Kobhung Dalam Perspektif Masyarakat Madura

0 8

Kobhung Dalam Perspektif Masyarakat Madura

Berbeda dengan surau, sejarah langgar dan Kobhung tidak banyak diketahui. Namun demikian, sejarah langgar tersebut dapat ditelusuri dari sejarah surau itu sendiri, mengingat fungsi keduanya sama. Secara linguistik surau berarti “tempat” atau “tempat ibadah”.

Jadi suarau adalah sebuah bangunan kecil yang aslinya dibangun untuk menyembah nenek moyang. Oleh karena itu bangunan ini pada awalnya didirikan di atas tempat yang paling tinggi atau setidaknya lebih tinggi dari bangunan lain.

Bangunan semacam ini banyak ditemukan di desa, sehingga ia berkaitan dengan kebudayaan desa meskipun dalam perkembangannya surau juga banyak ditemukan di kota. Meminjam istilah Gazalba, surau atau langgar yang mula-mula merupakan unsur kebudayaan asli.

Setelah Islam masuk maka surau tersebut diklaim menjadi bangunan Islam. Kemudian fungsinya bukan lagi hanya sebagai tempat peristirahatan, berkumpul keluarga dan bermusyawarah. Tetapi juga sebagai lembaga pendidikan non formal yang mengajarkan ilmu-ilmu agama dan tempat mengaji.

Bertolak dari pendapat Gazalba tersebut, maka Langgar dan Kobhung sangat dimungkinkan sudah ada sebelum orang Madura mengenal Islam. Karena pada realitasnya hampir dipastikan semua rumah di Madura terdapat Kobhung.

Dengan kata lain, Kobhung merupakan kebutuhan masyarakat Madura, karena di samping berfungsi sebagai tempat beribadah, beristirahat, dan menerima tamu. Kobhung juga dibutuhkan pada saat anggota keluarga Madura meninggal kata orang Madura ada kifayah untuk menshalatkannya.

Dilihat dari sisi letaknya, Kobhung dalam tatanan bangunan Madura menduduki posisi penting. Kobhung merupakan sentral dari taneyan yang terletak di sebelah barat dengan menghadap ke Timur. Diikuti bangunan rumah di samping utara menghadap ke selatan dan dapur di sebelah selatan berhadapan dengan rumah.

Disamping dapur di sebelah kiri atau kanan biasanya terdapat kandang sapi atau kambing8. Dari Kobhung inilah seluruh halaman rumah dapat diawasi. Bagi orang Madura taneyan itu dikatakan lengkap jika memiliki Kobhung. Itulah sebabnya mengapa kemudian masyarakat Madura berusaha istilah Madura ja ngaja membangun Kobhung.

Kobhung juga merupakan tempat pemisah antar anggota keluarga. Langgar (Kobhung) atau pemisah yang lain (seperti tanaman belukar, dinding kayu) menjadi pertanda (tandeh) bahwa suatu keluarga telah memiliki taneyan sendiri.

Jika dilihat dari aspek arsitekturnya, langgar (Kobhung) berbentuk bangunan berkolong dengan kontruksi kayu jati. Atapnya berbentuk kampung dengan penutup genteng. Atap emperan di depannya terdapat lantai kolong yang lebih rendah dari lantai utamanya, kesan demokratis di dalamnya tampak10).

Karena bangunan ini terbuka. Kobhung (langgar) memberikan gambaran khas bagi masyarakat Madura yang memiliki sifat terbuka dan gampang beradaptasi dengan orang lain dan masyarakat lingkungan sekitarnya. Biasanya orang-orang yang tinggal di langghar (Kobhung) adalah bapak dan anak laki-laki yang cukup umur.

Ini menggambarkan bahwa seorang bapak merupakan kepala keluarga yang harus bertanggung jawab atas keluarga. Menjadi penjaga keamanan baik keamanan anggota keluarga maupun keamanan lingkungan sekitar. Sementara anak laki-laki merupakan pewaris bapak yang akan menggantikan posisi bapak dan sebagai calon kepala keluarga yang tugasnya kelak sama dengan bapak.

Source http://www.lontarmadura.com/ http://www.lontarmadura.com/kobhung-bangunan-tradisional-masyarakat-madura/3/
Comments
Loading...