Langendriyan, Damar Wulan Kantaka Pakarti Surakarta

0 23

Langendriyan, Damar Wulan Kantaka merupakan sebuah kesenian Jawa yang berbentuk dramatari atau lebih di kenal dengan opera Jawa yang menceritakan tentang Prabu Menak Jinggo dari Kerajaan Blambangan yang berperang dengan Raden Damar Wulan yang merupakan Senopati  utusan dari kerajaan Majapahit. Dalam peperangan tersebut akhirnya dimenangkan oleh Prabu Menak Jinggo. Langendriyan berasal dari bahasa sansekerta, lango dalam bahasa Jawa menjadi langen yang mempunyai arti sengsem atau tertarik, menarik, mempesona, sedangkan driyan berarti hati.

Langendriyan dengan lakon  Damar Wulan Kantaka merupakan sebuah bentuk kesenian yang sangat jarang sekali ditampilkan sekarang ini. Bentuk pertunjukannya sangat unik, dimana semua dialog yang ditampilkan pemainnya menggunakan tembang macapat tengahan secara bergantian maupun individu. Gaya penampilan langendriyan di bedakan 2 yaitu gaya Yogyakarta dan gaya Surakarta. Langendriyan gaya Yogyakarta sering disebut dengan Joged jengkeng, dimana posisi setiap pemainnya dalam membawakan perannya selalu jongkok berlutut yang dalam bahasa Jawa disebut dengan Jengkeng.

Gaya Langendriyan Yogyakarta diciptakan oleh KGPA Mangkubumi putra Sri Sultan KB VI yang ide ceritanya bisanya diambilkan dari serat Damarwulan yang mana penarinya merupakan campuran putra dan putri. Kali ini Langendriyan, Damar Wulan Kantaka menggunakan Gaya Surakarta yang mana kesenian ini tumbuh di Pura Mangkunegaran pada masa KGPAA Mangkunegaran IV (1853-1881). Langendriyan di Pura Mangkunegaran menurut RM. Sayid diciptakan oleh RMH Tandhakusuma (menantu Mangkunegara IV) pada tahun 1881.

Langendriyan pada era Mangkunegara selalu berpijak dari cerita penobatan Sri Subasiti Brakusuma sebagai raja putri di Majapahit dan bertolak dari cerita babad klitik. Kesenian ini berkembang di luar tembok kraton pada tahun 1970 an. Bentuk Langendriyan ini dalam cerita pertunjukannya diduga kuat mempunyai hubungannya dengan kemunculan wayang orang pada jaman Mangkunegara I berkuasa. Hal ini dapat dilihat dari bentuk riasan, busana, gerak dan iringannya. Yang selama ini mengacu dari tari tradisi yang ada di Surakarta yang dikembangkan.

Pentas yang indah dalam bentuk irama tembang yang sangat dominan dapat menutupi kekurangan atau kelemahan dialog antar pemainnya. Tembang macapat memiliki kandungan makna yang sangat dalam dalam seteiap pementasan, selain gerak tubuh para pemainnya. Gerak tubuh mulai dari kepala, badan tangan, kaki memiliki kekuatan tersendiri. Kekuatan gerak itu dalam bentuk ekspresi yang lebih ke “rasa” yang dapat diamati dalam penghayatan setiap peran yang ditampilkan secara serius (laksman dalam kunjana Rahardi , 2002). Kekuatan ini memberikan kontribusi yang sangat jelas di dalam terjadinya komunikasi yang sangat efektif dan menarik. Budaya Kraton banyak dijadikan sebagai acuan di dalam masyarakat Jawa yang tercermin dalam seni kerawitan, seni pedalangan dan seni tari, yang kesemuanya itu menggunakan media sastra Jawa yang sangat erat dengan unggah-ungguh bahasa (tata cara bahasa), strata sosial, kesopanan yang sangat efektif dan komunikatif

Source https://myimage.id https://myimage.id/langendriyan-damar-wulan-kantaka/

Leave A Reply

Your email address will not be published.