Ketupat dalam Konteks Budaya Jawa

0 124

Ketupat dalam Konteks Budaya Jawa

Ada pemandangan berbeda pada pasar-pasar di Jawa dalam dua hari terakhir (H+5 dan H+6 Lebaran). Muncul mencolok barang-barang dagangan tertentu yang pada hari-hari biasa tidak ada atau sedikit ada, yakni daun kelapa muda (janur), wadah beras rebus dari anyaman janur (ketupat), nangka muda (tewel), dan daun pisang.

Tidak sulit untuk dapat menjelaskan latar fenomena dadakan ini, yakni jelang pelaksanaan “Bodo Kupat”. Saat ini adalah apa. “Prepekan” bagi Rioyo Kupat, yang bakal tiba pada hari lusa. Fenomena tersebut sekaligus menjadi indikator bahwa “Tradisi Kupatan” masih eksis pada kaum Muslim pemangku budaya Jawa.

Sebutan Khusus “Bodo Kupat”

Sesuai penamaannya, yaitu “Rioyo Kupat (Hari Raya Ketupat)”, unsur pokok dari rioyo (bodo) ini adalah kuliner khusus, yaitu penganan yang berupa ketupat (kupat). Bodo kupat masuk dalam lingkup Lebaran (Hari Raya Idul Fitri). Pelaksanaannya pada hari terakhir “Pekan Lebaran”, yakni H+8 Lebaran.

Berbeda dengan Bodo (Rioyo/Hari Raya) Idul Fitri yang diawali dengan Sholad Id di pagi hari, pada Bodo Kupat yang juga dimulai di pagi hari tidak menyelenggarakan ritual sholat. Kalaupun ada ritual doa, itu lebih merupakan doa keselamatan sebagaimana pada doa keselamatan-keselamatan (keslametan) lainnya.

Oleh karena ini Bodo Kupat adalah selamatan (slamrtan, kenduri), maka ada yang menyebutinya dengan “Slametan Kupat”, atau cukup disebut singkat dengan ‘”Kupatan”. Tak semua umat Islam melaksanakan Bodo Kupat. Ritus ini lebih merupakan ritus adat ketimbang ritus agama.

Oleh karena itu, tidak menyelenggarakan pun tidak dipandang sebagai tidak menjalankan syariat agama dalam Islam. Kendati lebih merupakan ritual adat, namun nuansa keadamaan yang Islami tampak cukup kental, seperti terlihat pada: (a) pelakunya, yang sebagian besar adalah umat muslim, (b) doa yang dipanjatkan bersumber pada ayat suci Alqur’an, (b) selamatan acap dilakukan di masjid ataupun musholah, dan (d) diposisikan dalam satu rangkaian panjang dengan puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

Ada sebagian warga Muslim.di Jawa yang memposisikan Bodo Kupat sebagai petanda berakhirnya (bakdo, ba’dal puasa Syawal di hari ke-2 s.d. Hari ke-7 Idul Fitri, sedangkan Bodo Idul Fitri dengan bakdo-nya puasa sebulan di bulan Ramadhan.

Bodo Kupat tak dilaksanakan di semua tempat di Indonesi. Tradisi ini hadir kuat di Jawa. Namun demikian, bukan berarti semua pemangku budaya Jawa melaksanakannya secara ajeg (konsisten). Meski demikian, nuansa sosio-budaya Nusantara, khususnya sosio-budaya Jawa tampak kental di dalamnya.

Selain itu, Bodo Kupat memiliki akar tradisi yang kuat, sebab dijalankan lintas genera, berlangsung sejak masa awal perkembangan Islam di Jawa hingga sekarang. Pelakunya pun terbilang luas di Jawa, sehingga cukup alasan untuk dikatakan sebagai “memasyarakat”.

Source https://www.terakota.id/ https://www.terakota.id/ketupat-dalam-konteks-budaya-jawa/
Comments
Loading...