Kirab dengan Kebo (Kerbau) Bule Tradisi Satu Suro di Pulau Jawa

0 80

Kirab dengan Kebo (Kerbau) Bule Tradisi Satu Suro di Pulau Jawa

Keraton Surakarta menggelar kirab dengan melibatkan kerbau. Kerbau ini bukan sembarang kerbau, melainkan jenis kerbau albino yang memiliki corak kulit berwarna putih dengan bintik kemerah-merahan. Masyarakat Solo menyebutnya Kebo Bule keturunan Kiai Slamet. Kerbau bule benar-benar dikeramatkan dan menjadi salah satu “pusaka” yang paling penting di Kasunanan Surakarta. Riwayatnya terdapat dalam beberapa literatur Jawa Kuno, seperti pada Babad Giyanti karya pujangga kuno dan Babad Sala karya Raden Mas Said yang juga bergelar Mangkunegara I. Kesemuanya mengisahkan bahwa nenek moyang Kebo Bule adalah binatang kesayangan Sunan Paku Buwono II.

Prosesi dimulai ketika ratusan abdi dalem, baik kakung maupun putri, memanjatkan doa-doa di depan Kori Kemandungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Seusai berdoa, para abdi dalem tersebut kemudian menyebar singkong dan taburan kembang tujuh rupa untuk menyambut kedatangan si Kebo Bule keturunan Kyai Slamet yang dikeramatkan itu. Konon, ritual baru akan dimulai bila Kebo Bule mau berjalan keluar kandang dengan sendirinya. Bila kerbau tersebut belum mau keluar kandang, maka prosesi ritual belum dapat dimulai. Tak ada satu pun yang berani memaksa kerbau tersebut keluar karena hewan tersebut sangat dikeramatkan.

Setelah kerbau tersebut telah tiba di depan Kori, para abdi dalem pun menyambutnya dengan penghormatan gaya kejawen, yakni berupa sungkem di depan kerbau, lalu mengalungkannya dengan untaian kembang melati dan kantil. Setelah itu, sang kerbau dibiarkan memakan tebaran singkong di depan Kori Kemandungan Keraton. Saat kawanan Kebo Bule tiba, banyak warga yang ingin menyentuhnya berharap guna mendapatkan berkah. Kondisi ini dihalau oleh para pengawal kirab lantaran Kebo Bule ini amat sensitif sehingga sentuhan-sentuhan warga dikhawatirkan dapat mengganggu jalannya kirab.

Kerbau-kerbau ini didampingi srati atau pawang kerbau berbaju putih. Empat ekor Kebo Bule keturunan Kiai Slamet memimpin jalannya kirab di barisan paling depan. Keluarnya kerbau-kerbau ini dari kompleks keraton menandai dimulainya prosesi kirab pusaka. Suasana hening mengiringi prosesi kirab. Para peserta kirab pun tak beralas kaki sehingga tidak terdengar keriuhan. Di belakang sang kerbau keramat, barisan punggawa kerajaan membawa tombak dan sejumlah koleksi pusaka milik Keraton Kasunanan Surakarta.

Kerbau yang berwarna bule ini menjadi dikeramatkan, didasari pada kisah Sri Susuhunan Paku Buwono II yang hendak mencari lahan untuk dijadikan Keraton yang baru. Ia mempercayakan kerbau (Kebo Bule Kiai Slamet) yang dimilikinya dari pemberian Bupati Ponorogo. Ketika itu, pusat pemerintahan masih berada di Keraton Kartasura. Kerbau itu dibiarkan saja berjalan sendiri, namun tetap diikuti para abdi dalem dari kejauhan. Ketika kerbau-kerbau itu berhenti di Desa yang bernama Sala maka dibangunlah keraton. Desa ini lantas terkenal menjadi Kota Solo dengan Keraton Kasunanan Surakarta sebagai istana kerajaannya.

Source https://1001indonesia.net/ https://1001indonesia.net/ritual-ritual-satu-suro-di-pulau-jawa/
Comments
Loading...