Larung Sesaji Papuma, Tradisi Masyarakat Jember

0 118

Larung Sesaji Papuma, Tradisi Masyarakat Jember

Ini acara ritual tahunan. Namanya larung sesaji, digelar di Pantai Pasir Putih Malikan (Papuma). Ada keriuhan, ditingkahi wangi asap dupa, kemenyan. Sepotong kepala kambing dil- etakkan di atas miniatur kapal dan diarak bersama-sama menuju samudera. Para pengaraknya memakai pakaian adat Jawa, dengan iringan reog Singo Budoyo. Mereka memasuki pekarangan vihara, dan berhenti di salah satu ceruk tempat sesaji.

Ini Vihara Dewi Sri Wulan. Warnya didominasi merah, dengan menara bundar berkisi-kisi emas menjulang tinggi. Dalam ceruk, seekor singa dan bangau berdiri. Vihara ini konon dulu hanya sebuah gubuk kecil. Seorang dermawan yang tak  ingin dikenal membantu mempermegah vihara itu.

Lebih dari 30 orang bekerjasa- ma membangun vihara tersebut selama setahun. Vihara itu disebut-sebut sebagai Vihara Dewi Kwan Im terbesar dan satu- satunya yang menghadap laut selatan. Tak ada vihara lain yang memiliki keuni­kan ini. Satu-satunya di Asia Tenggara. Banyak orang yang datang dan beribadah di sini dan memberikan pemasukan yang besar. Bahkan ada pula turis manca neg­ara seperti Jerman, Iran, Israel dan Cina yang datang ke sini.

Di ceruk vihara itu, doa dilantunkan untuk sesaji, sebelum dibawa ke pantai. Di tengah pantai Papuma, sejumlah sesepuh dan pemimpin vihara men­dorong ‘kapal’ sesaji itu ke tengah laut. Sesaji itu adalah perwujudan rasa syukur masyarakat nelayan di selatan Jember, atas melimpahnya panen ikan tahun ini. Mereka berharap, panen ikan terjadi sepanjang tahun. Selamanya.

Larung sesaji juga lukisan harmoni masyarakat Jember selatan. Seniman, jag- awana, polisi, tokoh adat, tokoh agama, dan penjaga vihara, tumplek blek. Tahun lalu, barongsai menjadi seni tradisi yang dimainkan. Tahun ini, reog menjadi pi­lihan. Malam sebelumnya, wayang kulit sudah digelar, mendahului acara larung di siang itu.

Bagi sebagian kalangan, larung sesaji adalah perpaduan atau sinkretisme se­jumlah elemen agama: Islam, kejawen, Konghucu. Acara ini sudah lima kali digelar selama lima tahun terakhir.

Da­lam perkembangannya semakin banyak masyarakat dan wisatawan yang tertarik pada upacara ini. Tentu saja, ini aset wisata budaya yang unik dan menarik. Tak hanya mempromosikan keindahan, tapi juga makna kedamaian sebuah perbedaan dalam masyarakat yang be­ragam.

Source http://jawatimuran.net http://jawatimuran.net/2012/10/29/larung-sesaji-papuma-tradisi-masyarakat-jember/
Comments
Loading...