhirnya menghadap Raja Paku Buwono IV dan menghaturkan semua yang sudah dilakukannya. la mengatakan, jika tindakannya dianggap salah, ia siap dihukum berat. Akan tetapi, Raja Paku Buwono IV malahan tersenyum, ditepuk­tepuknya bahu Adipati Anom Hamengkunagara sambil diberi pujian karena ia telah menjalankan tugasnya dengan baik dan berani melaporkan semua yang telah dilakukannya walaupun dengan risiko akan dihukum berat. Mulai saat itu, suasana keraton kembali ceria karena Ratu Kencana Wungu telah bergembira kembali. Rajamala sebagai simbol kedengkian dan kejahatan telah diubah menjadi penanda ketenteraman dan kasih sayang.

Source Legenda Canthik Kyai Rajamala  Sastra Indonesia
Comments
Loading...