budayajawa.id

Legenda Asal Usul Desa Nangkasawit Purbalingga

0 59

Legenda Asal Usul Desa Nangkasawit Purbalingga

Sekitar abad ke-16, setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit berdiri sebuah kerajaan yang bernama Mataram. Seiring masa kekuasaanya, Raja Mataram memerintahkan para Musyafir untuk melanglang buana (melakukan perjalan) diseluruh tanah Jawa dalam rangka syiar Islam, salah satunya Musyafir yang bernama Jaka Mulya dan Emban Kepadangan beserta Istrinya. Dalam perjalanannya sampai disuatu kawasan yang masih  kosong belum ada penghuni dan masih berupa kawasan hutan belantara. Sampai sekarang kawasan tersebut masih ada dengan nama Dukuh Luwung dan kondisinya masih tetap sepi seperti dahulu.

Selanjutnnya Jaka Mulya, Emban Kepadangan dan Istri sampai di suatu tempat di tengah hutan dan beristirahat sambil berfikir, kemudian timbul inspirasi bahwa kawasan yang disinggahi sangat bagus untuk dihuni dan dijadikan sebuah Desa, sampai sekarang lokasi tersebut oleh warga disebut dukuh NDESA yang sekarang menjadi pusat pemerintahan desa. Setelah merasa cukup beristirahat, keesokan harinya Jaka Mulya, Emban Kepadangan dan Istri berjalan menyusuri seluruh kawasan hutan hingga akhirnya sampai disuatu lokasi tepi sungai, disinilah Jaka Mulya dan Emban Kepadangan beserta istri merasa telah menemukan tempat yang strategis untuk membangun Padepokan. Akhirnya dibangunalah sebuah Padepokan sebagai tempat Da’wah dalam rangka menyebaran Agama Islam. Di Padepokan inilah istri Jaka Mulya dan emban Kepandangan tutup usia dan dimakamkan di lokasi sekitar Padepokan,makam keduanya kemudian disebut PESAREHAN DEPOK. Makam tersebut hingga sekarang masih ada dan terawat dengan baik.

Setelah keinginan Jaka Mulya, Emban Kepadangan beserta istri membangun Padepokan terwujud, keberadaan padepokan tersebuat mulai terdengar oleh orang orang dari luar kawasan hutan sehingga warga berdatangan untuk membuktikan kebenaranya bahwa ditengah hutan telah berdiri sebuah Padepokan yang dibangun oleh sorang pendatang baru/Musyafir. Seiring berjalannya waktu kian hari makin banyak pengunjung yang berdatangan dari luar daerah, saat itulah Jaka Mulya, Emban Kepadangan dan Istrinya mulai melaksanakan kegiatan Da’wah tentang ajaran Agama Islam, ternyata para santri merasa betah untuk tetap tinggal di kawasan ini, selanjutnya Jaka Mulya, Emban.

Kepadangn beserta istri dan para santri mulai membenahi kawasan ini untuk dijadikan tempat tinggal permanen dan bercita cita membangun sebuah Desa. Guna memenuhi kebutuhan bahan makanan, para Santri Padepokan mencari bahan makanan ke Wana (Hutan) sebelah timur, hingga berhasil menemukan satu satunya pohon yang buahnya berbau harum dan belum diketahui namanya, kemudian warga berame rame saling berebut untuk mendapatkan buah tesebut, sehingga menimbulkan pertengkaran, sampai sekarang kawasan ini disebut warga dengan sebutan DUKUH WANARAME, kata tersebut berasal dari peristiwa para warga mencari bahan makanan dihutan secara beramai ramai dan saling berebut untuk mendapat buah yang telah ditemukan di Wana (hutan). Hal tersebut menyebabkan pertengkaran, satu diantara mereka yang bertengkar kemudian ada yang melapor kepada Jaka Mulya dan pada saat itu juga Jaka Mulya langsung mendatangi mereka yang sedang bertengkar kemdian mereka diajak  Pulang ke suatu tempat di Gunung Kidul (Indonesia: bukit selatan) untuk di damaikan, sehingga sekarang kawasan ini disebut DUKUH GUNUNG KIDUL.

Dilokasi perdamaian warga, kemudian Jaka Mulya beserta para santri membangun Pesanggrahan (Indonesia: Tempat tinggal dan tempat untuk melaksanakan segala kegiatan), sampai dengan akhir hidupnya Jaka Mulya tetap tinggal di Pesanggrahan yang telah dibangunnya, dan dimakamkan di area lokasi Pesanggrahan. Makam Jaka Mulya dan beberapa santri kepercayaan sampai sekarang masih ada dan dikenal oleh masyarakat luas dengan sebutan PESAREHAN KEMULIYAN, kata yang berasal dari peristiwa diajak pulang mereka yang bertengkar berebut buah sebagaimana diceriterakan diatas, karena berasal dari Nama Jaka Mulya dan berkat keberhasilannya mendamaikan warga untuk mencapai Kemuliyaan, kedamaian, hidup rukun, saling hormat menghormati satu sama lain.
Pesarehan Kemuliyan sampai sekarang masih ada dan terawat dengan baik serta dikeramatkan oleh warga setempat dan banyak dikunjungi para peziarah dari luar daerah yang diyakini mereka dapat membawa barokah atas Ridho Alloh SWT. Setelah tercapai perdamaian, warga dapat hidup rukun saling bahu membahu, sesuai inspirasi dan cita-cita menjadikan suatu Desa dikawasan yang telah dihuni selama bertahun-tahun, semua warga sepakat untuk membangun desa, tetapi masih bingung mengenai nama desa ini, kemudian timbul gagasan setelah mengingat peristiwa yang telah dialami yaitu peristiwa awal mulanya dapat menemukan (Minangka Lantaran Nemu, dalam bahasa Jawa) menemukan bahan makanan, yaitu menemukan buah yang hanya ada satu pohon (sa’wit atau se’wit, dalam bahasa jawa) yang ditemukan dihutan, sehingga Desa ini diberi nama DESA NANGKASAWIT, yang berasal dari rangkain kata minangka dan sawit.

Source https://katanakita.blogspot.com https://katanakita.blogspot.com/2017/06/nangkasawit.html
Comments
Loading...