Kisah Pangeran Benawa Tinggalkan Tahta Demi Stabilitas Negara

0 106

Kisah Pangeran Benawa Tinggalkan Tahta Demi Stabilitas Negara

Melihat pada sejarah masa silam, banyak pemimpin-pemimpin yang sebenarnya layak untuk dicontoh keberhasilannya dalam mengatasi krisis seperti yang dialami Bangsa Indonesia saat ini. Para pemimpin itu telah lahir sebelum Indonesia merdeka, bahkan pra penjajahan. Namun, nampaknya suri tauladan inilah yang tak lagi diindahkan oleh para pemimpin bangsa ini, sehingga laksana tak ada lagi jejak-jejak bangsa besar dan pemimpin besar di bumi Nusantara ini.

Dahulu kala ada pemimpin yang rela melepaskan tahtanya demi stabilitas negara dan kemakmuran rakyatnya saat terjadi gunjang-ganjing politik dan ekonomi di negaranya. Dialah Pangeran Benawa, putra mahkota dari Sultan Hadiwijaya atau Mas Karebet, atau disebut Joko Tingkir, Raja Pajang.

Pangeran Benawa adalah figur putra raja yang tulus ikhlas. Dia menjadi raja Cuma sebentar. Berhubung banyak orang yang berambisi untuk menjadi penguasa, dia malah rela untuk menjadi pertapa saja. Tahta diserahkan kepada kakak angkatnya, Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati (putra Ki Ageng Pemanahan), yang dianggap punya moralitas, kapasitas, profesionalitas, dan integritas (Purwadi:2008).

Pangeran Benowo turun gunung setelah ayahandanya wafat pada 1582.  Ia hanya memerintah Pajang yang bukan lagi kerajaan besar, karena Sutawijaya kakaknya memindahkan tahta Pajang Ke Mataram. Itu membuktikan bahwa Pangeran Benowo bukanlah pemimpin yang haus akan kekuasaan dan menduduki takhta karena amanah ayahanda dan rakyatnya.

Dalam versi berbeda (dalam Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi), keutamaan sifat Pangeran Benawa yang lembut hati dan tidak haus kekuasaan adalah ketika ditugasi ayahnya untuk mengetahui loyalitas Sutawijaya terhadap kerajaan Pajang. Waktu itu Benawa berangkat bersama Arya Pamalad (kakak iparnya yang menjadi adipati Tuban) dan Patih Mancanegara.

Sutawijaya menjamu ketiga tamunya dengan pesta. Putra sulung Sutawijaya yang bernama Raden Rangga tidak sengaja membunuh seorang prajurit Tuban yang berlaku tidak baik. Hal itu membuat Arya Pamalad murka dan mengajak rombongan pulang.

Sesampai di Pajang, Arya Pamalad melaporkan keburukan, bahwa Sutawijaya berniat memberontak terhadap Pajang. Sementara itu Benawa melaporkan hal yang objektif tentang kebaikan Sutawijaya, bahwa terbunuhnya prajurit Tuban karena ulahnya sendiri.

Meski akhirnya Mataram terbukti memerangi Pajang tahun 1582, dan berakhir dengan kematian Hadiwijaya, Benawa tetap memposisikan sebagai negarawan sejati yang mementingkan rakyat. Ia yang seharusnya naik takhta rela disingkirkan oleh kakak iparnya, yaitu Arya Pangiri (Adipati Demak). Benawa kemudian menjadi Adipati Jipang Panolan.

Namun melihat ketidak adilan rezim Arya Pangiri, hingga rakyat menderita, pada tahun 1586 ia bersekutu dengan Sutawijaya untuk menurunkan Arya Pangiri. Dikisahkan, Arya Pangiri hanya sibuk menyusun usaha balas dendam terhadap Mataram. Orang-orang Demak juga berdatangan, sehingga warga asli Pajang banyak yang tersisih. Akibatnya, penduduk Pajang sebagian menjadi penjahat karena kehilangan mata pencaharian, dan sebagian lagi mengungsi ke Jipang.

Persekutuan Benawa dan Sutawijaya terjalin. Gabungan pasukan Mataram dan Jipang berhasil mengalahkan Pajang. Arya Pangiri dipulangkan ke Demak.

Benawa lagi-lagi menunjukkan sebagai pemimpin yang tidak bernafsu kekuasaan dengan menawarkan takhta Pajang kepada Sutawijaya. Namun Sutawijaya menolaknya. Ia hanya meminta beberapa pusaka Pajang untuk dirawat di Mataram. Sejak itu, Pangeran Benawa naik tahta menjadi raja baru di Pajang bergelar Prabuwijaya (Purwadi:2007).

Dalam catatatan Amien Budiman pada babad tanah jawi, pangeran benawa hanya bertahta selama satu tahun. Ia  memilih menyingkir dari hiruk pikuk politik perebutan kekuasaan, berkelana untuk berbuat kebaikan untuk rakyat jelata dan akhirnya bermukim di Hutan Kukulan Kendal Jawa Tengah, hingga wafat.

Source Kisah Pangeran Benawa Tinggalkan Tahta Demi Stabilitas Negara Jogjakartanews.com
Comments
Loading...