Lakon Cerita pada Kesenian Jemblung

0 58

Lakon Cerita pada Kesenian Jemblung

Untuk lakon cerita yang disajikan tidak ubahnya seperti cerita Wayang lainnya. Sebab, Jemblung merupakan akulturasi antara Wayang dengan agama Islam. Jadi masih terdapat pengaruh Hindu dengan Agama Islam. Sehingga lakon dalam Jemblung seperti cerita Wayang pada umumnya, dalam Jemblung Banyumasan sering juga mengambil cerita menak atau golek menak yang sering disebut Babat Menak atau Serat Menak.

Ceritanya banyak menyangkut masalah penyebaran agama Islam antara lain cerita yang sangat populer ialah cerita : Wong Agung Minak serta Serat minak. Cerita serat Minak sering dimainkan oleh wayang golek. Cerita Menak juga dimainkan oleh wayang Tingul. Dengan cerita dan tokoh yang terkenal Amir Hamzah dan Umar Maya. Dalam Jemblung pun tokoh yang terkenal disebut disebut Umar Maya dan Umar Madi.

Tidak menutup kemungkinan cerita yang dihidangkan dapat berupa cerita rakyat daerah Banyumas atau cerita Panji yang terkenal. Kesenian Jemblung sebagai sebuah produk budaya, juga mengalami difusi atau penyebaran ke daerah lain dan terus mengalami perkembangan sampai sekarang. Penyebaran Jemblung ke daerah lain sampai daerah Kediri.

Kediri yang dulunya sebagai pusat kebudayaan dengan kerajaan Dhohonya sebenarnya juga mempunyai kesenian tradisional yaitu Jaranan, namun pengaruh Jemblung juga sampai ke Kediri. Untuk Jemblung di Kediri berbeda dengan Jemblung yang berada di Banyumas. Ketika dipentaskan kesenian ini seperti pertunjukan wayang kulit biasa tetapi bedanya Jemblung tidak ada perantara wayangnya hanya berupa suara mulut saja.

Hal itu ada pada pementasan Jemblung Putra Budaya yang menampilkan 10 pemain, 7 orang bertugas memainkan alat musik. Ketujuh alat musik yang dimainkan ialah Gendang, Terbang ,Ketuk, Kenong, Dimplung, Tengeruh, dan Jidor. 2 orang bertugas sebagai dalang. Ada dalang cerita dan dalang shalawat, Dalang cerita berfungsi menceritakan jalannya cerita dalam lakon Jemblung.

Sementara dalang shalawat hanya berfungsi melantunkan shalawat pada sela-sela pementasan Jemblung. Sementara 1 pemain terakhir ialah Sinden wanita, menurut Sujiman selaku Dalang sekaligus pimpinan Jemblung Putra Budaya adanya Sinden pada pementasan kali ini hanya sebagai penyegaran saja agar penonton tidak jenuh ketika menyaksikan Jemblung. Ketika pementasan Jemblung dalang dan para pemain yang lain duduk bersila. Dalang selalu berparikan (berpantun) dalam menyampaikan lakon Jemblung. Awal pementasan diisi dengan Shalawat dan memuji Rasulullah. Lakon yang disampaikan ialah tentang Saudagar Dul Jalal dan Peksi Cucak Ijo (Observasi, 7 Mei 2009).

Source http://maniakediri.blogspot.co.id http://maniakediri.blogspot.co.id/2009/07/kesenian-jemblung-salah-satu-kesenian.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.