Kisah Mistik Mbah Petruk dari Lereng Utara Merapi

0 368

Kisah Mistik Mbah Petruk dari Lereng Utara Merapi

Warga sekitar Gunung Merapi, khususnya di Desa Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, meyakini sosok gaib yang bersemayam di puncak Merapi. Dia adalah Ki Petruk atau akrab di telinga masyarakat Selo dengan sebutan Mbah Petruk.

Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Boyolali, Sumantri, keberadaan Mbah Petruk memang sudah lama dipercayai masyarakat setempat sebagai penguasa gunung Merapi. Masyarakat Selo, kata Sumantri, juga yakin bahwa si empunya Merapi ini akan memberi tahu warga jika Merapi sewaktu-waktu meletus.

“Kalau Mbah Marijan sosoknya ada, sedangkan Mbah Petruk ini gaib. Biasanya Mbah Petruk mendatangi warga sekitar melalui mimpi,” katanya

Sumantri menjelaskan, sebagai bentuk penghormatan, masyarakat setempat kerap kali memberikan sesaji dengan tujuan agar mereka selamat dari bahaya, terutama letusan gunung berketinggian 2.914 itu.

“Walaupun warga tidak mau mengungsi kami di Selo sudah siap dengan keadaan apapun,” pungkasnya.

Walau Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) A Yogyakarta telah menaikkan level bahaya Merapi dari Siaga menjadi Awas, warga Desa Tlogolele, Selo, Boyolali, Jawa Tengah belum juga bersedia mengungsi.

Padahal, desa yang terdiri dari delapan dukuh dengan penduduk 2.522 jiwa itu masuk dalam kawasan rawan bencana tiga atau ring satu. Artinya, jika Merapi betul-betul meletus, desa yang hanya berjarak sekitar 6 kilometer dari puncak Merapi yang akan akan terkena dampak paling besar.

Sejumlah tokoh masyarakat Tlogolele, mengatakan mereka belum mau mengungsi karena berkeyakinan jika aktivitas Merapi saat ini belum membahayakan.

Pasalnya, sosok gaib penunggu gunung setinggi 2.914 mdpl yang biasa disebut Eyang Petruk itu belum memberi perintah untuk menyingkir.

“Biasanya kalau memang sudah gawat, Eyang Petruk akan memberikan pertanda melalui salah satu warga di sini. Bahwa Eyang mau punya gawe dan warga diminta untuk tidak menghalangi jalan,” kata salah seorang sesepuh desa tersebut Atmo Pawiro.

Kendati demikian, lanjut Atmo, jika nanti memang pemerintah desa menghendaki warga untuk mengungsi, mereka akan menurut. Tetapi tidak seluruhnya, sebagian warga terutama para lelaki dewasa akan tetap tinggal untuk menjaga desa. “Jangan sampai desa ini kosong melompong, itu tidak baik.

Source Kisah Mistik Mbah Petruk dari Lereng Utara Merapi Tribun Jogja
Comments
Loading...