Kisah Ken Arok yang Jadi Raja

0 108

Kisah Ken Arok yang Jadi Raja

Dalam perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan nusantara, raja tidak selalu berasal dari keturunan raja. Wilayah Indonesia pada dahulu kala pernah memiliki raja dari kalangan rakyat jelata. Bahkan, sosok rakyat jelata ini di masa mudanya pernah menjadi penjudi dan perampok yang ditakuti.

Tentunya perampok dan penjudi bisa menjadi raja tidak melalui cara biasa. Hanya jalan kudeta yang bisa menjadikannya seorang raja. Seperti yang pernah dilakukan Ken Arok yang mendapatkan tahta kerajaan Tumapel dengan membunuh Sang Raja, Tunggul Ametung. Ia kemudian menjadi permaisuri raja terguling, Ken Dedes, yang cantik jelita sebagai permaisurinya sendiri.

Ken Arok yang lahir pada tahun 1182 dari pasangan Gajah Para dari desa Campara dengan seorang wanita desa Pangkur bernama Ken Ndok. “Gajah” adalah nama jabatan setara “wedana” (pembantu adipati) pada era kerajaan Kediri. Sebelum Ken Arok lahir ayahnya telah meninggal dunia saat ia dalam kandungan, dan saat itu Ken Ndok telah direbut oleh Raja Kediri. Oleh ibunya, bayi Ken Arok dibuang di sebuah pemakaman, hingga kemudian ditemukan dan diasuh oleh seorang pencuri bernama Lembong.

Ken Arok tumbuh menjadi berandalan yang suka mencuri dan gemar berjudi, sehingga membebani Lembong dengan banyak hutang. Lembong pun mengusirnya. Ia kemudian diasuh oleh Bango Samparan, seorang penjudi dari desa Karuman (sekarang Garum, Blitar) yang menganggapnya sebagai pembawa keberuntungan.

Ia kemudian bersahabat dengan Tita, anak kepala desa Siganggeng. Keduanya pun menjadi pasangan perampok yang ditakuti di seluruh kawasan Kerajaan Kadiri.

Akhirnya, Ken Arok bertemu seorang brahmana dari India bernama Lohgawe, yang datang ke tanah Jawa mencari titisan Wisnu. Dari ciri-ciri yang ditemukan, Lohgawe yakin kalau Ken Arok adalah orang yang dicarinya.

Atas jasa Lohgawe, Ken Arok berhasil menjadi pengawal Tunggul Ametung, penguasan Tumapel, suatu daerah yang menjadi bagian Kerajaan Kadiri. Ken Arok kemudian tertarik pada Ken Dedes istri Tunggul Ametung yang cantik. Hal itu membuat Ken Arok berhasrat untuk merebut Ken Dedes, meskipun tidak direstui Lohgawe.

Untuk mewujudkan tujuannya membunuh raja, Ken Arok mencari keris yang sakti. Bango Samparan pun memperkenalkan Ken Arok pada sahabatnya yang bernama Mpu Gandring dari desa Lulumbang, sekarang Plumbangan, Doko, Blitar (Sukatman, 2012), yaitu seorang ahli pembuat pusaka ampuh.

Mpu Gandring sanggup membuatkan sebilah keris ampuh dalam waktu setahun. Namun dalam waktu lima bulan, Ken Arok sudah datang untuk mengambil pesanan. Keris yang belum sempurna itu direbut dan ditusukkan ke dada Mpu Gandring sampai tewas. Dalam sekaratnya, Mpu Gandring mengucapkan kutukan bahwa keris itu nantinya akan membunuh 7 orang, termasuk Ken Arok sendiri.

Kembali ke Tumapel, Ken Arok tidak langsung membunuh Tunggul Ametung. Ia meminjamkan keris pusakanya pada Kebo Hijo, rekan sesama pengawal. Kebo Hijo dengan bangga memamerkan keris itu sebagai miliknya kepada semua orang yang ia temui, sehingga semua orang mengira bahwa keris itu adalah milik Kebo Hijo.

Beberapa hari kemudian, Ken Arok mencuri keris pusaka itu dari tangan Kebo Hijo yang sedang mabuk arak. Ia lalu menyusup ke kamar tidur Tunggul Ametung dan membunuh majikannya itu di atas ranjang. Ken Dedes menjadi saksi pembunuhan suaminya. Namun karena takut dengan ancaman Ken Arok, Ken Dedes bungkam atas pembunuhan itu.

Pagi harinya, Ken Arok mempersalahkan Kebo Hijo atas pembunuhan itu dan menjatuhkan hukuman mati. Ken Arok lalu mengangkat dirinya sendiri sebagai penguasa baru Tumapel dan menikahi Ken Dedes. Tidak seorang pun yang berani menentang keputusan itu. Ken Dedes sendiri saat itu sedang mengandung anak Tunggul Ametung.

Pada tahun 1222 terjadi perselisihan antara Kertajaya raja Kadiri dengan para brahmana. Para brahmana itu memilih pindah ke Tumapel meminta perlindungan Ken Arok yang kebetulan sedang mempersiapkan pemberontakan terhadap Kadiri. Setelah mendapat dukungan mereka, Ken Arok pun menyatakan Tumapel sebagai kerajaan merdeka yang lepas dari Kadiri. Sebagai raja pertama ia bergelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi

Perang antara Kadiri dan Tumapel terjadi di dekat desa Ganter. Pihak Kadiri kalah dan Kertajaya mati. Beberapa saat kemudian, Ken Dedes melahirkan anak dari suami pertamanya, Tunggul Ametung, yang diberi nama Anusapati. Dengan Ken Arok, Ken Dedes melahirkan empat orang anak, yaitu Mahisa Wonga Teleng, Panji Saprang, Agnibhaya, dan Dewi Rimbu. Ken Arok juga memiliki selir bernama Ken Umang, yang telah memberinya empat orang anak pula, yaitu Tohjaya, Panji Sudatu, Tuan Wergola dan Dewi Rambi.

Dalam keseharian Anusapati mendapatkan perlakuan berbeda dari Ken Arok. Karena penasaran ia bertanya pada ibunya tentang bagaimana ia bisa mendapakan perlakuan yang berbeda dibanding dengan empat anak lainnya. Ken Dedes tak kuasa membuat pengakuan bahwa sebenarnya Anusapati anak Tunggul Ametung dan bahwa ayah kandungnya itu telah dibunuh oleh Ken Arok.

Mendengar pengakuan itu, dendam membara di dada Anusapati. Anusapati berhasil mendapatkan Keris Mpu Gandring yang selama ini disimpan Ken Dedes. Ia kemudian menyuruh pembantunya yang berasal dari desa Batil untuk membunuh Ken Arok. Ken Arok tewas ditusuk dari belakang saat sedang makan sore hari. Anusapati ganti membunuh pembantunya itu untuk menghilangkan jejak. Peristiwa kematian Ken Arok dalam naskah Pararaton terjadi pada tahun 1247.

Source Kisah Ken Arok yang Jadi Raja sejarahri.com
Comments
Loading...