Ledek Wonogiri

0 227

Ledek

Pada zaman dahulu, dikisahkan terkait dengan lahirnya tradisi dan atau ritual Ledek yang ada di Dusun Tanjung, Eromoko, Wonogiri. Sejarah ledek ini berawal dari lahirnya seorang Dayang yang bernama Denuh, Gadung Melathi, Bendo Gilir yakni orang yang pertama kali yang lahir dan tinggal di dusun tersebut. Mereka dijanji harus mau menjadi dayang di desa itu, akan tetapi mereka menolak kecuali dengan berbagai syarat yang harus di penuhi.

Suatu ketika dayang-dayang tersebut bermain-main di suatu tempat yang berada di Tanjung itu, sesuai syarat yang diminta mereka harus dipenuhi, syarat-syarat tersebut diantaranya : kitiran, sempritan, klopo disunduki, bedil-bedilan, panah-panahan, dan juga godongan. Suatu hari mereka melakukan sebuah kegiatan atau bermain yang belum pernah dilakukan sebelumnya, permainan itu ialah tari-menari yang disebut ledekan. Kegiatan yang dilakukan oleh dayang tersebut ke belakangnya disebut dengan tradisi ritual Ledek.

Tradisi Ledek ini dilaksanakan oleh warga masyarakat sekali dalam setahun. Adapun jadwal dan hari dalam pelaksanaan tradisi Ledek ini sesuai dengan kesepakatan masyarakat Dusun Tanjung melalui musyawarah kampung. Selama ini, tradisi ini dilaksanakan berdasarkan kesepakatan masyarakat Dusun Tanjung setelah mereka melaksanakan musim panen. Oleh warga masyarakat Dusun Tanjung pun musim panen yang dipilih untuk melaksanakan tradisi ritual Ledek tersebut adalah musim panen pada waktu kemarau. Hal ini semata-mata bertujuan agar dalam melaksanakan tradisi ritual Ledek ini tidak terganggu oleh hujan ataupun kendala lain yang datangnya dari alam. Terkait dengan pemilihan hari, tidak ada masyarakat yang memiliki pandangan fanatisme khusus akan adanya hari keramat atau hari suci. Dalam penentuan dan pemilihan hari dilaksanakannya ritual Ledek ini, bagi mereka cukuplah hari yang tidak wasringkel (dianggap membawa petaka).

Pelaksanaan tradisi Ledek kurang lebih 2 atau 3 hari sudah siap-siap untuk melaksanakan kerja bakti mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan pokok yang sifatnya harus bersama, ketika hari H upacara ledekan, terutama panitia yang bertugas sebagai korlap (koordinator lapangan) harus siap di tempat pertunjukan Ledek. Setelah semuanya sudah siap, acara dimulai sore hari kira-kira jam 16.00 WIB dengan genduri (genduren) yang diikuti perwakilan dari setiap kepala keluarga dusun tanjung. Mereka sudah membawa ubo rampe dari rumah masing-masing. Sampai di tempat genduri, juru kunci mengikrarkan doa. Warga masyarakat hanya mengamini apa yang menjadi doa sang juru kunci itu. Selesai prosesi genduri, acara selanjutnya adalah kembulan (makan bersama dan saling tukar-menukar ubo rampe yang berupa makanan).

Setelah acara yang pertama kemudian dilanjutkan acara inti. Inti acara pertunjukan Ledek memerankan dayang-dayang yang bernama Denuh, Gadung Melathi, Bendo Gilir, dan parogo yang lain mengiringi dengan gamelan, dan kendang. Warga masyarakat ada yang ngibing dan nyawer sampai mereka capek dan uang saweran mereka habis. Hal semacam ini semata-mata hanya untuk memeriahkan acara tradisi Ledek, karena jika tidak diselingi dengan ngibing, nyawer acara ini terkesan membosankan dan monoton, sebab hanya melihat orang menari saja.

Disisi lain juru kunci dan kasepuhan yang lain sibuk mengurusi sesaji yang disiapkan untuk yang dituju mbau rekso dusun itu, mereka bertugas dibelakang panggung dan menunggu sesaji itu hingga berakirnya acara ledekan. Acara puncak ini biasanya dilaksanakan sampai larut malam kira-kira pukul 00.00-01.00 WIB pada dasarnya sesuai kemampuan parogo yang memerankan dayang-dayang itu.mampu sampai fajar pun mereka di turuti. Pelaksanaan tradisi Ledek ini biasanya bertempat di rumah bapak dukuh atau rumah juru kunci, karena di Dusun Tanjung belum mempunyai balai dusun sehingga menggunakan dua lokasi itu untuk dijadikan tempat pergelaran tradisi Ledek.

Jika mereka melaksanakan di balai desa ada pihak yang tidak sepakat dengan menganggap Ledek dijadikan tradisi, selain itu tempat yang jauh dari Dusun Tanjung. Pada pelaksanaan acara ini hanya tempatnya saja yang bisa berpindah-pindah karena menyesuaikan situasi kondisi di dusun tersebut, dalam hal sesaji (ubo rampe) sebagian harus di sajikan pada tempat yang dianggap sakral (resan).

Dalam pelaksanaan tradisi Ledek ada beberapa ubo rampe yang perlu di mengerti. Yang dimaksud dengan “ubo rampe” adalah suatu benda atau hal-hal yang harus dipenuhi sebelum melaksanakan sebuah tradisi atau ritual yang tentu saja dalam hal ini adalah tradisi Ledek. Pertama, ubo rampe belakang. Ubo rampe ini diletakkan atau di sajikan pada tempat sakral. Bagian belakang terdiri dari panggang, kitiran, sempritan, klopo disunduki, bedil-bedilan, panah-panahan, godongan, tumpeng robyong, kembang atau gondo arum, jajanan pasar, dan kain hijau. Kedua, ubo rampe depan yang terdiri dari ingkung, tumpeng robyong jenang abang, jenang baro-baro, gudangan, apem, godong pace dan turi.

Alangkah baiknya tradisi Ledek dilestarikan sesuai prosedur yang ada. Dengan melestarikan tradisi tersebut Indonesia akan lebih kaya akan kebudayaan. Bukan hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi generasi penerusnya. Tradisi Ledek harus dilestarikan dan juga diperkenalakan sehingga tidak lagi menjadi tradisi atau budaya yang aneh jika dipertontonkan.

Source https://budaya-indonesia.org/ https://budaya-indonesia.org/Ledek/
Comments
Loading...