Kitab Ramayana

0 47

Kitab Ramayana

Kitab ini berbentuk tembang. Menurut penyelidikan, kitab ini dibuat pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung, raja agung yang menguasai Jawa Tengah dan Jawa Timur kira-kira pada tahun 820-832 Saka. Penyelidikan tersebut selain berdasarkan perbandingan bahasa, tetapi juga berdasar perbandingan denagn tulisan-tulisan pada batu dan tembaga yang terdapat di tanah Jawa. Kitab Ramayana ini mengisahkan kehidupan Prabu Rama, meniru kitab Ramayana Indu gubahan sang Walmiki. Akan tetapi, apabila dibandingkan satu sama lain, maka kitab ini tergolong kitab yang sangat pendek.

Ada beberapa cendekiawan yang memetik beberapa kalimat dari Kitab Ramayana Jawa-Kuno, yakni seorang cendekiawan Indu bernama Himansu Bhusan Sarkar yang mengarang kitab Indian Influence on the Litterature of Java and Bali; kemudian cendekiawan lain bernama Manomohan Ghosh dan petikan itu kedapatan cocok dengan kitab Rawanawadha yang menceritakan matinya Dasamuka gubahan pujangga Indu bernama Bhattikawya. Bahkan Manomahan Ghosh pun menetapkan bahwa pengarang Ramayana iu sangat paham akan Sansekerta. Jadi, keterangan para cendekiawan Belanda yang menyatakan bahwa pengarang Ramayana itu tidak tahu bahasa Sansekerta, adalah omong kosong.

Menurut kitab Saridin, yang mengarang kitab Ramayana Jawa-Kuno itu adalah seorang pujangga bernama Empu Pujwa, pada masa pemerintahan raja Dendrajana di negeri Mamenang. Dan itu hanyalah isapan jempol belaka. Sedangkan menurut ceritera di Bali, pengarang kitab Ramayana adalah Empu Yogiswara pada tahun 1016 Saka. Akan tetapi sebenarnya mereka salah pengertian. Memang, kata Yogiswara terdapat pada akhir cerita Ramayana., tetapi kata itu bukanlah nama. Adapun kata-katanya demikian : sang jogiswara sista, sang sudjana suddha manhira huwus matja sira. Artinya : sang pendeta makin bertambah pandai, sang sudjana menjadi suci hati, bila sudah membaca ktab Ramayana ini. Teranglah , disini jogiswara bukanlah nama.

Jadi sebenarnya kitab ini belum diketahui siapa pengarangnya. Kitab Ramayana ini sangat pelajaran yang dapat diambil dan begitu indah bahasanya. Pada tahun 1900 sudah dicetak dalam huruf Jawa oleh Prof. H. Kern. Kamus-kamus yang berwujud tafsiran sudah ada pula, buatan DR. Juynboll, bahkan sekarang sudah ada terjemahan dalam bahasa Belanda. Yang sangat disayangkan dalam kitab ini adalah belum adanya tafsirannya yang memuaskan.

Source http://silviaottinugraheni.blogspot.co.id http://silviaottinugraheni.blogspot.co.id/2014/07/kritik-sastra.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.