Kisah Perlawanan Pak Sakera Hingga Mati Digantung Belanda

0 370

Kisah Perlawanan Pak Sakera Hingga Mati Digantung Belanda

Kisah Pak Sakera memang tidak banyak ditemukan dalam literatur buku-buku sejarah. Apalagi tokoh Madura yang dikenal berani melawan Belanda ini belum masuk sebagai pahlawan nasional. Namun demikian, perjuangan Sakera populer bagi masyarakat Jawa Timur, terutama di Pasuruan dan Madura dan tetap awet lewat cerita-cerita ludruk.

Bahkan kisah Pak Sakera ini juga pernah menghiasi layar televisi pada tahun 80-an. Misalnya lewat tayangan ludruk di TVRI maupun lewat film layar lebar yang dibuat pada 1982 silam dengan tokoh utama W.D. Mochtar sebagai Sakera.

Berdasar cerita tutur dan kisah-kisah dalam ludruk, Sakera bernama asli Sadiman lahir dari keluarga ningrat dari kelas MAS di Kelurahan Raci, Kota Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, pada abad 19 ketika negeri ini di jajah Belanda. Sakera tumbuh menjadi jagoan di daerahnya, sehingga akhirnya dia bekerja sebagai mandor di perkebunan tebu milik Pabrik Gula Kancil Mas Bangil di Pasuruan, Jawa Timur.

Tampang Sakera digambarkan sangar dengan kumis lebat dan udeng di kepala. Namun demikian dia bukan lah mandor jahat, tapi sebaliknya dia adalah mandor baik dan sangat memperhatikan kesejahteraan para pekerja hingga dijuluki sebagai Pak Sakera (Sakera dalam bahasa kawi artinya ringan tangan, akrab/banyak teman).

Sakera memiliki dua istri, yang pertama bernama Ginten sementara istri kedua bernama Marlena. Dia juga merawat keponakannya bernama Brodin. Kehidupan keluarga Sakera awalnya bahagia sebelum dia dicap sebagai pembunuh dan menjadi buron kompeni.

Kisah perlawanan Sakera bermula setelah musim giling selesai, yakni ketika pabrik gula tersebut membutuhkan banyak lahan baru untuk menanam tebu. Karena kepentingan itu, orang Belanda pemimpin pabrik gula itu ingin membeli lahan perkebunan yang luas dengan harga semurah-murahnya.

Dengan cara licik pimpinan pabrik menyuruh carik di Kampung Rembang agar menyediakan lahan baru bagi perusahaan dalam jangka waktu singkat dan murah dengan iming-iming harta dan kekayaan. Bisa ditebak, si carik silau dengan iming-iming harta sehingga bersedia memenuhi keinginan tersebut.

Si carik lalu menggunakan cara-cara kekerasan kepada rakyat untuk memenuhi ambisi perusahaan Belanda tersebut. Sakera yang melihat ketidakadilan ini mencoba selalu membela rakyat sehingga berkali kali upaya carik Rembang itu gagal. Dia lantas melaporkan hal ini kepada pemimpin perusahaan. Benar saja, pemimpin perusahaan marah dan mengutus wakilnya, Markus untuk membunuh Sakera.

Suatu hari di perkebunan para pekerja sedang istirahat. Mendadak Markus marah-marah dan menghukum para pekerja serta menantang Sakera. Sakera yang dilapori hal ini ikut marah dan membunuh Markus serta pengawalnya di kebun tebu tersebut.

Sejak saat itu Sakera menjadi buronan polisi pemerintah Hindia Belanda. Suatu saat ketika Sakera berkunjung ke rumah ibunya, di sana ia dikeroyok oleh carik Rembang dan polisi Belanda. Karena ibu Sakera diancam akan dibunuh maka Sakera menyerah dan memilih masuk Penjara Bangil.

Di Penjara, Sakera menerima siksaan bertubi-tubi dari polisi Belanda. Selama di penjara Pak Sakera selalu kangen dengan keluarga di rumahnya. Apalagi di rumah Sakera memiliki istri kedua yang sangat cantik bernama Marlena. Namun Malang nian nasib Sakera, keponakannya yang bernama Brodin rupanya diam-diam menaruh hari pada Marlena. Brodin yang merupakan remaja bengal, itu berhasil main serong dengan Marlena ketika Sakera di penjara.

Mendengar kabar perselingkuhan istri dengan keponakannya itu Sakera marah besar dan kabur dari penjara. Dia lalu membunuh Brodin. Dia lalu membalas dendam secara berturut turut dengan melakukan pembunuhan terhadap carik Rembang, dilanjutkan dengan menghabisi para petinggi perkebunan yang memeras rakyat.

Bahkan, kepala polisi Bangil pun ditebas tanganya dengan senjata khasnya ‘clurit’ ketika mencoba menangkap Sakera.

Karena kehabisan akal menangkap Sakera, akhirnya Polisi Belanda mendatangi teman seperguruan sakera yang bernama Aziz untuk mencari kelemahan Pak Sakera. Dengan iming-iming akan diberi imbalan kekayaan oleh Government Belanda di Bangil, Aziz menjebak Sakera dengan mengadakan tayuban, karena tahu Sakera paling senang dengan acara tayuban.

Benar saja, Sakera muncul hendak ikut menari tanpa sadar bahwa dia sebenarnya dijebak. Sakera pun tertangkap setelah ilmunya dilumpuhkan dengan dipukul memakai ‘bambu apus’ sebagai kelemahannya. Belanda akhirnya berhasil menangkap kembali Pak Sakera yang kemudian diadili oleh Government Bangil dan diputuskan untuk dihukum gantung.

Pak Sakera gugur digantung di penjara Bangil. Dia dimakamkan di Bekacak, Kelurahan Kolursari, daerah paling selatan Kota Bangil. Cerita Sakera ini tidak terdokumentasikan dengan baik karena kondisi masyarakat waktu itu. Apalagi kondisi masyarakat juga kurang peduli dengan perjuangan anti-Belanda.

Konon dalam kehidupan pribadinya, Pak Sakerah selalu berhubungan dengan teman-teman seangkatan semasa Diponegoro, termasuk dengan orang-orang dari kalangan ningrat pada waktu itu. Tapi karena kerendahan hati Sakera dia tidak mau dipanggil sebagai raden mas, dan cukup dipanggil Sakera saja.

Source Kisah Perlawanan Pak Sakera Hingga Mati Digantung Belanda Sejarahri.com
Comments
Loading...