Kesenian Yogyakarta, Tari Kijang

0 15

Tari Kijang adalah sebuah tari garapan baru yang menggambarkan tentang keceriaan anak-anak dalam menirukan gerakan binatang kijang  yang ada di dalam hutan yang sedang bermain dan mencari makan rumput. Tarian ini mengandung makna tentang keceriaan serta keindahan kebersamaan serta kedamaian di dunia.

Ide tarian ini didapat manakala dulu teringat masa kecilnya, Dr. KRT Sunaryadi Maharsisworo, SST, M.Sn mempunyai  binatang kijang betina yang hidupnya di biarkan diseputaran rumahnya. Kadang-kadang kijang ini berkeliaran diseputaran rumahnya dan berjalan-jalan di sekitar rumah tetangga. Dari sinilah beliau waktu kecil sangat tertarik dengan tingkah laku binatang kijang. Binatang ini penuh dengan keceriaan dan kedamaian dalam hidupnya, bergerak kesana kemari, melompat-lompat penuh dengan keceriaan.

Tari Kijang adalah salah satu beksan ciptaan dari Dr. KRT Sunaryadi Maharsisworo, SST, M.Sn yang ditampilkan di pusat sanggar tari Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram pada tanggal 14 Mei 2018 jam 20.00 wib. Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram (POSRAM) adalah sebuah sanggar tari klasik gaya Yogyakarta dan tari modern yang berdiri pada tanggal 9 Juli 1984 yang didirikan oleh Dr. KRT. Sunaryadi Maharsisworo, SST. M. Sn. Sanggar tari ini mempunyai base camp di jalan Gedongkiwo MJ I/886 Yogyakarta 55142- Indonesia.

Acara ini merupakan  Program Penguatan Lembaga Seni dari Dinas Kebudayaan DIY dengan maksud dan tujuan untuk lebih menghidupkan seni budaya di DIY melalui sanggar-sanggar tari klasik maupun kreasi baru agar lebih kreatif untuk menciptakan tarian-tarian yang baru tapi masih mengaju pakem yang ada di dalam Kraton yang berguna untuk pelestarian tari klasik gaya Yogyakarta pada umumnya. Dalam acara ini, beliau menampilkan 7 tarian kreasi yang diciptakan pada tahun 2018 semua. Tarian-tarian tersebut antara lain Tari Topeng Asmarabangun, Tari Kijang, Tari Topeng Sekartaji, Beksan Retno Mataya, Srimpi Jatining Panembah, Kumbokarno Hanoman serta Beksan Wastra Rinakit.

Ragam gerak Tari Kijang ini didapat dari mengamati gerakan kijang sehari-hari, mulai dari mencari makan, melompat dan berlari yang dikombinasikan dengan ragam gerak tari klasik gaya Yogyakarta. Sehingga ragam geraknya menjadi kombinasi yang utuh, yang semuanya dituangkan dengan melakukan observasi dari pengamatan binatang kijang aslinya. Ragam gerak ini juga terinspirasi dari cerita Ramayana, manakala pada adegan “Dewi Shinta hilang” ada adegan binatang kijang yang sangat menarik perhatian Dewi Shinta. Selain itu, beliau menciptakan  tarian ini, khusus buat anak-anak agar mereka mencintai dunia tari. Dengan memasuki dunia anak-anak,  tarian ini dapat dijadikan repertoar tarian anak-anak.

Busana yang dikenakan dalam tarian Kijang ini, pada bagian kepala atau irah-irahannya dibuat menyerupai kepala Kijang dengan dua tanduknya. Pada bagain kastum bawahnya dibuat sedikit kreasi yang simple, mudah serta tidak susah untuk anak-anak kala memakainya, dengan memakai rampak. Rampak adalah kain yang sudah dipola dan dipotong-potong yang langsung dipaskan pada badan anak-anak. Warnanya cenderung kuning keemasan disesuaikan dengan warna kulit kijang aslinya dengan sedikit variasi.

Iringan gendhing dalam tarian ini termasuk dalam jenis garapan, dimana kebanyakan didalamnya penuh dengan keindahan dengan memakai gendhing lancaran yang dikombinasikan dengan mainan demung, balungan saron kemudian dikombinasikan lagi dengan tembang-tembang yang isinya menceritakan tentang kelincahan kijang dalam kehidupannya. Dengan menciptakan sebuah tarian anak-anak yang disesuaikan dengan dunia mereka, tarian ini menambah khasanah tarian anak-anak yang sekarang ini lebih didominasi tarian buat orang dewasa yang dipaksakan ditarikan oleh anak-anak. Dengan membuat anak-anak ini merasakan dunianya, secara tidak langsung mereka akan menikmati tarian klasik maupun kombinasinya, akan membuat anak-anak ini mencintai tarian klasik maupun kreasi baru khususnya tarian anak-anak.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-kijang/
Comments
Loading...