“Labuh Sesaji” Ritual Kota Magetan Di Bulan Syakban

0 97

Ritual Larung sesaji Telaga Sarangan di Magetan, Jawa Timur sudah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu bahkan diperkirakan sudah sejak 508 tahun sebelum masehi. Ini adalah upacara syukur kepada Yang Maha Kuasa dari masyarakat yang tinggal di sekitar telaga sarangan. Telaga Sarangan merupakan objek wisata berupa telaga yang dikelilingi oleh pasar wisata sarangan. Telaga Sarangan terletak dilereng Gunung Lawu. Tepatnya di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Selain kondisi suhu udara yang dingin dan nyaman, Telaga Sarangan juga merupakan peninggalan alam yang masih sakral hingga saat ini.

 

Pelaksanaan Ritual

Ritual Labuhan atau Ritual Larung sesaji telaga sarangan ini dilaksanakan setiap bulan syakban tepatnya hari jum’at pon sampai minggu kliwon. Untuk upacara sakral atau slamatan dari warga sarangan itu sendiri dilakukan pada hari jum’at pon. Untuk sabtu sampai minggu kliwon ritual ini diadakan oleh Pemda Magetan yang disaksikan oleh seluruh warga.

Perlengkapan labuhan ini dibedakan menjadi 2 bagian, yang pertama untuk warga sarangan itu sendiri yang dilakuakan pada hari jum’at pon sedangkan hari sabtu sampai minggu kliwon dilakukan oleh pemda sarangan. Untuk perlengkapan pada hari jum’at pon berbeda dengan hari sabtu sampai minggu kliwon. Untuk hari jum’at pon itu sendiri perlengkapan yang dibutuhkan yaitu, Tumpeng asli, Ayam panggang, Pisang setangkap (pisang ini harus tergolong pisang raja dan ambon), Budak ripeh (budak ripeh ini adalah sejenis jadah putih, kuning) Jadah ripeh ini bermula dari kusumaning Dewi Nawang Wulan dan Joko Tarub, Jajan pasar, Jenang moncowarno (jenang 5 warna)

Sedangkan pada hari sabtu sampai minggu kliwon perlengkapan yang dibutuhkan yaitu, Tumpeng Gonobahu setinggi 2 meter. Dalam tumpeng tersebut terdapat ayam tulak (ayam hitam yang bulu sayapnya terdapat 1 warna putih), Uluwatu bumi (Buah-buahan, sayur mayur, palawija).

Prosesi Upacara Larung Sesaji

Prosesi Ritual Larung Sesaji Telaga Sarangan diawali dengan kirab Tumpeng Gono Bahu dari Kelurahan Sarangan menuju panggung di pinggir Telaga Sarangan. Pemberangkatan dimulai dari Balai Kelurahan Sarangan jam 10 pagi menuju telaga sarangan, kurang lebih 500 meter dari Telaga Sarangan. Dalam perjalanan dari Balai Kelurahan Sarangan, peserta yang membawa sesaji dilakukan dengan berjalan kaki kecuali, empat pasukan berkuda dengan naik kuda. Semua sesaji dibawa dengan berjalan kaki, orang jawa menyebutnya dengan kata “Dipikul”.

Masing-masing sesaji dipikul oleh kurang lebih 4 orang, sebab ukuran dari sesaji yang lumayan besar dan berat. Iring-iringan kirab diawali dengan pasukan berkuda 4 sampai 8 orang (arak-arakan), cucuk lampah 1 orang, sesepuh adat, kepala kelurahan beserta ibu, barisan domas dari seluruh SMA magetan 50 perserta (pria wanita), prajurit (warga setempat), kejawen 40 orang (pria), bonang renteng (musik gamelan). Upacara Labuh Sesaji dipusatkan di punden desa tepatnya sebelah timur telaga, di tempat inilah para pejabat Kabupaten, Muspika, para perangkat desa, sesepuh, dan tokoh masyarakat serta para warga masyarakat berkumpul untuk mengadakan sesaji. Dalam ritual ini terdapat tumpeng raksasa yang di larung atau dihanyutkan ke dalam Telaga, sebagai bentuk persembahan. Masyarakat sekitar percaya bahwa bila mereka tidak melakukan ritual tahunan ini maka akan terjadi sesuatu yang buruk pada mereka.

Source "Labuh Sesaji" Ritual Kota Magetan Di Bulan Syakban "Labuh Sesaji" Ritual Kota Magetan Di Bulan Syakban "Labuh Sesaji" Ritual Kota Magetan Di Bulan Syakban
Comments
Loading...