Kesenian Yogyakarta : Tari Pancasari

0 91

Tari Pancasari yang merupakan sebuah tari yang berbicara 5 elemen dari tari-tarian yang ada di Indonesia .Tarian ini diciptakan oleh Didik Hadiprayitno, SST atau yang lebih dikenal dengan Didik Nini Thowok pada tahun 1980 an dan sampai sekarang tarian ini masih saja banyak penggemarnya baik dari kalangan muda sampai tua yang selalu merindukan tarian ini.

Tari Pancasari ini sifatnya merupakan sebuah tarian hiburan komedi (entertainment) yang bisa membuat siapa saja yang meilhat pasti akan tersenyum bahkan tertawa, sehingga sangat cocok ditarikan dimana saja karena sifat tariannya yang universal.

Tarian ini di tarikan di acara perayaan Natal bersama yang diselenggarakan oleh Jemaat Kristen Jawa Ambarukmo, yang kali ini perayaan Natal ini benar-benar spesial yang dirayakan di luar Gereja, tepatnya di Auditorium RRI 2 Gejayan Yogyakarta dari pukul 17.00 wib sampai selesai.

Terciptanya tarian ini dari inspirasi proses belajar menari beliau dari beberapa etnis di Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke. Beliau juga melihat banyaknya pengaruh seni budaya asing yang mempengaruhi seni budaya Indonesia, seperti Barat yang terlihat pada busana yang dikenakan tari Topeng Cirebon yang menggunakan kaca mata hitam dan kaos kaki.

Kemudian pengaruh unsur Cina dengan penggunakan busana otto pada tari Gandrung Banyuwangi seperti yang di gunakan Naca (asistennya Dewi Kuan In), kemuadian unsur India yang banyak terlihat terpahat di relief candi-candi Hindu berupa gerak  tari yang ada di Jawa.

Didik Hadiprayitno, SST lahir di Temanggung, tanggal 13 Nopember 1954. Karya-karyanya lebih cenderung bersifat komedi yang menghibur. Beberapa karya beliau yang fenomenal di Indonesia maupun manca negara seperti Pancasari, Dwi Muko dan Bedhaya Hagoromo.

Ada yang special pada Bedhaya Hagoromo, dimana penarinya semua penarinya adalah laki-laki (Bedhaya Kakung). Tarian ini diciptakan khusus untuk Sultan HB X yang merupakan kolaborasi tari Bedhaya Gaya Yogyakarta klasik yang ritual dengan koreografi dari Noh Drama dari Jepang.

Selama ini beliau telah menghakikan 9 karyanya dan 1 karya sanggul. Haki adalah hak cipta yang berlaku sampai 70 tahun sampai penciptanya meninggal. Ini semua dilakukan sebagai bagian dari pendidikan buat anak muda agar belajar menghargai karya orang lain dan mengerti tentang royalti.

Gerak dalam Tari Pancasari ini terpengaruh dari ragam gerak tari Cina seperti yang terlihat pada Kungqu opera Beijing yang berpusat di Nanjing Cina, ini terlihat dari penggunaan selendang panjang yang menggambarkan awan, laut dan air.

Tarian ini juga terpengaruh dari Barat dimana menggunakan gerak seperti robot (gerak patah-patah) yang mewakili dunia modern, kemudian terpengaruh juga dari India yang terlihat dari musik iringannya menggunakan musik dangdut, dan yang terakhir menggunakan ragam gerak nusantara Indonesia.

Busana yang dikenakan pada Tari Pancasari menggunakan rangkap 3, dimana pada bagian pertama berupa busana Cina, kemudian yang ke 2 busana Nusantara dan yang ke tiga busananya dalam kategori busana seksi dengan kaos kaki putih panjang. Ketiga busana rangkap 3 ini semuanya untuk mengekspresikan 5 karakter dengan topeng sebagai asesoris.

Iringan pada Tari Pancasari juga terbagi menjadi beberapa bagian, dimana pada bagian pertama menggunakan musik instrument Cina, kemudian yang kedua menggunakan gendhing Walang Kekek yang yang ketiga menggunakan musik robot, ke empat menggunakan musik Jaipongan dan kelima berupa musik dangdut.

Dengan keberagaman seni budaya yang di punyai Indonesia, kita harus benar-benar menghargai  itu sebagai perbedaan yang selalu di jaga. Ini semua sesuai dengan semboyan atau makna dari Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu. Tari Indonesia adalah keberagaman yang mewakili dari Sabang sampai Merauke, ujar Didik Nini Thowok.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-pancasari/
Comments
Loading...