Kesenian Yogyakarta: Tari Srimpi Pandelori

0 68

Tari Srimpi Pandelori

Tari Srimpi Pandelori adalah sebuah tarian klasik asal Daerah Istimewa Yogyakarta yang menceritakan tentang pertempuran antara Dewi Sudarawerti dengan Dewi Sirtupilaeli dimana keduanya memperebutkan seorang Pangeran dari Negara Arab (Wong Agung Jayengrana) untuk dijadikan suaminya. Dalam pertempuran tersebut tidak ada yang menang maupun kalah karena kedua sama-sama sakti mandraguna, sehingga akhirnya keduanya malah berdamai, dan sama-sama menjadi istri Wong Agung Jayengrana.

Tari Srimpi Pandelori ditarikan oleh 4 orang penari yang mana komposisinya melambangkan empat mata angin atau empat unsur yang ada di dunia yaitu Grama (Api), Angin (Udara), Toyo (Air) dan Bumi (Tanah). Tarian ini merupakan seni tari adiluhung, sehingga bisa dianggap sebagai pusaka Kraton. Selain itu tarian ini dari awal hidup dan tumbuh di lingkungan Kraton Yogyakarta. Tarian ini diciptakan oleh KGAA Mangkunegoro V, yang mana tema tarian ini menggambarkan tentang pertikaian antara dua hal, baik dan buruk, benar dan salah yang selalu dikaitkan dengan kehidupan manusia di dunia ini.

Di dalam perannya, tarian ini dapat dikomposisikan  dalam 4 buah yaitu Batak, Gulo, Dhada dan Buncit. Komposisi ini melambangkan tiang utama pendopo yang berjumlah 4 buah. Dulu tarian ini awalnya ditarikan dengan durasi kurang lebih 1 jam, tapi seiring jaman, tarian ini di modifikasi dan dipadatkan menjadi 20 sampai 25 mnit tanpa mengurangi makna isi tarian yang syarat akan makna. Tarian ini dari dulu sampai sekarang dianggap sakral, karena dulu hanya dipentaskan dalam lingkungan Kraton yang rata–rata untuk acara kenegaraan sampai peringatan naik tahtanya Raja. Kemunculan tarian ini dari masa kejayaan Kerajaan Majapahit pada tahun 1613-1645 pada saat diperintah Sultan Agung.

Pada saat perpecahan kerajaan Mataram pada tahun 1775 M, menjadi kasultanan Yogyakarta dan Kasultanan Surakarta yang berimbas pada tarian ini. Dimana pada tarian Srimpi Yogyakarta digolongkan menjadi Srimpi Bahul Layar, Srimpi Dhempel dan Srimpi Genjung, sedangkan Kasultanan Surakarta digolongkan menjadi Srimpi Anglir Mendung dan Srimpi Bondan. Yang dalam perkembangan jamannya, tarian ini mulai dapat dilihat dan dipelajari oleh kalayak umum sejak tahun 1970 , kerena sebelumnya tertutup oleh tembok benteng Kraton. Busana yang dikenakan adalah pada bagian rambut digelung bokor dengan motip hiasan bunga ceplok dan jebehan, berbaju tanpa lengan dan hiasan kepala yang khusus dari bulu burung kasuari. Sedangkan propertinya menggunakan keris kecil (Cudrik) yang diselipkan pada pinggang depan menyilang ke kiri, jebeng, tombak kecil , jemparing dan pistol.

Irama yang mengiringi tarian ini menggunakan alat musik gamelan klasik Jawa dengan gendhing sabrangan untuk masuk dan keluarnya penari yang dibarengi dengan bunyi music tiup dan gendering dengan irama khusus. Pada bagian tarinya menggunakan gendhing-gendhing tengahan (gendhing ageng) yang berkelanjutan irama ketuk 4 disertai gendhing ladrang dan dilanjutkan ayak-ayak beserta srebegannya untuk adegan perangnya.

Untuk gerak tarinya sangat mengandalkan makna serta keindahan gerak tariannya, sehingga dapat dikelompokan  salam satu tarian maknawi.

1 Sembahan sila, seleh, ndhodhok. Berdiri, panggel, nggrudha (1x), mayuk jinjit. Nggrudha (3x) seblak noleh.
2 Sendhi gedrug kiri ajeng-ajengan.
3 Lampah sekar tawing kanan, tawing kiri, kengser, tekuk tangan kiri encot, gedrug kanan, pendhapan cangkol udhet (kiri).
4 Seleh kanan, sendhi minger adu kanan, cathok kanan-kipat. Pudhak mekar (seduwa kiri, kanan methentheng), mancat kanan encot 2x, sendhi ngracik adhep-dhepan, gedrug kanan maju, gedrug kiri seleh.
5 Tinting kanan (diagonal) encot, tinting kiri (tukar tempat), nglereg cathok kanan, kipat.
6 Mandhe udhet
7 Trisik (kembali tempat hadap belakang), maju kanan kipat kanan.
8 Ulap-ulap encot lamba, mancad kiri, sendhi minger.
9 Ngenceng encot 1x, sendhi maju kiri, minger, mayuk jinjit (berhadapan). Gedrug kanan nglereg, gedrug kiri ambil keris, gedrug kanan
10 Pendhapan minger kanan seleh tangan kanan, usap suryan dg. keris, mancad kiri
11 Trisik puletan, kembali tempat (berdekatan), nyuduk, encot-encot, nyuduk.
12 Pendhapan puletan, pindah tempat
13 Nyuduk, kengser ndhesek, 1-2 kanan ke, 3-4 ke kiri
14 2 dan 3 nyuduk, 1 dan 4 endha, 2 mengejar1, 3 mengejar 4,  trisik puletan, kembali tempat berdekatan, nyuduk, mundur bersama.
15 Maju kiri seleh kiri, gedrug kanan mancad kanan encot-encot,ingsut, encot-encot mancad gedrug kanan nglereg kanan, gedrug kiri nyarungkenkeris.
16 Nyamber puletan, kicat boyong, nggrudha jengkeng 1x, sendhi nglayang, nyembah, sila panggung. Sembahan ndhodhok, berdiri, kapang-kapang masuk, selesai

Tari Srimpi Pandelori tidak hanya membuat wisatawan  lokal maupu asing terpukau kala di tarikan di Pendopo Srimanganti, Kraton Yogyakarta. Semua unsur pada tarian ini sangat mempesona, dan tarian ini ditarikan oleh KHP. Krido Mardowo yang merupakan kelompok tari dari dalam Kraton Yogyakarta.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-srimpi-pandelori/
Comments
Loading...