Kitab – Kitab Jawa Kuno Golongan Tua

0 466

Kitab – Kitab Jawa Kuno Golongan Tua

Tulisan-tulisan pada batu,tembaga atau emas memuat hal-hal yabg ringkas saja akan tetapi tulisan-tulisan yang berisi tentang pelajaran, peraturan dan cerita-cerita dibuat pada daun tal (siwalan). Karena tahan lama hingga beratus-ratus tahun, disamping itu harganya murah, yang termasuk tulisanp-tulisan itu diantaranya :

  1. Kitab Canda Karana

Kitab ini merupakan kitab yang tertua yang isinya tembang(nyanyian) dan serupa isi kamus yang tersusun secara Hindu. Di dalam kitab ini juga terdapat nama seorang raja keturunan Sailendra yakni yang mendirikan candi kalasan,oleh karena itu itu kitab ini disebut kitab tertua.

  1. Kitab Ramayana

Kitab ini berbahasa jawa kuno,dan berbentuk tembang. Menurut penyelidikan melalui pembandingan bahasa dan tulisan-tulisan pada batu tembaga, kitab Ramayana dibuat dalam masa pemerintahan Raja Dyah Balitung( Raja Agung yang menguasai wilayah Jawa Tengah dan Timur pada tahun 820-830 Saka.

  1. Sang Hyang  Kamahajanikan

Didalam kitab ini tidak terdapat tembang dan ditulis dalam bahasa prosa,didalam bukunya terdapat nama Raja Jawa, Empu Sindok. Isinya mengandung pelajaran tentang agama Budha Mahayana. Selain itu juga mengandung ajaran tentang bersemedi. Kebanyakan mengutarakan susunan percintaan dewa-dewa dalam agama Mahayana dan kerap kali amat cocok dengan dengan penempatan Raja-Raja Budha dalam candi Borobudur.

  1. Brahmandapurana

Kitab ini ditulis dalam bahasa prosa, tidak bercerikan angka tahun dan tidak menyebutkan nama Raja. Kitab Brahmandapurana seumur dengan Kitab Sang Yang Kamahayanikan namun bedanya Kitab Brahmandapurana adalah kitab orang-orang beragama Siwa sedangkan Kitab Brahmandapura adalah kitab orang-orang beragama Buddha-Mahayana. Isinya tentang pengantar kata,cerita Sang Romaharsana,ilmu tentang terjadinya dunia,dan masih banyak lagi. Akan tetapi sayangnya bahasa kitab ini sudah rusak.

  1. Agastyaparwa

Kitab ini ditulis dalam bahasa prosa, susunannya menyerupai susunan kitab Brahmandapurana,juga banyak memuat kalimat Sansekerta yang diterangkan dalam bahasa Jawa-Kuno. Isinya yaitu Sang Dredhasyu bertanya kepada Ayahnya, begawan Agastya tentang berbagai hal, kebanyakan hampir sama dengan yang dipaparkan dalam kitab Brahmandapurana.

  1. Utarakanda

Kitab ini memang merupakan kitab gubahan baru yang ditulis dalam bahasa prosa, dan banyak pula kalimat Sansekerta yang juga diterjemahkan dalam bahasa Jawa-Kuno. Dalam bagian awal disebutkan nama Raja Dharmawangsah Teguh, isinya dipetik dari cerita Ramayana Walmiki bagian penghabisan.

  1. Adiparwa

Kitab ini merupakan bagian pertama pada cerita Mahabharata,ditulis dengan menggunakan bahasa prosa. Yang diceritakan tentang kehidupan wayang yang muda-muda. Susunan kitab ini sama dengan kitab Utarakanda yang didalamnya disebutkan  nama Raja Dharmawangsa-Teguh. Di sini juga terdapat lakon Dewi Lara Amis, Bale sigala-gala, matinya Arimba, Burung Dewata dan ambilan dari kitab adiparwa itu.

  1. Sabhaparwa

Kitab ini merupakan bagian ke dua dalam cerita Mahabharata,di dalam ceritanya yang menjadi lakon adalah Pandhawa yang sedang bermain dadu.

  1.          Wirataparwa

Kitab ini berbahasa prosa dan merupakan bagian yang keempat dalam cerita Mahabharata. Isinya para Pandhawa mengabdi kepada Raja Wirata, karena mereka harus menyembunyikan diri, sebab kalau ketahuan mereka akan mendapat hukum buang lagi selama 12 tahun.

  1. Ud-jogaparwa

Kitab ini berbahasa dan merupakan bagian yang kelima dalam cerita Mahabharata, jadi sudah dekat kepada perang Bratayuda dan banyak kat0-kata yang sudah rusak. Isinya banyak akan tetapi hanya lakon Kresna gugah yang dapat diambil.

  1.     Bhismaparwa

Kitab ini berbahasa prosa dan merupakan bagian keenam dalam cerita Mahabharata jadi sudah mulai peranng Bratayuda. Disini terdapat beberapa petikan dari kitab BHAGAWADGITA.

  1. Asramawasanaparwa

Kitab ini bahasanya prosa juga, dalam cerita Mahabarata merupakan bagian yang kelimabelas. isi ceritanya Dhrestarasta diangkat menjadi Raja di Ngastina untuk lima belas tahun. Para pandawa menaati peraturan Dhrestarasta kecuali Sang Bima, ia selalu mencacimaki dan akhirnya Sang Dhrestarasta pergi bertapa karena risi dengan hal itu,selama dalam pertapaan pandhawa pernah mengunjunginya dan tak lama kemudian akhirnya ia meninggal di hutan.

  1. Mosalaparwa

Kitab ini ditulis menggunakan bahasanya prosa dan merupakan bagian yang keenambelas dalam cerita Mahabarata. Ceritanya mengisahkan musnanya Wresni dan Jadu, sebuah kaum dalam negara Madura-Dwarawati, lagi pula mengisahkan wafatnya Prabu Baladewa dan Prabu Kresna.

  1. Prasthanikaparwa

Kitab ini Berbahasa prosa dan merupakan bagian yang ketujuhbelas dalam cerita Mahabharata. Menceritakan meninggalnya  para pandhawa, dan perjuangan Judistira untuk memasukkan adiknya kedalam surga.

  1. Swargarohanaparwa

Kitab ini berbahasa prosa dan merupakan bagian kedelapanbelas dalam Kitab Mahabharata(bagian pennghabisan). Menceritakan tentang kemarahan sang Duryudana karena adik-adiknya dimasukan kedalam neraka. Sang Duryudana tidak terima dengan kenyataan itu kemudian ia  mengadu kepada sang Dewa dan akhirnya Sang Dewa merubah neraka menjadi surga.

  1.       Kuncarakarna

Kitab ini berbahasa prosa, umurnnya masih seumur dengan kitab-kitab parwa. Didalam tulisannya terdapat kata-kata modern seperti akhiran e yang disebabkan penyallinan turun temurun. Kitab ini milik orang-orang yang beragama Budha-Mahayana seperti halnya kitab Sang Hyang Kamahayanikan. Kitab ini menceritakan tentang perjalan seorang Raksasa yang ingin menjadi manusia. Raksasa itu bernama Sang Kuncarakarna.

  • Kritisi: Di dalam Bab I,kebanyakan penulisan ejaan masih menggunakan ejaan lama,dan itu susah dimengerti,kata-katannya pula banyak yang tidak dimengerti.
Source http://sulistiyowatiss.blogspot.co.id http://sulistiyowatiss.blogspot.co.id/2014/06/kritisi-buku-kepuastakaan-jawa.html
Comments
Loading...