Kitab Kresnayana

0 1.503

Kitab Kresnayana

Kisah cinta dari dulu hingga kini selalu menjadi sumber inspirasi bagi para pujangga atau penulis dalam berkarya. Demikian pula dalam karya-karya Jawa kuno, tidak sedikit yang bersumber atau terinspirasi dari kisan-kisah percintaan. “Kresnayana” yang merupakan karya Empu Triguna berbentuk tembang ini seperti halnya “Arjuna Wiwaha” juga berkisah tentang kisah cinta. Buku atau kitab yang ditulis di masa akhir kekuasaan Prabu Warsajaya (1104) di Kerajaan Kediri ini berkisah tentang kisah percintaan yang penuh liku antara Dewi Rukmini dengan Prabu Kresna. Dikisahkan di buku ini, Prabu Bismaka yang merupakan raja di Kerajaan Kundina menjodohkan puterinya, Dewi Rukmini, dengan Prabu Suniti, raja Kerajaan Cedi. Tanpa terlebih dulu meminta persetujuan puterinya, Dewi Rukmini, dan juga isterinya, Dewi Pretukirti, Prabu Bismaka langsung menyelenggarakan acara pertunangan.

Dewi Rukmini sesungguhnya tidak menyetujui langkah ayahnya itu. Karena ia sudah punya pilihan hati sendiri, yakni Prabu Kresna. Pilihan Dewi Rukmini ternyata mendapat dukungan ibunya, Dewi Pretukirti. Lantas kedua ibu dan anak ini pun menyusun rencana untuk menggagalkan rencana sang ayah. Walaupun mendapat penolakan, Prabu Bismaka tetap bertekad melaksanakan niatnya untuk menyelenggarakan acara pernikahan puterinya dengan Prabu Suniti. Acara perkawinan yang megah dan meriah pun disiapkan. Segenap kawula istana disibukkan dengan aktivitas mempersiapkan perhelatan akbar tersebut.

Tetapi ketika perhelatan besar itu akan dimulai, dan rombongan mempelai lelaki, Prabu Suniti sudah hampir sampai di gerbang istana, kegemparan pun terjadi. Sang mempelai perempuan, Dewi Rukmini mendadak lenyap dari dalam Keputren. Ternyata, sebelum semuanya sempat terjadi, Prabu Kresna terlebih dulu melakukan aksinya. Dengan bantuan Dewi Pretukirti dan Dewi Rukmini sendiri, Prabu Kresna menyelinap ke dalam Keputren dan kemudian membawa lari sang puteri.

Pesan apa yang sesungguhnya disampaikan Empu Triguna lewat “Kresnayana”? Secara sederhana saja, kitab ini memberikan pesan bahwa cinta bukanlah sesuatu yang dapat dipaksakan. Kekuasaan yang seperti apa pun kuat dan kokohnya, tak akan dapat mengalahkan atau merobohkan benteng cinta yang tulus dan suci. Selain itu, tindakan memaksakan kehendak bukanlah sesuatu yang bijak. Memaksakan kehendak adalah tindakan yang tak terpuji. Para orangtua seharusnya menghormati hak dan pilihan anaknya. Memaksakan keinginan kepada anak, bisa jadi memunculkan sikap perlawanan dari sang anak itu sendiri.

Source https://www.perwara.com/ https://www.perwara.com/2017/mengenal-kitab-kitab-jawa-kuno-1-arjuna-wiwaha-dan-kresnayana-tak-sekadar-berkisah-tentang-cinta/
Comments
Loading...