Legenda Asal Usul Sendang Sani Pati

0 362

Legenda Asal Usul Sendang Sani Pati

Pada zaman dahulu kala, Sunan Bonang bersama dengan ketiga sekabatnya yang bernama Ki Dudho, Ki Ahmad, dan Kosim pergi ke Muria guna bertemu dengan para Sunan dalam artian untuk konsultasi. Di tengah perjalanan dan sudah waktunya untuk sholat dzuhur, Sunan Bonang dan ketiga sekabatnya hendak menunaikan sholat dzuhur, tapi tidak ada air untuk wudhu.

Sunan Bonang pun menyuruh dua sekabatnya, Ki Dudho dan Ki Ahmad untuk mencari air yang akan digunakan untuk wudhu. Maka, pergilah dua sekabat Sunan Bonang tersebut dengan membawa bumbung bambu bekas tempat minum yang digunakan dalam perjalanan. Pergilah Ki Dudho dan Ki Ahmad, di suatu tempat yang terdapat burung kuntul terbang melayang. Pikir Ki Dudho dan Ki Ahmad, di bawah/sekitar burung kuntul terbang melayang pasti ada sumber air. Dan saat Ki Dudho dan Ki Ahmad menengok, kebetulan memang terdapat sumber air.

Tanpa pikir panjang, Ki Dudho dan Ki Ahmad langsung mengambil air lalu dimasukkan ke dalam bumbung bambu tadi. Setelah mendapat air, Ki Dudho dan Ki Ahmad segera kembali ketempat Sunan Bonang. Namun, di tengah perjalanan, Ki Dudho merasa haus. Diminumlah air tadi sampai setengah bumbung. Lalu, Ki Dudho dan Ki Ahmad melanjutkan perjalanan. Setelah sampai di tempat Sunan Bonang, air tadi di berikan kepada  Sunan Bonang. Dan Sunan Bonang tidak mau menerima air tersebut, karena air itu adalah air sisa Ki Dudho. Sunan Bonang berkata bahwasannya beliau tidak mau menggunakan air tersebut untuk wudhu karena sudah diminum oleh Ki Dudho. Dalam tembung Jawa adalah NYISANI. Sunan Bonang juga berkata bahwa kelak kalau desa tersebut sudah ramai akan menjadi dukuh yang diberi nama Dukuh Sani (berasal dari kata ‘nyisani’).

Sunan Bonang pun melanjutkan perjalanan ke Muria. Namun Beliau hanya mengajak Kosim dan meninggalkan Ki Dudho dan Ki Ahmad di Dukuh Sani tadi. Sunan Bonang menancapkan tongkat dan berpesan kepada Ki Dudho dan Ki Ahmad untuk menjaga tongkat tersebut sampai Sunan Bonang kembali. Beliau berpesan kalau tongkat yang ditancapkan Sunan Bonang jangan dicabut sampai Sunan Bonang kembali dari Muria. Dan pergilah Sunan Bonang menuju Muria. Tetapi, ketika Sunan Bonang pergi, Ki Dudho tidak menjalankan pesan Sunan Bonang. Dicabutlah tongkat Sunan Bonang. Kebetulan saat tongkat dicabut, keluarlah sumber air yang besar dan jernih. Seketika Ki Dudho langsung masuk ke air berteriak-teriak kegirangan karena senang ada sumber air. Ki Ahmad yang mengetahui hal tersebut hanya menunggui Ki Dudho.

Ketika Ki Dudho baru menikmati sumber air tersebut, kebetulan saat itu Sunan Bonang kembali dari Muria dan datang ke Sani terkejut melihat ada sumber air sebesar itu. Lalu Sunan Bonang bertanya ke Ki Ahmad bahwasannya ada sumber air sebesar itu dari mana. Ki Amad menjawab kalau tongkat Sunan Bonang yang ditancapkan di Sani telah dicabut oleh Ki Dudho dan keluarlah sumber air yang besar. Sunan Bonang kembali bertanya dimana keberadaan Ki Dudho. Ki Ahmad menjawab kalau Ki Dudho berada di dalam air sedang berenang. Lalu Ki Dudho dipanggil Sunan Bonang. Beliau pun bertanya kepada Ki Dudho, kenapa Ki Dudho tidak mau keluar dari air.

Ki Dudho menjawab kalau dia tidak mau keluar dari air karena senang ada di sumber air sebesar dan sejernih itu, apalagi rasanya sejuk sekali. Dia merasa senang dan bangga. Lalu dia dipanggil Sunan Bonang lagi untuk meyakinkan kalau Ki Dudho benar-benar tidak mau keluar dari air. Jawaban Ki Dudho tetap tidak. Setelah itu, Ki Dudho merangkak ke dalam air. Sabda Sunan Bonang pada Ki Dudho “Kamu kok merangkak dalam air seperti bulus”. Dan jadilah sekabat Sunan Bonang yang bernama Ki Dudho menjadi bulus di dalam air. Sunan Bonang bersabda kalau besok nantinya bulus tersebut akan jadi keramat Sendang Sani tempatnya Ki Dudho yang jadi bulus. Lalu Sunan Bonang berencana kembali meneruskan perjalanan menuju Tuban.

Dan Beliau berpesan pada Ki Ahmad kalau Ki Ahmad disuruh menunggui/ menemani Ki Dudho yang sudah menjadi bulus. Ki Ahmad menjawab jika dia menunggui Ki Dudho, dia makan apa. Dan Sunan Bonang menjawab kalau besok tempat tersebut akan ramai dan banyak orang yang berkunjung. Serta orang-orang yang berkunjung dengan keinginan dan cita-cita yang mulia maka akan bersyukuran di Sendang Sani itu dengan membawa ayam ingkung dan nasi yang akan dikasihkan di Sendang Sani.

Termasuk orang yang mempunyai kepercayaan dan keyakinan kalau keinginannya terjadi, hanya Tuhan yang menguasai dan kebetulan cia-citanya terjadi di Sendang Sani. Lalu Ki Dudho makannya nasi bucem dan telur. Sedangkan Ki Ahmad mendapat upah dari orang-orang yang punya hajat. Dan Sunan Bonang selesai dengan sabdanya : 1. Jadi Dukuh Sani, 2. Keramat Sendang Sani. Akhirnya Sunan Bonang meneruskan perjalanan ke Tuban di temani Ki Kosim. Sedangkan Ki Dudho dan Ki Ahmad selalu bertempat di Sendang Sani. Di Sani, Ki Ahmad menjadi juru kunci/penjaga bulus di Sendang Sani. Itulah asal mula Dukuh Sani dan Sendang Sani.

Source http://naimashare.blogspot.co.id http://naimashare.blogspot.co.id/2013/01/sendangsani-tlogowungu-pati-jawa-tengah_17.html
Comments
Loading...