Kesenian Yogyakarta : Tari Golek Nawung Asmoro

0 140

Tari Golek Nawung Asmoro

Tari Golek Nawung Asmoro adalah sebuah tarian klasik gaya Yogyakarta yang menceritakan tentang seorang gadis remaja yang menginjak dewasa yang lagi senang berhias diri, bersolek atau mempercantik dirinya agar terlihat semakin cantik di lingkungannya yang ditarikan oleh Yayasan Sasminta Mardawa . Tari Golek Nawung Asmoro atau lebih familiar disebut Tari Golek Ayun -Ayun diciptakan oleh KRT. Samitadipura (Romo Sas) pada tahun 1976. Beliau adalah seorang ahli tari pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, IX dan X. Beliau sangat kreatif dalam usahanya agar tari klasik Yogyakarta dapat diminati oleh masyarakat terutama tarian wanita. Tarian ini biasanya ditarikan untuk menyambut tamu kehormatan (agung).

 

Yayasan Sasminta Mardawa didirikan sejak tahun 1962, yayasan ini bergerak spesifik pada pelatihan tari klasik gaya Yogyakarta dan karawitan sebagai bagian pendukungnya. Yayasan ini mengalami perjalanan yang panjang. Dulu awal tahun 1962 awalnya bernama Mardowo Budoyo. Karena animo masyarakat untuk belajar tari klasik ini besar dan banyak maka pada tahun 1976 dibuatkan satu wadah lagi dengan nama Pamulangan Bekso Ngayogyakarto (PBN), yang mana untuk Mardowo Budoyo untuk mengajar tari klasik untuk anak-anak, sedangkan Pamulangan Bekso Ngayogyakarto (PBN) untuk mengajar yang lebih dewasa. Yayasan ini didirikan oleh Alm. Sasmita Dipura (Romo Sas). Pada tahun 1988, untuk mengenang beliau akhirnya kedua yayasan ini dilebur menjadi satu dengan nama Yayasan Sasminta Mardawa yang berbasecamp di Ndalem Tejokusuman.

Tari Golek walaupun lahir di lingkungan dalam Kraton, tapi acuan geraknya menggunakan gerak tari ledhek yang lahir di masyarakat biasa, hal ini terlihat jelas karena menggunakan kareografi golek dengan gendhing ladrang ayun-ayun. Bisa dikatakan bahwa tarian ini merupakan perpaduan antara budaya kraton dengan rakyat (diluar tembok kraton), yang didalam Kraton disesuaikan dengan pakem-pakem yang sudah ada di dalam Kraton sejak dulu, mulai dari gerak, busana, riasan sampai iramanya. Tari Golek Nawung Asmoro dapat dikategorikan sebagai tarian tunggal yang mana dulunya hanya ditarikan oleh seorang saja, tapi dalam perkembangannnya tarian ini dimodifikasi oleh lebih dari satu penari, yang mana pola lantai dan komposisinya di variasi tergantung dari kreator tarinya. Hal ini karena tidak ada pakemnya di pola lantainya, beda dengan tari srimpi maupun bedhaya yang memang merupakan tari kelompok yang mempunyai pakem di pola lantai maupun komposisinya.

Untuk geraknya, karena Tari Golek Nawung Asmoro termasuk dalam tari klasik gaya Yogyakarta maka terbagi menjadi 3 bagian yaitu maju gendhing, inti beksan dan mundhur gendhing. Pola-pola ini semua mengaju pada pola-pola yang ada di panggung Pendopo Srimanganti Kraton Yogyakarta, yang dimulai dari sebelah kanan, kemudian bagian tengah atau panggung dan sebelah kiri setelah selesai pertunjukan. Semua geraknya mengaju pada gerak tari gaya Yogyakarta yang bersumber dari gerak tari wayang orang. Sedangkan ragam geraknya terdiri dari, awalnya disebut dengan maju beksan yang diawali dengan gerakan menyembah, kemudian inti beksan yang berisi muryani busono atau gambaran cara-cara seorang gadis  sedang berhias agar terlihat cantik dan menarik seperti gerakan memakai bedak (tarikan), bercermin (ngilo), memakai hiasan sanggul (atrap cundhuk), memakai jamang (atrap jamang), memakai sabuk ( atrap slepe) dan pada bagian akhir atau mundur beksan, seperti gerakan berjalan (kapang-kapang), mohon pamit dan diakhiri gerakan duduk sembahan (sila panggung).

Busana yang dipakai pada Tari Golek Nawung Asmoro ini memakai kain batik dengan motip parang gendreh, bagian atasnya menggunakan rompi bludru bersulamkan emas, dilengkapi dengan sondher/sampur, slepe yang di pakai dipinggang, jamang elar (terbuat dari bulu menthok), konde dengan sinyong serta pelik, ceplok jebehan, godhegan, cundhuk mentul, cundhuk jongkat, sepasang subang (ronyok), sumping, klat bahu, cincin, gelang klana dan kalung tanggalan (susun 3). Iringan Tari Golek Nawung Asmoro atau sering disebut dengan Tari Golek Ayun-Ayun, menggunakan gamelan klasik Jawa dengan gendhing ayun-ayun sesuai dengan nama tariannya. Biasanya tari golek ini nama dan gendhingnya sama namanya, walaupun ragamnya banyak, yang membedakan hanya iringan gendhingnya saja.

Tapi secara struktural gendhingnya memang ada bedanya, karena Tari Golek yang diciptakan Romo Sas ini ada tingkatannya secara historinya, dimana dimulai dari Tari Golek Sulung Dayung ini diperuntukan anak-anak, Tari Golek Tinembe, tarian ini diperuntukan untuk para remaja, Tari Golek Nawung Asmoro (Tari Golek Ayun-Ayun), ini diperuntukan untuk para remaja dewasa dan Tari Golek Lambang Sari ini diperuntukan untuk para wanita yang sudah menjadi wanita seutuhnya. Tari Golek Nawung Asmoro yang merupakan tari klasik gaya Yogyakarta yang mempunyai prinsip gerak yang pakem atau yang biasanya disebut joged Mataraman, dimana gerakan itu harus sawiji (konsentrasi), greged (penuh semangat), sengguh (percaya diri) dan ora mengkuh (pantang menyerah) yang semua ini dapat di tarikan  secara utuh dan bagus harus dengan latihan secara rutin. Sebuah tarian yang secara keseluruhan mempunyai makna sebagai lambang kehidupan yang berisi norma-norma yang dapat dijadikan tuntunan bagi seorang gadis/wanita khususnya, yang dapat memberi impresif sempurna pada penampilan sehingga memunculkan rasa percaya diri dengan segala potensinnya menjadi seseorang gadis/wanita secara utuh.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-golek-nawung-asmoro/
Comments
Loading...