Kisah Prabu Kertanegara Potong Kuping Utusan Cina

0 447

Kisah Prabu Kertanegara Potong Kuping Utusan Cina

Dahulu kala, Prabu Kertanegara mempunyai cita cita yang sama seperti Gajah Mada, menyatukan Nusantara. Pada saat niat mulianya tersebut ingin dilaksanakan, datang utusan dari Mongol yang minta Jawa tahluk pada Chung Kuo (sebutan lain untuk bangsa Cina / Mongol).

Prabu Kertanegara pitam. Utusan Cina itu, si Meng Qi bahkan dirusak wajahnya (potong kuping) dan disuruh menghadap kaisarnya…. “bilang sama rajamu, Singosari tak sudi dijajah Cina!”

Keberanian Kertanegara bukan sembarangan. Dia ketakutan sebenarnya. Bayangkan, Mongol yang sudah menguasai 3/4 dunia. Apalah artinya Jawa yang bisa dikatakan negri selalu becek ini (karena sering hujan). Oleh karenanya Kertanegara melakukan ekspansi kekuatan ke seluruh nusantara. Khususnya menggalang kekuatan politik di sebelah barat nusantara, ke Kerajaan Melayu, menghabiskan sisa sisa Sriwijaya, Campa dan sebagainya. Gerakan ini dikenal dengan ekspedisi PaMalayu.

Prabu Kertanegara melakukan ekspedisi Pa Malayu, dia lupa bahwa ada penghianat licik keturunan bangsawan asli dari Kediri, yaitu Jayakatwang. Asal tahu saja, nenek moyang Kertanegara bukan bangsawan. Tapi preman pasar bernama Ken Arok yang berhasil merebut kekuasaaan dari nenek moyang Jayakatwang. Dendam lama ini rupanya tak putus. Jayakatwang memberontak saat tentera Singosari banyak dikirim ke Swarnadwipa (sebutan Sumatera saat itu).

Jayakatwang sukses menobatkan Kertanegara menjadi raja terakhir Singosari. Namun Jayakatwang tidak membabat habis keluarga Kertanegara. Ada menantu Kertanegara yang asli keturunan Ken Arok yang bernama Raden Wijaya yang dibuang ke tanah terik gersang yang hanya bisa ditanami buah Maja. Dia juga membiarkan ke 4 putri Kertanegara masih bernapas.

Diam diam, Raden Wijaya dendam. Dia menyusun kekuatan tentaranya sendiri.

Sialnya… Jayakatawang lengah akan kekuasaan barunya. Dari hanya seorang raja bawahan di Kediri, dia sekarang adalah raja diraja Singosari yang sudah berdaulat di hampir separuh Nusantara.

Tidak menyangka Tentara Mongol datang lagi. Tujuannya ingin menggantung raja Jawa. Pokoknya raja Jawa. Mereka sama sekali tidak tahu sudah terjadi suksesi politik di Jawa. Bukan lagi Kertanegara yang berkuasa. Tapi Jayakatwang. Mereka tidak tahu bukan Jayakatwang yang motong kuping si Meng Qi. Pokoknya gantung raja Jawa. Dengan begitu Jawa tahluk ke Chung Kuo.

Tentu saja Jawa bukan tandingan Mongol. Apalagi kemudian Raden Wijaya yang berani dan cerdik luar biasa merasa ada peluang untuk menjaga kedaulatan Jawa dari raja lemah seperti Jayakatwang. Raden Wijaya membonceng tentara Mongol yang mencari raja Jawa. Dalam sekejab, pertempuran tak bisa dihindari, dengan hasil yang jelas…. Jawa kalah telak dari Mongol.

Mongol membawa Jayakatwang ke Laut Jawa. Disana raja malang itu digantung. Tentara Mongol kesenangan. Mereka bersuka-cita karena berhasil mengambil alih tanah Jawa. Memang tak ada istilah gagal dalam invasi Mongol. Kemanapun mereka masuk, mereka pasti menang. Tentara Mongol dimabuk kemenangan. Mereka berpesta pora, mabuk-mabukan berhari-hari lamanya.

Disaat Raden Wijaya melihat tentara Mongol ini sudah masuk ke fase mabuk kemenangan tak tertolongkan. Dia masuk menyerang dengan kekuatan penuh untuk menghancurkan tentara Mongol yang mau menjajah Jawa ini. Dengan kekuatan yang sebenarnya tak seberapa. Tapi dimenangkan penguasaan wilayah, otak pemimpin yang tak ada duanya. Musuh yang sedang terbuai. Maka terbunuhlah tentara-tentara Mongol itu. Sekali Lagi Nusantara diselamatkan dari kekuasaan asing.

Ini kekalahan Mongol paling memalukan sepanjang sejarah. Raden Wijaya kemudian memproklamasikan Kerajaan Majapahit sebagai kerajaan baru yang berasal langsung dari Singosari. Sebagai upaya pengamanan, Raden Wijaya lantas mengawini ke empat putri Kertanegara. Kebetulan Kertanegara tidak punya putra. Maka, dialah satu satunya saat itu yang paling berhak menduduki tahtah Jawa.

Panglima Mongol yang sudah kehilangan sedikitnya 3000 tentara dan dipengaruhi dengan iklim tropis yang lembab dan panas itu memutuskan untuk berlayar kembali ke tanah Mongolia dengan berbekal emas, budak dan hasil rampasan perang lainnya dari tanah Jawa.

Namun setelah ia kembali dengan sisa tentaranya, Kubilai Khan menjadi marah besar setelah mendengar cerita ekspedisinya. Panglima Mongol tersebut diberi hukuman 16 cambukan dan setengah dari kekayaannya disita kerajaan.

Source Kisah Prabu Kertanegara Potong Kuping Utusan Cina Nuansa Indonesia
Comments
Loading...