Kesenian Yogyakarta: Tari Saraswati

0 33

Tari Saraswati adalah sebuah tarian tradisional yang merupakan alih wahana dari sebuah simbol logo Saraswati berupa angsa, sayap, bunga teratai, tasbih, vina dan lontar. Dari sinilah makna-makna ini menjadi gambaran secara keseluruhan yang diwujudkan dalam bentuk sebuah tarian yang menjadi ikon ISI Yogyakarta. Tarian ini juga mengambil makna tanggal berdirinya atau terbentuknya ISI Yogyakarta dengan angka 7 sebagai bulan Juli dengan memakai jumlah penarinya 7 orang, sayap dan sampur terbentang menggambarkan Dewi kebijaksanaan, pengetahuan dan seni yang berkarya didunia setelah turun dari khayangan.

Tarian Sarawati merupakan tarian khusus yang hanya ditarikan pada saat Sidang Senat terbuka, seperti penerimaan mahasiswa baru, wisuda, sidang senat dalam rangka dies natalis maupun pada saat penerimaan doktoris honoris causa, ujar Dr. Drs. Darmawan Dadijono MSn (salah satu kareografer tarian ini). Gerak dalam Tari Saraswati merupakan gabungan, explorasi dan pengembangan ragam gerak tari tradisi yang ada di Indonesia. Hal ini disebabkan karena ini Institut Seni Indonesia, mulai dari ragam gerak tari tradisi Jawa seperti Surakarta, Yogyakarta, Sunda, Bali yang diolah menjadi satu kesatuan.

Pola lantainya pun sangat menarik, karena tarian ini berpijak dari konsep Tari Bedhaya, tapi bukan Bedhaya Saraswati tapi Bedhayan dengan konsep penari dengan jenis kelamin yang sama dengan jumlah penari 7 (tari bedhaya ada dengan jumlah penari 7), kemudian memakai pola lantai seperti yang ada di Tari Bedhaya seperti gelar, motor mabur yang kesemuanya ini dikembangkan dalam Tari Saraswati. Tari Sarawati setiap tahunnya selalu mengalami perubahan walaupun kecil-kecil, hal ini disebabkan karena ingin membuat tarian ini menuju pada kesempurnaan sebuah tarian, juga karena yang menarikan setiap tahunnya juga beda.

Tari Saraswati terdiri dari beberapa adegan antara lain bagian introduksi, bagian utama (isi) secara substansial terbagi 3 bagian, yaitu bedayan, perangan, dan klimaks yaitu makarya (golong gilig), dan bagian penutup yaitu kapang- kapang golong gilig. Jika diambil kesimpulan maka koreografi tarian ini terbagi menjadi  introduksi, bedayan, perangan, klimaks ( yaitu makarya atau golong gilig,) dan penutup yaitu kapang- kapang golong gilig. Busana yang dikenakan dalam tarian ini pada bagian kepala menggunakan sanggul modern yang dihiasi dengan rajutan pandan, bunga melati dan bunga pink, dimana sanggul ini terispirasi dari sanggul bokor yang digunakan pada tari bedhaya dengan kombinasi paes Bali.

Busananya berupa dodotan alit dengan motip semen kakrasana yang diwiru, rok hijau dengan desain lipitan dibagian depan. Jariknya berlatar belakang hitam yang merupakan simbol kekuatan dengan motip semen kakrasana yang berhubungan dengan darat, laut dan udara. Motip ini berasal dari Surakarta yang dibuat pada jamannya Paku Buwana IX setelah abad ke 19. Motip ini menggambarkan keteguhan hati dan berjiwa kumawulo (merakyat). Sedangkan asesorisnya berupa selendang atau sampur warna hijau, gelang, kalung, klat bahu, slepe, subang, kalung susun 3, centhung bros, pelik, penutup sumping ron kates. Riasannya menggunakan riasan korektif cantik.

Iringan dalam tarian ini menggunakan alat musik gamelan klasik Jawa secara live show, dimana gendhingnya terbagi menjadi 3 bagian. Pada bagian pertama (introduksi) gendhingnya menggambarkan tentang kita manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang diberi kesucian hati dalam bentuk talenta seni digambarkan seperti bidadari bidadari menari dengan tenang, kemudian kedua (isi) pada bagian buka sampur yang menggambarkan inilah dunia manusia yang mempunyai harapan dan keinginan tapi selalu ada halangan dan rintangan dalam menjalaninya dan yang terakhir/ketiga (penutup) berisi tentang tanggung jawab manusia terhadap masyarakat dan dirinya sendiri dengan segala kebijaksaannya.

Sebuah tarian yang ditampilkan secara abstrak lewat petuah-petuah dan simbol- simbol. Substansi koreografi ini adalah penggambaran sosok insan ISI Yogyakarta atau “ajakan agar”, atau perenungan bahwa manusia adalah makhluk Allah yang diberi karunia sesuatu yang bersifat spiritual, seperti “jiwa manembah” dan jiwa seni. Karunia itu diabdikan dalam kiprahnya sebagai hamba Allah dan anggota masyarakat, khususnya sebagai warga ISI Yogyakarta untuk mengabdikan dirinya, “golong gilig” menyatu, saling bahu membahu menuju tujuan ISI di depan sana dengan berkarya, mengabdi kepada nusa dan bangsa, seperti apa yang tertuang pada visi misi ISI Yogyakarta, ujar Dra. Sri Hastuti, M.Hum.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-saraswati/
Comments
Loading...