Kesenian Yogyakarta: Tari Lelangenan Beksa Banjaransari

0 37

Tari Lelangenan Beksa Banjaransari

Tari Lelangenan Beksa Banjaransari merupakan sebuah tarian yang dasar ceritanya dari gubahan dan berkenannya K.G.P.A.A Paku Alam X, Lelangenan Beksa Banjaransari digubah berdasarkan naskah Banjaransari. Ini merupakan tarian ketiga yang ditampilkan pada Gelar Karya Dosen 2017 di Auditorium Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesi Yogyakarta, jalan Parangtritis KM 6,5 Sewon, Bantul Yogyakarta pada tanggal 11 November 2017 dengan tema “ Keberagaman Warna Satu Rasa”.

Tari Lelangenan Beksa Banjaransari  ini juga berdasarkan cerita naskah karya sastra yang bersumber dari siklus panji yang ditulis pada masa K.G.P.A.A Paku Alam IV (bertahta 1864-1878), dimana Raden Banjaransari adalah Putra Raden Inu Kertapati dari Kerajaan Kediri. Pada naskah ini diceritakan ketika banjir besar menimpa Kerajaan Kediri, Raden Banjaransari bersama abdi setianya terhanyut sampai diwilayah Kerajaan Segaluh yang diperintah oleh seorang ratu yaitu Ratu Dewi Rayungwulan.

Dengan mengatasi berbagai rintangan, Raden Banjaransari berhasil menguasai dan menaklukan kerajaan Segaluh serta  berhasil mempersunting ratunya yaitu Dewi Rayungwulan. Tarian ini di bingkai dalam bentuk Beksan Srimpi tradisi Putra Pakua Alam dan secara khusus dan spesial Permasuri K.G.P.A.A Paku Alam X, yaitu G.K.B.R.A.A. Paku Alam berkenan menciptakan motif batik yang dikenakan sebagai busana oleh ke 4 penari ini. Motif batik yang dikenakan pada penari ini dinamakan “Mejarsari Ceplok Sestardi” dimana semua ini digali dan dikembangkan dari naskah-naskah lama Puta Paku Alam  beserta rerengan atau biasanya.

Iringan pada tarian ini menggunakan irama gamelan, dimana disini gamelan benar-benar sebagai menjadi penuntun emosi, suasana serta membawa karakter dari Raden Banjaransari dan Dewi Rayungwulan  dalam  perjalanan keduanya sampai menjadi suami istri. Sebuah pertunjukan tari yang penuh aura magic dengan bagusnya mampu diperlihatkan oleh ke 4 penari ini. Tarian yang dulunya hanya di perlihatkan di acara-acara Kraton, sekarang dengan era yang lebih terbuka, diperlihatkan di kalayak umum. Hal ini sangat berguna untuk kelangsungan tarian ini yang merupakan harta tak ternilai atau adi luhung,  harus dilestarikan sampai akhir hayat oleh masyarakat Indonesia.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-lelangenan-beksa-banjaransari/
Comments
Loading...