Kirab Budaya Syukuran Banyu Desa Pluneng

0 132

Kirab Budaya Syukuran Banyu Desa Pluneng

Pluneng merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Di Pluneng terdapat empat sumber mata air yang diberi nama Umbul Tirto Mulyono atau Umbul Gedhe, Umbul Tirto Mulyani, Umbul Dawe, dan Belik Sawahan Ngemplak. Umbul Tirto Mulyono biasa juga disebut Umbul Lanang yang artinya laki-laki. Dahulu, hanya ada satu Umbul, yaitu Umbul Tirto Mulyono yang digunakan laki-laki serta perempuan untuk berenang. Namun, atas perintah Sunan Pakubuwono X, para perempuan kemudian dipisahkan untuk berenang di Umbul Tirto Mulyani. Untuk sejarahnya sendiri, memang belum diketahui secara lengkap asal usul umbul ini.

Kirab Budaya Syukuran Banyu Pluneng ini diawali dengan para warga yang berbondong-bondong menyerahkan tumpeng dan hasil bumi di Balai Desa Pluneng. Para warga berjajar, sementara anak-anak menggunakan kostum dan pakaian adat Jawa. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan arak-arakan hasil bumi dan tumpeng oleh para warga menuju Umbul Tirto Mulyani. Arak-arakan ini dimulai dengan menyanyikan lagu-lagu jawa yang liriknya menggambarkan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan airnya dan hasil panen yang bagus di Desa Pluneng. Sementara anak-anak bersama-sama memainkan alat musik. Di Umbul Tirto Mulyani mereka mengambil air untuk dimasukkan ke dalam guci. Air ini biasanya akan disiram saat pagelaran wayang semalam suntuk. Selanjutnya, arak-arakan gunungan berlanjut ke Umbul Tirto Mulyono.

Di Umbul Tirto Mulyono inilah acara puncak terjadi. Ada empat orang yang menggunakan kain jarik masuk ke dalam air. Mereka menepakkan tangannya dengan air secara berirama, sehingga musik yang dihasilkan akan menyerupai suara gamelan dan terdengar sangat indah. Mereka melakukan ciblon dan menyanyikan lagu-lagu jawa yang ceria dan menunjukkan suka cita. Permainan air inilah yang disebut ciblon. Dalam bahasa jawa, ciblon sendiri memiliki arti permainan anak-anak saat saat mandi di sungai atau pemandian dengan cara menepak-nepakkan tangan pada permukaan air.

Selanjutnya, ada sepasang perempuan dan laki-laki yang menari di atas gethek. Gethek sendiri merupakan rakit kecil dari bambu yang biasanya digunakan untuk menyeberang sungai. Mereka melakukan tarian gethek dari arah selatan menuju ke utara Umbul Tirto Mulyono. Anak-anak kecil berenang bersama dan mendorong gethek itu menuju utara. Sepasang penari itu merupakan simbol dari Umbul Tirto Mulyono yang diwakilkan dengan laki-laki, dan Umbul Tirto Mulyani yang diwakilkan dengan perempuan. Penari laki-laki disebut Ki Tirto Mulyono, sementara penari perempuan disebut Nyai Tirto Mulyani. Acara ini kemudian dilanjutkan dengan perebutan gunungan oleh para warga serta makan bersama.

Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Kirab-Budaya-Syukuran-Banyu-Desa-Pluneng/
Comments
Loading...