Kobhung, Bangunan Tradisional Masyarakat Madura

0 173

Kobhung, Bangunan Tradisional Masyarakat Madura

Dalam tatanan bangunan Madura, Kobhung menempati posisi penting. Bangunan ini menjadi pusat taneyan. Hampir semua bangunan keluarga di Madura memiliki Kobhung. Inilah yang unik di Madura. Letaknya rata-rata di sebelah Barat, selain menandakan arah kiblat juga gampang mengawasi keamanan lingkungan keluarga.

Selain sebagai tempat peristirahatan dan berkumpulnya keluarga dan kerabat, juga sebagai tempat menerima tamu dan tempat beribadah keluarga. Yang terpenting dari sekian banyak fungsi Kobhung adalah sebagai pewaris nilai-nilai tradisi luhur masyarakat Madura.

Nilai luhur yang selalu ditekankan berupa kesopanan, kehormatan, dan agama. Kobhung diasumsikan mampu membentuk generasi Madura yang kokoh pada tradisi, memiliki jiwa luhur, hormat dan sopan. Serta rasa memiliki yang kuat dan tanggung jawab terhadap tanah air.

Apabila berjalan di daerah pedesaan Madura, kita akan menemukan bangunan rumah yang berkelompok. Antar kelompok rumah tersebut biasanya terdiri dari satu atau dua rumah tinggal, langgar di Pamekasan bangunan langgar disebut pula Kobhung dan kandang. Tatanan bangunan tersebut biasanya disebut taneyan atau halaman yang dikelilingi rumah dan bangunan lain.

Di pedesaan Madura, bangunan ini (Kobhung atau langgar) hampir dapat dipastikan ada pada setiap kelompok dan sampai sekarang tetap eksis menjalankan fungsinya. Begitu pentingnya bangunan ini sehingga ada anggapan dalam masyarakat Madura bahwa taneyan tanpa Kobhung atau langgar dianggap kurang lengkap, atau dengan istilah lain camplang alias ta’ ghenna’.

Bagi masyarakat Madura, langgar tersebut merupakan suatu adat yang utama di samping tradisi-tradisi lain yang belum terbongkar oleh tradisi-tradisi modern pengaruh Barat. Di daerah lain sudah banyak yang luntur. Misalnya tidak memakai kopiah atau peci jika sembahyang di masjid akan mendapatkan teguran keras atau bahkan dilempari batu.

Masyarakat Madura adalah masyarakat religius (muslim) yang sekaligus unik. Karena memang bangunan-bangunan semacam itu tidak ditemukan di daerah lain. Tampaknya Hamka tidak membedakan antara langgar dan Kobhung, ia cenderung menyamakan fungsi keduanya.

Padahal terdapat perbedaan signifikan antara langgar dan Kobhung. Orang Pamekasan menyebutnya, atau langghar kene’ di daerah Madura lainnya- merupakan tempat peristirahatan keluarga, tempat menerima dan penginapan tamu, tempat ibadah keluarga, dan kadang juga tempat berkumpulnya pemuda.

Hampir dipastikan bahwa setiap rumah di Madura baik itu muslim yang taat ataupun tidak memiliki langghar kene’ atau Kobhung. Sementara langgar adalah sebutan yang dikhususkan sebagai lembaga non formal tempat mengaji Al-Qur’an dan ilmu keislaman klasik lainnya. Bangunan ini ada di rumah kiai atau guru ngaji.

Bagi Masyarakat Madura tempo dulu3), Kobhung memiliki arti penting dalam kehidupannya, tidak hanya berfungsi sebagai tempat peristirahatan dan berkumpul keluarga, menerima tamu, dan tempat ibadah. Tetapi juga tempat pewarisan nilai-nilai luhur masyarakat Madura dan membentuk generasi Madura yang kokoh pada tradisi, memiliki jiwa luhur, hormat dan sopan.

Serta rasa memiliki yang kuat dan tanggung jawab terhadap tanah air. Sekarang bangunan ini mengalami pergeseran fungsi (shifting function), yaitu lebih berfungsi sebagai tempat istirahat dan berkumpulnya para pemuda.

Source http://www.lontarmadura.com/ http://www.lontarmadura.com/kobhung-bangunan-tradisional-masyarakat-madura/
Comments
Loading...