Kesenian Yogyakarta: Tari Srimpi Ronggo Janur

0 64

Tari Srimpi Ronggo Janur

Tari Srimpi Ronggo Janur merupakan sebuah tarian hasil penggalian rekontruksi dari naskah yang ada di dalam Kraton Yogyakarta, ini dilakukan pada masa Hamengku Buwono VIII. Dulu tarian ini aslinya kalau ditarikan sekitar 2,5 jam, tapi kemudian direkonstruksi di dalam gerak dan iringannya menjadi sekitar 15 sampai 20 menit. Inti dari tarian ini mengambil cerita dari kisah Mahabarata yang mengisahkan pertarungan antara Dewi Srikandi dengan Dewi Larasati.

Tarian ini ditarikan pada Pagelaran Pariwisata di Pendopo Srimanganti oleh ISI Yogyakarta, yang merupakan sebuah acara rutin yang digelar pada tanggal 21 Januari 2018 yang bertujuan sebagai tontonan bagi wisatawan lokal maupun asing yang datang mengunjungi Kraton Yogyakarta. Selain itu, pagelaran ini sebagai tempat dan sarana ekspresi bagi seniman-seniman Yogyakarta.

Tarian ini dulunya hanya ditarikan dan dinikmati oleh kalangan Kraton Yogyakarta saja, tetapi karena kemudian direkonstruksi, tarian ini sekarang bisa dinikmati oleh siapa saja diluar Kraton Yogyakarta, bahkan tarian ini sekarang malah jarang ditampilkan di dalam acara dalam Kraton Yogyakarta untuk penyambutan tamu-tamu agung.

Tari Srimpi Ronggo Janur pertama kali direkonstruksi sekitar tahun 1986/1987an. Tapi sebenarnya Tari Srimpi pada masa Hamengku Buwono VII-VIII itu sudah bisa dinikmati oleh orang-orang diluar Kraton Yogyakarta. Ini didasarkan dari cerita-cerita para penari Kraton pada masa itu. Tarian ini untuk penyambutan tamu-tamu agung seperti Gubernur, Residen, para pejabat Belanda waktu itu, tapi ternyata orang-orang luar Kratonpun diperbolehkan datang dan melihat tarian ini.

Menurut Doktor Bambang Pujasworo, dulu orang-orang diluar Kraton Yogyakarta yang ingin melihat tarian Kraton ada syarat untuk menyaksikan tarian-tarian ini dan itupun mudah sekali dilakukan oleh siapa saja. Syaratnya hanya membawa sebuah lidi, ini dengan maksud dan mempunyai makna yang sangat dalam. Dari lidi-lidi penonton ini kemudian dikumpulkan menjadi sebuah sapu yang nantinya sangat berguna sekali untuk membersihkan kotoran-kotoran yang tertinggal lepas acara di dalam Kraton Yogyakarta tersebut selesai.

Gerak Tari Srimpi ini menggunakan gerak tari dengan jenis Mirogo. Didalam gerak tari Srimpi sebagai tari Klasik Jawa ada namanya gerak baku atau pokok yang menunjukan sebagai karateristik tertentu, baru kemudian ada gerakan gubahan yang merupakan gerak yang dikreasikan atau pengembangan atas dasar gerak baku/pokok. Dan yang terakhir gerak mirogo, gerak ini merupakan gerak yang tidak mewakili karakter jadi bentuknya hanya sekaran atau kembangan saja.

Didalam Srimpi atau Bedoyo biasanya menggunakan gerak Mirogo yang banyak menggunakan gerak kembangan. Sedangkan untuk gerak utamanya dalam Tari Srimpi seperti gerak genceng, hudowo, astomingah, lembean maju, lembean mundur, nyewer uded, puspito pamarupan. Untuk gerak Genceng biasanya digunakan dalam semua jenis Tari Srimpi atau Bedoyo yang keaneka ragam jenisnya sangat banyak, dimana kesemua itu terserah dari penata tarinya apa yang mau digunakan untuk tari Srimpi yang dikreasikannya. Kosa gerak dalam Tari Srimpi ini semua sudah ada, tinggal ditata dan dikembangkan sesuai inspirasi dari penata geraknya.

Busana yang digunakan pada Tari Srimpi Ronggo Janur ini hampir sama dengan tari bedoyo yang lain seperti menggunakan dodotan, mekak, dimana pada tarian ini menggunakan baju tanpa lengan atau biasa disebut rompi dengan hiasan bulu di kepala, jamang, slepe, sampur, kain bawah yang menggunakan motip parang rusak, walaupun sebenarnya banyak juga yang menggunakan motip yang lain seperti motip parang barong, gembreng, klitik dimana ada yang pakai atau tidaknya memakai gordo.

Riasan pada tarian ini menggunakan riasan cantik yang memperkuat kecantikan penarinya ketika tampil dipanggung, selain itu pada tarian ini penari menggunakan dodotan seperti yang sering dipakai paes manten atau riasan yang sering di pakai oleh para manten dengan gelung bokornya pada rambut penari. Untuk iringannya memakai Gamelan Jawa Klasik dengan iringan gamelan laras slendro.

Keberadaan tari Klasik Yogyakarta yang dulunya hanya tumbuh di lingkungan Kraton Yogyakarta setelah direkontruksi malah menjadi tumbuh dan berkembang di luar Kraton, yang dalam hal ini menjadi penyelamatan Tari Simpi dari kepunahan. Bahkan sekarang Tari Srimpi Ronggo Janur juga sangat jarang sekali ditarikan di dalam Kraton Yogyakarta sendiri. Dengan semangat rekonstruksi ini memberikan nilai plus dalam pelestarian dan pengembangan yang real yang dilakukan oleh grup-grup tari binaan Kraton Yogyakarta serta para akademis seperti ISI Yogyakarta. Semoga semangat ini menjadi virus yang menular bagi siapa saja yang ada di Indonesia khususnya Yogyakarta.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-srimpi-ronggo-janur/
Comments
Loading...