Legenda Asal Usul Desa Kalimanggis Kaloran Temanggung

0 379

Legenda Asal Usul Desa Kalimanggis Kaloran Temanggung

Menurut sejarah, pada zaman dahulu Desa Kalimanggis dibuka sekitar tahun 1830–an. Saat itu masih hutan belantara yang belum bernama. Tokoh yang membuka Desa Kalimanggis adalah sepasang suami istri yang bernama Kyai dan Nyai Cononggo yang kala itu pelarian dari Ngayojokarto Hadiningrat. Setelah sampai di suatu tempat (sekarang bernama dusun Jurang), keduanya menetap dan membuat sebuah gubuk. Pasangan suami istri tersebut dikaruniai 3 orang putra dan 1 orang putri. Putra pertama bernama Sutoreko, kedua Grendiyoso, ketiga Gayong dan yang seorang putri bernama Giyuk.

Kala itu keluarga Ki Cononggo mengalami kekeringan dan berniat mencari sumber mata air. Kebetulan sesampainya di sebelas timur tempat tinggalnya ada rembesan air yang sangat kecil. Karena anak–anaknya merasa kehausan, oleh Ki Cononggo “Teken” yang dipegangnya ditancapkan di belahan batu padas dan seketika itu keluarlah air. Setelah beberapa lamanya teken tersebut malah tumbuh tunas–tunas dan lama kelamaan tumbuh besar. Suatu ketika pas musim berbuah pohon tersebut berbuah dengan lebatnya. Keempat anak Ki Cononggo sangat kepengin buah yang ada di pohon tersebut.

Kemudian oleh Ki Cononggo dipetikkan dan dimakanlah buah tersebut, ternyata rasanya manis seperti buah manggis. Oleh Ki Cononggo air yang keluar dari belahan batu padas tadi dibuatlah kali (pancuran). Kemudian kali (pancuran) yang dipinggirnya tumbuh pohon yang buahnya seperti buah manggis, maka oleh Ki Cononggo dan anak-anaknya daerah (wilayah) yang ditempatinya diberi nama “Kalimanggis“ (yang sekarang Dusun Jurang). Setelah semua dewasa dan mempunyai pasangan, masing–masing diberi tugas untuk membuka wilayah yang ada di wilayah Desa Kalimanggis kala itu.

Ki Sutoreko diserahi tugas untuk membuka suatu wilayah yang banyak ditumbuhi pohon pring (sekarang bernama dusun Pringkuda), Ki Grendiyoso diserahi tugas membuka suatu wilayah yang ada pohon preh (sekarang bernama dusun Ngepreh/Krajan), Ki Gayong diserahi tugas membuka wilayah yang banyak batu njlapar (sekarang bernama dusun Clapar), sedangkan Nyi Giyuk diserahi tugas membuka suatu wilayah yang sering kabut/nglamut (sekarang bernama dusun Lamuk).

Dari keempat pasang suami istri tersebut menurunkan keturunan yang banyak dan hidup di dusun masing–masing. Karena masyarakat hidupnya bertani, oleh Kyai Cononggo keempatnya diajak untuk membuat bendung dan salurannya dari wilayah Candi Garon Kecamatan Sumowono. Oleh beliau– beliau bendung tersebut diberi nama bendung Dung Anggrung (sekarang bernama Dam Walang kerek). Setelah bendung selesai dibuat, dilangsungkan membuat salurannya sampai sebuah sungai sekarang bernama kali madu.

Source http://tani-temanggung.blogspot.co.id http://tani-temanggung.blogspot.co.id/2017/04/legenda-desa-kali-manggis-kaloran.html
Comments
Loading...