Kesenian Yogyakarta: Tari Topeng Sih Pie Dewandini

0 58

Tari Topeng Sih Pie Dewandini

Tari Topeng Sih Pie Dewandini adalah sebuah tarian yang idenya diambil dari sejarah Babat Tanah Jawa yang menceritakan tentang peperangan antara Jenderal Sih Pie dari kerajaan Tartar Cina dengan Panglima Dewandini yang merupakan Panglima Perang Kerajaan Singosari. Peperangan ini terjadi sebelum masa kerajaan Majapahit. Krido Bekso Wirama yang merupakan salah satu sanggar tari klasik gaya Yogyakarta yang pertama kali keluar dari tembok Kraton Yogyakarta.

Sanggar ini didirikan oleh Gusti Pangeran Haryo Tejokusumo dengan Bendoro Pangeran Haryo Suryodiningrat. Beliau-beliau ini adalah putra dari Hamengku Buwono VII. Sanggar ini dulunya di Ndhalem Tejokusuman. Sekarang ini sanggar ini mempunyai di 3 tempat untuk berlatih, antara lain di Ndhalem Tejokusuman, Tirtodipuro dan Pendopo Ambarukmo. Pada tahun ini sanggar ini sudah seabad umurnya karena dulu berdirinya pada tanggal 17 Agustus 1918. Alamat Sanggar Krido Bekso Wirama di jalan S Parman no 16, tepat dibelakang Ndhalem Tejokusuman.

Dulunya tarian topeng merupakan tarian kerakyatan yang selalu tampil diluar tembok Kraton. Tapi oleh Krida Beksa Wirama tarian ini malah diangkat dan ditampilkan di Pendopo Kraton yang mana sudah melalui perbaikan-perbaikan dalam gerak, busana, riasan, iringan gendhingnya, yang mana kita ketahui bahwa tarian yang masuk di Kraton Yogyakarta harus memenuhi pakem-pakem yang sudah ada di dalam Kraton Yogyakarta atau lebih dikenal dengan Joged Mataram.

Gerak pada tarian ini terbagi menjadi dua dimana Dewandini gerakannya murni tari Jawa Klasik Khas Yogyakarta yang menitik beratkan pada gerakan pinggul dan jajakan wiron. Sedangkan gerak pada Sih Pie mengandung gerak culture Cina dengan jurus-jurus kungfunya. Inti dari gerakan tarian ini, karena keduanya memakai topeng yang merupakan benda mati, mereka harus dapat menghidupkan karakter dari topeng ini, dengan selalu melakukan gerakan kepala dengan teknik tertentu.

Busana yang digunakan kedua penari ini juga sangat berbeda. Dewandini menggunakan boro, stagen, sampur, sabuk, sumping, klat bahu, celana cindhe, kalung susun tiga dan topeng putih. Sedangkan jariknya menggunakan jarik dengan motip ceplok gordo atau parang gordo. Untuk irah-irahannya menggunakan gelung dan jamangnya dengan hiasan warna emas dan bentuk hiasannya melengkung. Sedangkan Sih Pie, busananya hampir semuanya menggunakan atribut culture Cina dari celana panjang, pakaian lengan panjang, hiasan kepala semua berwarna merah dengan hiasan warna emas. Juga menggunakan sabuk, jarik dengan motip culture Cina serta panji panji berupa bendera kecil dengan kombinasi warna kuning dan biru.

Untuk irama gendhing yang mengiringi Tari Topeng Sih Pie Dewandini, karena banyak adegan perangnya, awalan tarian menggunakan gendhing ketawang yang dilanjutkan adegan perang menggunakan gendhing playon. Pada adegan terahkir tetap menggunakan gendhing playon tapi temponya lebih dilambatkan. Kraton Yogyakarta sebagai bagian dari warisan adiluhung yang lestari keberadaannya sampai sekarang, merupakan embrio yang mampu memberikan spirit bagi pertumbuhan dinamika dalam kehidupan berkebudayaan terutama dalam seni tari, seni budaya dan adat istiadat.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-topeng-sih-pie-dewandini/
Comments
Loading...