Kisah Sunan Bayat

0 69

Kisah Sunan Bayat

Sunan Bayat atau yang juga bergelar Pangeran Mangkubumi ini adalah salah satu ulama penyebar agama Islam di Jawa Tengah. Sunan Bayat adalah putra dari Ki Ageng Pandan Arang, bupati pertama Semarang. Sepeninggal Ki Ageng Pandan Arang, Pangeran Mangkubumi, menggantikannya sebagai Bupati Semarang kedua dengan nama Pandanaran. Dia juga merupakan murid dari Sunan Gunung Jati, anggota Wali Songo.

Sepeninggalan ayahnya, Pandanaran menjalankan pemerintahan dengan baik dan selalu patuh dengan ajaran–ajaran Islam. Namun lama-kelamaan terjadilah perubahan. Tugas-tugas pemerintahan sering pula dilalaikan, begitu pula mengenai perawatan pondok-pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah.

Sultan Demak Bintoro, yang mengetahui hal ini, lalu mengutus Sunan Kalijaga dari Kadilangu, Demak, untuk menyadarkannya. Terdapat beberapa versi cerita bagaimana Sunan Kalijaga menyadarkan sang bupati. Diantaranya Sunan Kalijaga menyamar sebagai seorang pencari rumput dan pergi ke kediaman Pangeran Mangkubumi dan menawarkan sekeranjang rumput yang dia bawa.

Sehingga terjadi dialog antara Sunan Kalijaga dengan sang bupati. “Rumput yang bagus kisanak…berapa harganya, ?” tanya sang bupati. Lalu Sunan Kalijaga yang menyamar menjadi tukang rumput mengatakan, “Rumput ini saya peroleh dari gunung Jabalkat tuan…sebuah tempat yang membawa berkah dan karomah…anda bisa memilikinya dengan menukar seluruh harta benda yang tuan Bupati miliki…” kata si pencari rumput ini.

“Gila kamu…mana mungkin rumput sesegar ini berasal dari Jabalkat yang letaknya jauh dari sini…yang lebih gila lagi mana mungkin aku menukar seluruh hartaku untuk sekeranjang rumput ini…ahhh …pergi kamu…” dengan nada keras sang bupati mengusir pencari rumput ini.

Ke esokan harinya kembali lagi sang bupati didatangi pencari rumput ini dan dialog yang sama terulang kembali. Dialog pun berakhir dengan diusirnya kembali sang penjual rumput.

Ke esokan harinya kembali sang pencari rumput mendatangi kediaman sang bupati untuk ke tiga kalinya. Dialog yang sama pun terjadi lagi. Tapi kali ini sang penjual rumput berargumen lebih kuat sehingga membuat jengkel sang bupati.

“Kisanak! Mana mungkin ada yang mau membeli rumputmu dengan harga seluruh hartanya,! ” berkata sang bupati dengan nada yang keras. “Lagipula dengan jumlah kekayaanku yang tak terbatas ini…aku bisa membeli beratus-ratus , bahkan beribu-ribu keranjang rumput..,” lanjut bupati. “Anda salah tuan? Ada yang lebih kaya dari anda di negeri ini…”.

“Sesungguhnya Allah SWT lebih kaya dari siapapun…termasuk tuan sendiri atau saya sekalipun…Allah maha kaya dan kekayaannya meliputi seluruh alam semesta ini termasuk kuasa-Nya yang dapat memberi dan menghilangkan kekayaan seseorang dalam kedipan mata…saking kaya-Nya beliau…beliau dapat memberikan harta kepada saya yang lebih banyak dari yang tuan punya jika beliau berkehendak…”

Merah padam muka sang bupati mendengar ucapan bijak sang pencari rumput ini. Kemudian bupati Semarang ini berkata dengan nada yang tinggi.

“Ahhh…jangan berceramah di depanku kisanak…dulu aku memang menyembah tuhan seperti tuhan yang ku sembah. Tapi…mana hasilnya?, ratusan kali aku bersujud tak juga aku menjadi kaya dan makmur…terus aku bekerja, bekerja dan bekerja tanpa menyembah tuhan…akupun jadi kaya…lihat tanpa tuhanmu pun sekarang aku jadi kaya…aku tak percaya pada tuhanmu…” kata sang bupati.

Kemudian pencari rumput ini mengambil cangkul yang dia bawa. Dengan cangkul itu mulailah dia menggali tanah di pekarangan rumah sang bupati. Lalu tanah yang dia gali berubah menjadi emas. Kemudian sang bupati pun merebut cangkul yang dibawa si pencari rumput.

“Akan ku gali lebih dalam lagi supaya emas yang kudapat lebih banyak dari si pencari rumput..” Namun belum sempat menyelesaikan perkataannya, sang bupati pun terkejut karena bongkahan emas yang semula terlihat menggunung tiba tiba menghilang dan berubah menjadi bongkahan tanah.

“Sangat mudah pula gusti Allah mengambil kekayaan dari seseorang dalam 1 kedipan mata…bahkan harta yang tuan banggakan itu bisa di ambil-Nya saat ini juga…” berujar si pencari rumput dengan nada yang penuh wibawa. Sehingga akhirnya, sang bupati menyadari kelalaiannya dan mengetahui kalau sang pencari rumput adalah Sunan Kalijaga. Lalu sang bupti mengundurkan diri dari jabatan duniawi dan menyerahkan kekuasaan Semarang kepada adiknya.

Pangeran Mangkubumi kemudian berpindah ke selatan (entah karena diperintah sultan Demak Bintara ataupun atas kemauan sendiri, sumber-sumber saling berbeda versi), didampingi isterinya, melalui daerah yang sekarang dinamakan Salatiga, Boyolali, Mojosongo, Sela Gringging dan Wedi, menurut suatu babad. Konon sang pangeran inilah yang memberi nama tempat-tempat itu).

Saat berkelana bersama istrinya tersebut terdapat beberapa kisah menarik diantaranya saat dicegat kawanan rampok. “Serahkan hartamu atau kau akan kuhajar hingga babak belur!’ demikian ancam Ki Sambangdalan sang perampok. “Aku tidak membawa harta!,” jawab sang pangeran.

Perampok itu tidak percaya lalu merampas tongkat sang pangeran. Kemudian sang pangeran berkata, “Ini bengal, keras kepala seperti domba saja!”. Aneh, seketika kepala Ki Sambangdalan berubah menjadi kepala seekor domba. Lalu sang perampok meminta maaf kepada sang pangeran.

Namun sang pangeran berujar bahwa jika Ki Sambangdalan ingin menjadi manusia normal maka harus bertirakat dan bertobat. Untuk menebus dosanya. Lalu setelah bertobat Ki Sambangdalan dikenal sebagai Syekh Domba.

Sementara sang Pangeran Mangkubumi lalu menetap di Tembayat, yang sekarang bernama Bayat, Klaten, dan menyiarkan Islam dari sana kepada para pertapa dan pendeta di sekitarnya. Karena kesaktiannya dia mampu meyakinkan mereka untuk memeluk agama Islam. Oleh karena itu dia disebut sebagai Sunan Tembayat atau Sunan Bayat.

Source Kisah Sunan Bayat Sindonews.com
Comments
Loading...