Kesenian Yogyakarta: Tari Menak Rengganis Widaninggar

0 49

Tari Menak Rengganis Widaninggar

Kesenian Menak Rengganis Widaninggar adalah sebuah tarian yang diambil dari serat Menak, dimana tarian ini menggambarkan perang tanding Dewi Widaninggar dari kerajaan Tartaipura yang membalaskan kematian saudaranya Dewi Adaninggar di tangan Dewi Kelaswara. Dalam peperangan ini Dewi Widaninggar berhadapan dengan senopati wanita bernama Dewi Rengganis, yang dalam peperangan ini akhirnya Dewi Widaninggar harus mengakui kesaktian dan keunggulan Dewi Rengganis, sehingga dia harus takluk dan bersujud dihadapan Dewi Rengganis.

Tarian ini merupakan salah satu tarian klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dimana ide tarian ini didapat beliau ketika melihat pertunjukan wayang golek menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari daerah Kedu pada tahun 1941. Dari sinilah maka beliau dibantu oleh seniman-seniman tari dan karawitan Kraton Yogyakarta menciptakan tarian ini, dimana gerak tariannya mengambil dari wayang golek kayu. Dari awal tarian ini diciptakan, banyak sekali penyempurnaan-penyempurnaan sehingga mencapai bentuknya yang disaksikan sekarang ini.

Untuk geraknya tarian ini mengambil gerak dasar dari wayang golek kayu tetapi memakai pakem gerak Joged Mataraman sebagai pedoman baku tari klasik gaya Yogyakarta. Geraknya juga di modifikasi yang bertitik berat pada lambung serta gerak kakinya dibuat ringan. Sedangkan struktur polanya mengikuti pola wayang orang yang dibatasi pola gerak pada persendian. Gerak tari ini juga memasukan unsur gerak Pencak Silat Sumatra Barat. Ide ini didapat dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX, ketika menyaksikan suguhan Pecak Silat Gaya Sumatra Barat ketika berkunjung di daerah Bukit Tinggi.

Dari segi busana yang dikenakan, karena tarian ini mengambil dari Serat Menak yang berhubungan dengan napas Agama Islam yang menjadi latar belakangnya, maka seluruh penarinya menggunakan busana lengan panjang yang terbuat dari bahan beludru bersulamkan emas. Sedangkan busana pelengkap lainnya menggunakan celana cindhe, kain panjang rampakan, kampuhan, cincingan atau seredan, sondher (selendang) cindhe dan asesoris jamang (hiasan kepala) dengan lancur atau bulu, sumping, klat bahu (gelang tangan) dan kalung susun tiga. Pada Jamang ada yang khas pada tarian ini dimana terdapat puthutan/dulban yang menyerupai sorban, ada pula untaian mote-mote warna emas yang dipakai oleh penari Cina.

Properti yang digunakan biasanya menggunakan senjata keris dan panah, tetapi kadang juga memakai pedang, sabet, tombak panjang maupun rantai. Untuk melihat tarian ini secara utuh, kedua penari menggunakan burung garuda yang merupakan piranti lambang kegagahan pada tari klasik Yogyakarta. Dari segi iringan gendhingnya pada tarian ini, umumnya menggunakan gamelan klasik Jawa berlaraskan pelog. Teknik kendangnya adalah batang, yang mengadopsi kendangan dari daerah Sunda yang dimodifikasi dengan instrument kecrek dan keprak atau dhodhogan seperti yang biasanya dipakai pada pertunjukan wayang kulit.

Dalam versi drama tari, Beksan Menak Rengganis Widaninggar ini disajikan dialog yang menggunakan bahasa Jawa Bagongan, yang merupakan modifikasi bahasa Jawa ragam madya dengan 11 kosa kata yang berbeda, seperti maniro yang berarti saya dan pakeniro yang berarti kamu. Ini semua sangat berbeda dengan bahasa Jawa yang ada dalam teks Serat Menak. Satu hal yang harus diakui, bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah orang yang telah berhasil mendorong terwujudnya sebuah hasil karya tari yang unik serta mampu menjadi salah satu ikon seni dan budaya Jawa yang bersumber dari Kraton Yogyakarta, yang terus dikembangkan dan dilestarikan sampai sekarang ini.

Source https://myimage.id https://myimage.id/beksan-menak-rengganis-widaninggar/
Comments
Loading...