Kitab- Kitab Jawa Kuno Yang Bertembang

0 297

Kitab- Kitab Jawa Kuno Yang Bertembang

Kitab-kitab pada bab I merupakan kitab-kitab yang berbahasa prosa dan tidak bertembang,akan tetapi  berikut ini disebut kitab yang mengandung kakawin yang artinya bertembang, di antaranya:

Arjunawiwaha, kakawin

Kitab ini mengisahkan Arjuna ketika beliau sedang bertapa dan dimintai tolong oleh para dewa untuk membunuh raja raksasa, bernama Niwatakawaca. Kitab Arjunawiwaha merupakan gubahan empu Kanwa pada pemerintahan prabu Airlangga sekitar tahun 941-964 Caka(1019-1042 Masehi) dan pada tahun 1850 kitab arjunawiwaha dicetakkan dengan huruf Jawa oleh DR. FRIEDERICH, pada tahun 1926 dicetakkan dengan huruf latin, sebagian besar diterjemahkan dalam bahasa belanda.

Kresnayana, kakawin

Kitab ini meneritakan kehidupan Kresna pada saat melarikan dewi Rukmini. Dewi Rukmini adalah puteri dari prabu Bismaka beliau telah bertunangan dengan sang Suniti raja di negeri Cedi, yang lebih memilih Kresna. Hingga peristiwa perang antara Rukma dengan Kresna dan dimenangkan oleh Kresna.

Sumanasantaka, kakawin

Kitab ini menceritakan lahirnya prabu Dasarata di Ngayodya yang merupakan anak dari dewi Indumati dan sang Aja. Dewi Indumati merupakan bidadari yang bernama dewi Harini yang dikutuk oleh sang Trenawindu karena telah menggodanya yang sedang bertapa. Sang Aja mendapatkan dewi Indumati dengan cara mengikuti sayembara yang diadakan oleh kakaknya dewi Indumati yang merupakan prabu Boja.

Smaradahana, kakawin

Menceritakan Bathara Kamajaya ketika tertunu. Di  dalam kitab ini disebutkan pula nama prabu Kameswara,seorang raja di Kediri yang merupakan titisan batara Kamajaya yang ketiga.

Pengarang kitab ini ialah empu DHARMAJA. pada tahun 1931 kitab tersebut dicetakkan dengan huruf latin dan sebagian besar diterjemahkan dalam bahasa Belanda.

Bhomakawya, kakawin

Mengisahkan peperangan antara prabu Kresna dan sang Bhoma. Kitab ini tidak diketahui secara jelas pengarangnya,akan tetapi kata-kata pertama dalam kitab menyebutkan nama Kamajaya,oleh karena itu kitab ini diduga sejaman dengan kitab Smaradahana.

Kitab Bhomakawya sudah dicetakkan dengan huruf Jawa pada tahun 1852 oleh DR FRIEDERICH. Terjemahanya dalam bahasa belanda dikerjakan oleh DR TEEUW.

Baratuyuddha, kakawin

Kitab ini mengisahkan tentang peperangan para Pandawa melawan para Korawa. Kitab inin digubah pada jaman pemeraintahan prabu Jayabaya di Kediri dan berciri tahun  sanga-kuda-suddha-candrama = 1079 caka (1157 Masehi). Yang menggubah kitab ini ialah empu Sedah dan empu Panuluh. Kitab ini dicetakkan pada tahun 1903 dengan huruf Jawa oleh DR GUNNING. Terjemahannya dalam bahasa Belanda terbit dalam tijschrift Jawatahun ke-14, No1 (1934).

Hariwangsa, kakawin

Kitab ini gubahan empu Panuluh pada jaman pemerintahan prabu Jayabaya. Ceritanya hampir sama dengan kitab Kresnayana tetapi ada perbedaan sedikit. Dalam kitab ini beliau mengatakan tambeyan pangiketkw apet laleh (kemudian gubahansaya itu akan mencari lelah )itu artinya sang Panuluh masih muda karena mengaku murid sang prabu.

Kitab Hariwangsa dicetak dengan huruf latin disertai dengan terjemahan dalam bahasa Belanda dengan tafsiran kata oleh DR TEEUW.

Gatotkatjasraja,kakawin

Kitab ini merupakan gubahan dari empu Panuluh. Tetapi raja yang tertulis di dalamnya adalah prabu Djajakerta. Menurut tulisan batu,memang pada zaman Kadiri ada seorang raja bernama Kretadjaja yang bertahta sekitar tahun 1110 mungkin raja itu sebagai pengganti prabu Djajabaja,tetapi sebenarnya belum pasti kebenarannya.

Kitab ini menceritakan seorang ksatria yang diantarkan panakawan. Tatkala Abimanyu pergi dari Dwarawati,ia diantar Djurudyah,Prasanta dan Punta. Punta di sini bukanlah nama melainkan sebutan Tuan dalam bahasa Indonesiannya. Dr Van Stein Callenfels berpendapat bahwa Gatotkaca itu lakon wayang yang dibentuk menjadi syair.

Wrettasantjaja,kakawin

Kitab ini berisi pelajaran tembang,menguraikan syarat-syaratnya dan namannya serta contohnya 94 macam. Pelajaran tadi dibubuhi cerita pendahuluan yaitu seorang putri ditinggal suaminya. Sang putri ini pergi ke taman dan bertemu dengan sepasang burung belibis. Ia minta tolong supaya dicarikan suaminya. Terbangnya belibis itu dapet menjadikan lantaran untuk menceritakan keindahan-keindahan dalam hutan.

Kitab ini digubah oleh empu Tan-Akung,cerita puteri yang ditinggalkan suaminya lalu menyuruh burung belibis mencarikannya itu,ada termuat pula dalam kitab Adjipamasa,jilid III pupuh 4 sampai jilid IV pupuh I.

Lubhdhaka,kakawin

Kitab ini menceritakan seorang pemburu yang setelah meninggal dapat masuk surga. Pemburu itu dalam agama Indu,apa lagi dalam agama Buddha,termasuk orang yang hina,yang sugguh-sungguh jahat karena pekerjaannya sehari-hari tak lain hanyalah membunuh kawan,makhluk sesama hidup seperti juga manusia. Akan tetapi ia masuk Surga.

  • Kritisi: dalam Bab II juga ejaan masih sama,menggunakan ejaan lama,dan bahasannay juga susah dimengerti,jalan ceritannya tidak menentu sehingga membingungkan pembaca. Kebanyakan juga terdapat perbedaan dalam isi cerita dengan buku lain yang pernah saya baca.
Source http://sulistiyowatiss.blogspot.co.id/ http://sulistiyowatiss.blogspot.co.id/2014/06/kritisi-buku-kepuastakaan-jawa.html
Comments
Loading...