Kesenian Yogyakarta: Tari Janoko Dewi Suprabawati

0 21

Tari Janoko Dewi Suprabawati

Tari Janoko Dewi Suprabawati adalah sebuah kesenian tari yang ceritanya diambil dari Epos Mahabharata dalam lakon Angkawijaya Palakromo, dimana tarian ini menceritakan tentang pertemuan cinta di medan perang antara Raden Janoko dengan Dewi Suprabawati dari Negara Simbarmanyuro yang menyerang kerajaan Dwarawati untuk meminta Dewi Siti Sendari.

Dalam peperangan ini Dewi Suprabawati yang berhadapan dengan Raden Janoko dari kerajaan Madukoro. Sepak terbang Dewi Suprabawati dihadapi oleh Raden Janoko dengan cumbu rayu. Dalam peperangan ini Dewi Suprabawati harus mengakui kesaktian dari Raden Janoko yang mana dia kalah dan takluk serta akhirnya dia malah diperistri oleh Raden Janoko dan diboyong ke kesatrian Madukoro.

Bentuk kareografinya pada tarian ini dibedakan antara putra dan putri, dimana ragam gerak untuk Raden Janoko bisanya disebut dengan “Impur Putra Alus” sedangkan untuk Dewi Suprabawatinya biasanya disebut dengan “Ngeceng Encot”. Gerak dan pola lantainya pada Beksan Janoko Dewi Suprabawati terbagi dalam beberapa tahapan, dimana awalannya yang biasa disebut dengan Maju Gendhing yang terdiri dari gerakan  seperti sembang silo, jengkeng, nggrudha kiri, ongklek, ulap-ulap tawing, kicet congkol udhet, trisik ngancep dan capeng.

Kemudian gerakan encel  yang terdiri dari panggel, ngregem udhet, pucang kanginan, lampah sekar, ongkek, ngacep putar kanan, muryani busono, pedhapen ngracek, kengser nethenteng, kipas asta usap suryan, ongklek, nyamber putar kanan, ulap-ulap cathok, panggel cathok dan tancep. Dalam gerak peperangan meliputi gerakan jeblosan, gapruk, nubruk, nyamplek, nyamber, nyrampeng nyriwing, nyuduk, nglambung, nglumpati, nitir, nggoling, ngoyak, nubruk endho dan nangkis.

Dan gerakan yang terkhir adalah mundur gendhing yang terdiri dari gerakan lambeyan mancet, sedhuwo, ulap-ulap enchot, pedhapan, tancep, kapang-kapang mundur dan panggel lengkeng. Busana yang dikenakan oleh raden Janoko terdiri dari boro, sabuk, sumping, klat bahu, slepe, kalung susun tiga, sampur, celana cindhe serta jarik dengan motip parang gordo, sedangkan jamngnya menggunakan jamang dengan bentuk lung-lungan (melengkung) yang menandakan dia adalah seorang kesatria.

Sedangkan Dewi Suprabawati memakai rompi dengan sulaman emas, klat bahu, cinde, kalung susun tiga, sumping, jamang bentuknya mahkota yang dihiasi bentuk-bentuk segitiga, slepe, sabuk, sampur dengan jarik parang rusak. Property yang digunakan pada tarian ini adalah keris. Iringan gendhing menggunakan gamelan klasik Jawa dimana iringan gendhingnya biasanya sesuai dengan kreasi creator penarinya, artinya disini pada tarian ini tidak ada pakemnya harus memakai gendhing apa sehingga dapat dibuat sekreatif mungkin.

Sebuah tari klasik gaya Yogyakarta yang sangat menginspirasi bagi seniman-seniman lainnya untuk dapat mengkreasi, mengembangkan dan melestarikan seni dan budaya Indonesia. Dengan diberikan sebuah wadah yang tepat, pasti seniman-seniman ini dapat mengapreasikan jiwa seni mereka, yang mana hal ini malah dapat disebut bagian dari pelestarian seni budaya Indoenesia yang ragamnya tidak terhitung. Kraton Yogyakarta mewujudkan semuanya ini dan sangat layak untuk mendapatkan apresiasi yang besar dari masyarakat Indonesia atas jasanya ini.

Source https://myimage.id https://myimage.id/beksan-janoko-dewi-suprabawati/

Leave A Reply

Your email address will not be published.