Laesan, Kesenian Lasem Yang Mulai Terlupakan

0 66

Laesan adalah suatu kesenian kuno rakyat Lasem.  Syair pembuka yang ditembangkan di awal pertunjukan laesan, menunjukkan bahwa laesan  lahir saat jaman awal islam.

Laesan berarti hampa yang diterjemahkan dalam lakon yang terlihat kosong seperti terhipnotis dan bergerak berdasarkan harmonisasi tembang yang dilantunkan. Semakin harmonis tembang mengalun, semakin lama laesan dapat bangkit dan menari namun bila penembang tidak harmonis atau fals, laesan dapat kehilangan jiwa, berhenti menari dan terkulai lemas. Laesan di Lasem dimainkan oleh seluruhnya para laki laki, dari penabuh alat musik, penembang, hingga lakon laesan. Inilah salah satu yang membedakan laesan dengan sintren yang merupakan kesenian rakyat Cirebon, Jawa Barat.

Sepanjang pertunjukan laesan, selalu disenandungkan tembang yang setiap syair kunonya mempunyai filosofi kehidupan, diantara syair pembuka tersebut menyebut nama Allah & Rosul, mengingatkan bahwa dalam hal apapun kita harus selalu ingat kepada Sang Pencipta.

Gambaran Kesenian Laesan

Tahap pertama adalah pembukaan. Konon, pada bagian ini disebut dengan “Ela-Elo” karena kata-kata itulah yang ditembangkan pada fase pertama. Namun seiring dengan masuknya syiar ajaran Islam di Lasem, hingga saat ini, kata-katanya dirubah dengan lafal tahlil, “Laa Ila Ha ‘illallah” yang berarti tiada Tuhan selain Allah. Si penari hanya duduk terdiam sambil terpejam di dalam kurungan tengah-tengah arena. Setelah beberapa menit baru kemudian penari mulai diikat dengan tali/selendang. Penari mulai menari dengan gemulainya. Pada fase inilah sang penari mulai merasakan trans, yaitu sebuah kondisi antara sadar dan tidak. Diiringi tembang “Uculana Banda Nira” yang artinya lepaskanlah ikatan ku ini.

Tahap ketiga adalah permainan. Dalam kondisi  setengah sadar, si penari seolah-olah bermain dengan sesuatu yang tak kasat mata. Penonton yang mengerubungi pertunjukan seolah terbius oleh alunan musik dan gerakan penari. Pada jaman penjajahan Belanda, tembang jawa yang dilantunkan merupakan modifikasi kalimat-kalimat kode untuk terus mengobarkan semangat perjuangan. Cara ini dianggap aman karena Belanda tidak mengetahui arti dari kalimat-kalimat yang dilantunkan.

Pada tahap ke empat, si penari biasanya sudah terlihat lemas kecapekan. Langkah tariannya mulai gontai. Saatnya penyembuhan, pemulihan kesadaran, yang akan dibaringkan oleh sang pawang dan dibisiki mantra. Sang penari pun terdiam lemas dengan mata terpejam.

Sebagai penutupnya, penembang membawakan tembang lorotan/kelayungan. Makna dari tembang ini adalah bahwa semua yang hidup akan kembali kepada sebuah kematian. Tahap ini menjadi saat-saat paling sakral dalam pertunjukan Laesan. Tergambar bagaimana ketakutan seseorang dalam menghadapi sakaratul maut. Namun dalam lirik penutup juga tersirat pesan moral agar kita selalu ingat Tuhan, sehingga mendapatkan akhir hidup yang khusnul khotimah/dalam keadaan baik.

Source Laesan, Kesenian Lasem Yang Mulai Terlupakan Laesan, Kesenian Lasem Yang Mulai Terlupakan Laesan, Kesenian Lasem Yang Mulai Terlupakan

Leave A Reply

Your email address will not be published.