Koloan, Budaya Khitan Banyuwangi

0 64

Koloan, Budaya Khitan Banyuwangi

Dikenal sebagai Kabupaten yang mendiami ujung timur pulau Jawa, Banyuwangi memiliki sebuah ritual yang tak kalah unik dengan ritual lain. Ritual ini disebut Koloan, yang berarti jebakan.

Koloan sendiri dilaksanakan ketika seorang anak laki-laki akan menjalani prosesi sunat atau khinat, hal ini bertujuan agar sang anak siap dan tidak merasa takut ketika akan disunat.

Dalam tradisi Koloan, terlebih dahulu sang anak harus ditetesi darah ayam oleh dengan bertelanjang dada duduk di atas kursi kayu kecil, di depannya terdapat beberapa sesaji. Sang pemimpin lalu berdoa dengan menggunakan bahasa tradisional setempat, Bahasa Osing, sambil mengusapkan bedak di wajah si anak. Kemudian seekor ayam jago warna merah disembelih. Ayam yang dipilih harus berbulu merah dan belum kawin. Darah segar yang keluar dari leher ayam diteteskan di atas kepala si anak dalam beberapa menit hingga ayamnya mati. Penyembelihan ayam disimbolkan seperti pengorbanan Nabi Ismail oleh Nabi Ibrahim. Diharapkan sang anak menjadi berbakti kepada orang tua setelah ritual selesai dan diberikan kelancaran serta dijauhkan dari segala bahaya dalam kehidupannya

Setelah itu, sang anak dibawa ke sungai untuk dimandikan dengan beberapa ramuan oleh sang pemimpin. Selanjutnya sang anak diharuskan melangkah melewati benang yang dilintangkan di tanah. Bagi sang anak, ritual koloan dapat menjauhkan rasa takut sang anak ketika disunat atau dikhitan.

Ritual diakhiri dengan acara makan bersama, sebagai menu spesial yaitu pecel pitik atau pecel ayam.

Source https://budaya-indonesia.org/Koloan-Budaya-Khitan-Banyuwangi/ https://budaya-indonesia.org/Koloan-Budaya-Khitan-Banyuwangi/
Comments
Loading...