Kyai Ageng Singoprono

0 217

Kyai Ageng Singoprono

Gunung Tugel adalah tempat bersemayamnya Kyai Singoprono yang terletak di daerah Nglembu Kecamatan Sambi Kabupaten Boyolali. Kyai Singoprono adalah putra dari kyai Ageng Wongsoprono II yang berdiam di daerah Desa Manglen, sekarang Desa Manglen adalah Kelurahan Walen Kecamatan Simo Boyolali. Beliau adalah Putra Raden Djoko Dandun (Syaikh Bela Belu) Putra Raja Majapahit ( Brawijaya V) .

Kyai Singoprono adalah anak tunggal, kyai Singoprono mempunyai istri bernama Tasik wulan, mereka tetap tinggal di daerah tersebut, kyai Singoprono adalah sosok yang berbudi luhur, suka menolong dan sakti mandraguna, pekerjaan nya adalah bercocok tanam, berjualan nasi dan dawet dipinggir jalan ± 4 km dari rumahnya. Sifat baik hatinya terlihat apabila ada orang yang membutuhkan pertolongan, pasti beliau akan menolong, makanan yang dijualpun tidak sekedar di jual, tetapi juga diberikan kepada orang yang membutuhkan, walaupun demikian tak membuat beliau gulung tikar, begitu pula dengan hasil bercocok tanam nya pun melimpah ruah. Sehingga banyak orang yang datang untuk meminta kepada Kyai Singoprono. Kyai Singoprono pun memberi tanpa mengharapkan kembali atas apa yang sudah diberikan

Demikianlah kebaikan Kyai Singoprono tersebar sampai di seluruh daerah sekitar, tetapi ada yang tidak suka atas kebaikan dan kemurahan hati Kyai Singoprono karena disanjung-sanjung dan terkenal ke dermawannanya sampai keseluruh daerah sekitar. Yang tidak suka Kyai Singoprono adalah Kyai Rogo runting, Kyai Rogo Runting iri dengan keberhasilan Kyai Singoprono, sebenarnya mereka berdua adalah sahabat baik.

Pada suatu saat Kyai Rogo Runting ingin menunjukkan kekuatannya kepada Kyai singoprono, dengan cara mengaitkan benang dari pegunungan Rogo Runting ke selatan ( sekarang kelurahan Nglembu, kecamatan Sambi Boyolali ) diatas benang dililitkan sebutir telur, kemudian itu digulirkan di atas benang tersebut dan ajaibnya telur tersebut tidak jatuh, telur tersebut terus menggelinding diatas benang, lalu telur tersebut akhirnya membentur gunung sebelah selatan. Sehingga terdengar suara keras dan menggelegar dan mengakibatkan gunung tersebut tugel / putus puncaknya.

Sehingga gunung tersebut dinamakan Gunung Tugel, nama itu masih terkenal sampai sekarang. Secara tidak langsung kejadian tersebut sebagai alat untuk menunjukkan kesaktian Kyai Rogo runting kepada Kyai Singoprono, namun Kyai Singoprono tidak tergerak hatinya untuk membalas perbuatan Kyai Rogo runting tersebut.

Namun setelah di diamkan Kyai Rogo Runting semakin menjadi-jadi, kemudian secara halus Kyai Singoprono mengiyakan hal tersebut. Maksudnya menanggapi  Kyai rogo runting, tetapi Kyai Rogo runting mengaggap hal tersebut sebagai balasan dari Kyai Singoprono. Kyai singoprono pun akhirnya marah, beliau menggunakan cara yang sama untuk membalas Kyai Rogo Runting, dengan cara mengaitkan benang dari pegunungan tugel ke utara, di atas benang juga diletakkan sebuah telur, kemudian telur tersebut menggelinding tanpa terjatuh dan akhirnya membentur pegunungan Rogo runting, sehingga mengeluarkan suara keras dan menggelegar, tetapi kejadian tersebut tidak mengakibatkan gunung tersebut rusak. Namun Kyai Rogo Runting tubuhnya tercerai berai atau tubuhnya terontang- anting. Jasad Kyai Rogo Runting kemudian dimakam kan di daerah perbatasan kecamatan Klego dan kecamatan Simo yang dikenal sebagai Pegunungan Rogo Runting.

Hati Kyai Singoprono yang begitu baik memberikan kesan bagi penduduk setempat bahwa mungkin Kyai itu sebenarnya salah seorang Wali. Pembicaraan demikian makin meluas sehingga wilayah tempat tinggal Kyai Singoprono  sampai sekarang disebut Walen.

Kesaktian dan kebaikan hati Kyai Singoprono tersebar luas ke mana-mana sehingga Sultan Bintara di Demak pun tertarik mendengar cerita punggawa tentang Kyai itu. Tidak mengherankan jika Bintara ingin mengunjungi Kyai Singoprono  untuk membukti­kan seberapa jauh kesaktian Kyai  itu.

Agar kedatangannya tidak mencurigakan, Sultan Bintara menyamar sebagai pengemis. Ketika tiba di depan rumah Kyai Singoprono, pada saat Sultan datang Kyai Singoprono sedang menjalankan Sholat di pelepah daun pisang. Dan tidak lama dari itu Kyai Singoprono pun masuk ke rumah. Segera pengemis bertemu dan pengemis itu disambut dengan penuh hormat, bahkan disilakan duduk di balai-balai. Kyai Singoprono sendiri duduk di lantai tanah, bagaikan menghadap Raja. Setiap kali pe­ngemis itu bertanya, dijawabnya dengan bahasa tinggi penuh hormat, serta dimulai dan diakhiri de­ngan sembah.

Setelah tiga kali berturut-turut Kyai Singoprono menyembah, pengemis itu tidak tahan lagi. Dia turun dari balai-balai dan Kyai Singoprono  dipeluk serta dipuji sebagai Kyai yang Waskitha (tajam pengamatannya).

Bersamaan dengan itu, Demak  mengemukakan bahwa ia akan menghajar Kebo Kenanga, Adipati Pengging yang congkak. Kyai Singoprono tidak menyetujui gagasan itu karena Kebo Kenanga adalah orang yang sakti. Kenyal kulitnya, tidak bisa dilukai oleh senjata; keras tulangnya bagaikan besi; dan kuat ototnya bagaikan kawat baja serta Adipati Pengging tersebut adalah pejabat yang jujur serta Kyai yang mempunyai Karomah dan berjuang di Kadipaten. Kyai Ageng Pengging hanya difitnah oleh orang yang mempunyai dendam. Untuk mengalah­kannya harus diusahakan suatu cara tertentu. Pen­deknya, Sultan Bintara harus bersabar.

Saran ini ditafsirkan Sultan Bintara sebagai usaha Kyai Singoprono untuk menghalangi maksudnya, bahkan Sultan menuduhnya bersekutu dengan Kebo Kenanga. Kyai pun menunduk, sedih, lalu menggeiengkan kepala tiga kali.

Untuk menghindari perdebatan yang berkepanjang­an, Kyai Singoprono segera berkata agar Sultan membuktikan ucapannya. Caranya sebagai berikut. Jika menjelang penyerangan nanti pasukan Demak memukul bendhe (gong kecil) sebagai tanda pe­nyerbuan dan bunyinya pelan, itu tanda serangan mereka akan gagal total. Jika berbunyi keras, akan lancar gempuran pasukan Demak, dan kemenangan jelas pada pihak Bintara.

Dengan agak jengkel, Sultan  keluar dari rumah. la berjalan lebih tegap, tidak lagi sebagai pengemis. Akan tetapi, alangkah terkejut hatinya ketika tiba di suatu desa. Di sana ia menjumpai pasukan Demak bersiaga. Karena tidak tega, Pasukan Demak meng­ikuti perjalanan Sultan dari belakang sambil berlatih perang-perangan. Kesetiaan pasukan itu dipuji Sultan. Sebagai tanda terima kasih, desa itu dinama­kannya dusun Manggal. Kata ini berasal dari kata manggala, yang artinya pimpinan pasukan.

Tibalah saatnya bagi Sultan  untuk membuktikan kata-kata Kyai Singoprono. Bendhe yang tergantung di pohon duwet diperintahkan untuk dipukul. Sultan heran, yang terdengar hanya suara goyangan bendhe bergesekan dengan ranting pohon duwet. Pukulan kedua menghasilkan bunyi aum, suara harimau.

Pen­duduk yang tinggal di desa lain, tidak jauh dari peristirahatan pasukan Demak, berteriak bahwa mereka mendengar suara simo (harimau). Oleh karena itu, desa itu hingga kini disebut desa Simo.

Suara aum dari gong akhirnya meyakinkan Sultan Bintara bahwa Kyai Singoprono memang benar-benar sakti dan membenarkan jika masalah Kyai Kebo Kenongo hanya difitnah oleh orang yang punya dendam. Dan Beliau pun bertitah kepada pasukannya agar kembali ke Demak bersamanya.

Tidak lama kemudian, Kyai Singoprono, yang se­benarnya sudah tua, merasa bahwa ajalnya hampir tiba. la berpesan kepada istrinya, Nyai Singoprono jika ia meninggal agar dikuburkan di gunung yang putus karena ledakan benturan panah Kyai Nogorunting.

Demikianlah, Kyai Singoprono akhirnya dimakam­kan di Gunung Tugel. Oleh penduduk setempat, Kyai Singoprono juga disebut Kyai Singoprono  Simowalen. Perlu diketahui, desa Simo yang terletak di sebelah timur dan desa Walen yang terletak di sebelah barat berjarak empat kilometer.

Gunung Tugel dijadikan tempat bersemedi atau bertapa orang – orang, barang siapa bersemedi di Gunung Tugel tapi orang tersebut tidak boleh mempunyai nafsu olo. Pasti akan mendapat berkah dari Kyai Singoprono. Tetapi istri Kyai singoprono meninggal dan dimakamkan disebelah timur makam / Gunung Kyai Singoprono, kemudian makam tersebut di tendang  oleh Kyai Sinoprono dan jatuh di Desa Krisik. Karena kyai Singoprono tidak mau disejajarkan denga istrinya, karena istri kyai Singoprono mempunyai watak yang tidak baik.

Source Kyai Ageng Singoprono Sejarah Akan Terus Jadi Inspirasi
Comments
Loading...