Latar Historis Keboa, Ritus Magis Masyarakat Using Aliyan

0 89

Latar Historis Keboa, Ritus Magis Masyarakat Using Aliyan

Narasi historis tradisi Keboan cukup mudah dilacak. Selain sumber tertulis yang cukup banyak, hikayat tradisi ini masih ditransmisikan melalui lisan dari mulut ke mulut secara turun-temurun bersamaan dengan pagelaran ritusnya. Tradisi ini dilatarbelakangi oleh satu kondisi yang mengkhawatirkan akibat musibah yang mereka alami yang sudah berlangsung bertahun-tahun pada kisaran abad ke-18. Hama menyerang lahan pertanian sehingga tanaman mereka rusak dan terkadang sampai gagal panen. Bahkan di desa Alas Malang, malapetaka itu tidak hanya menyerang tanaman, tetapi juga menjadi wabah penyakit bagi masyarakatnya.

Menyikapi hal itu, sesepuh masyarakat Aliyan, Buyut Wongso Kenongo, melakukan meditasi. Dari proses meditasi itu, Sang Buyut mendapat wangsit agar anaknya, Joko Pekik, ikut serta bersamanya melakukan hal yang serupa. Namun tak disangka, Pekik malah kesurupan dan berguling-guling di lumpur layaknya kerbau. Ajaibnya, setelah kejadian itu, penyakit yang menimpa tanaman mereka lenyap seketika. Maka dari kejadian historis itu, sesepuh desa bersama masyarakat Using mulai menggelar ritus Keboan.

Ritus yang pada awalnya dimaksudkan sebagai bentuk upaya menghilangkan hama tanaman dan sebagai perayaan atas hasil panen mereka yang melimpah, lambat laun dimaksudkan juga sebagai sesuatu tindakan yang sifatnya preventif (pencegahan), yaitu untuk tetap menjaga keselamatan dan menangkal marabahaya yang acap kali mengintai mereka.

Uniknya, orang-orang yang akan didandani mirip kerbau bukan orang-orang sembarangan. Biasanya yang bertubuh tambun. Namun, tambun saja tidak cukup. Sebab di desa Aliyan, para leluhurlah yang memilih mereka. Yang terpilih tidak punya pilihan lain. Begitu para leluhur merasuki tubuh, mereka menjadi kesurupan dan bertingkah layaknya kerbau.

Kalau dilihat dari jumlah pemainnya, ritus Keboan sangat lentur, bisa banyak atau sedikit. Hal ini berbeda dengan tradisi serupa Kebo-keboan, tradisi serupa yang dilakukan oleh masyarakat Desa Alas Malang yang jumlahnya sudah ditetapkan, yaitu sekitar 18 orang. Tampaknya jumlah peserta yang tidak tetap dalam tradisi Keboan Desa Aliyan disebabkan karena jumlah orang yang kesurupan dan bertingkah layaknya kerbau tergantung dari “kehendak” para leluhur.

Source https://1001indonesia.net/ https://1001indonesia.net/keboan-ritus-magis-masyarakat-using-aliyan/
Comments
Loading...