Legenda Asal Mula Upacara Ritual Satu Suro Desa Traji Temanggung

0 490

Legenda Asal Mula Upacara Ritual Satu Suro Desa Traji Temanggung

Legenda upacara adat 1 sura desa Traji yaitu Kirab Pengantin dan pagelaran wayang bermula dari masyarakat desa Traji yang mendengar suara pagelaran wayang yang berasal dari Sendhang Sidhukun, tapi ketika dihampiri disana tidak ada apapun. Keesokkan harinya seseorang bertamu ke rumah kepala desa Traji yang menceritakan bahwa tadi malam orang tersebut melakukan pagelaran wayang di Sendhang Sidhukun. Orang tersebut bernama Ki Dalang Garu yang berasal dari Dusun Bringin Desa Tegalsari. Dalam ceritannya Ki Dalang Garu tidak merasakan tadi malam ditanggap oleh Danyang (makhluk halus) untuk melakukan pagelaran wayang di Sendang Sidukun sebab yang menyuruh seperti orang biasa.

Tempat yang digunakan untuk pagelaran wayang juga biasa tetapi tempatnya lebih baik dan penontonnya juga banyak, serta disekitarnya juga banyak deretan pedagang. Tetapi Ki Dalang Garu memiliki firasat yang aneh karena setelah selesainya pagelaran wayang tersebut, upah yang diberikan dari yang punya hajat kepada Ki Dalang Garu hanya berupa kunir satu Irik. Ki Dalang Garu merasa terharu dengan pemberian tersebut sehingga beliau hanya mengambil 3Rempang. 

Sepulangnya dari pagelaran wayang, Ki Dalang Garu diberi pesan oleh orang yang punya hajat tersebut agar tidak menoleh ke belakang selama tujuh langkah dari tempat pagelaran. Setelah tujuh langkah Ki Dalang Garu teringat bahwa Blencong(lampu untuk pagelaran wayang) miliknya tertinggal, kemudian beliau menoleh, dan tiba-tiba Blencong tersebut sudah tergantung di pohon beringin. Ki Dalang Garu dikejutkan lagi karena upah yang diberikan berupa kunir berubah menjadi emas 24 karat tapi itu semua yang menentukan adalah Allah SWT.

Setelah mendengar cerita dari Ki Dalang Garu, maka Bapak Kades mengambil kesimpulan dan menentukan bahwa setiap malam tanggal 1 Sura diadakan upacara ritual Sesaji Selamatan Sadranan Sendhang Sidhukun dan pagelaran wayang kulit. Cerita pada pagelaran wayang kulit mengambil lakon tentang Tambak yang bermakna untuk menambak hawa nafsu manusia menuju jalan kebenaran. Pada tahun 1964-an desa Traji yang terdiri dari 4 RW terjadi perselisihan. 2 RW ingin tetap melaksanakan pagelaran wayang, sedangkan 2 RW lain tidak ingin melaksanakan pagelaran wayang. Sehingga, dampak dari 2 RW yang tidak melakukan pagelaran wayang ekonominya turun dan kehidupan masyarakatnya buruk. Sebaliknya, 2 RW yang melaksanakan pagelaran wayang ekonominya naik dan kehidupan masyarakatnya baik.

Source http://trajipunyatradisi.blogspot.co.id http://trajipunyatradisi.blogspot.co.id/2015/11/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html
Comments
Loading...