Kesenian Yogyakarta: Tari Golek Kenyo Tinembe

0 25

Tari Golek Kenyo Tinembe

Tari Golek Kenyo Tinembe merupakan sebuah tari gaya Yogyakarta yang menggambarkan tentang keceriaan seorang remaja putri yang beranjak dewasa dan cantik yang sedang berhias dan bersolek, dengan gerakan tari yang gemulai. Tarian ini merupakan tarian tunggal putri yang disusun oleh KRT. Sasmintadipura pada tahun 1976, yang diperuntukan sebagai salah satu bahan pembelajaran menari gaya Yogyakarta.

KRT. Sasmintadipura memiliki jiwa dan kecintaan sebagai seorang guru yang ingin memberikan pengetahuan dan ketrampilan yang sangat praktis serta mudah dimengerti serta dipahami oleh para muridnya. Tarian ini sebenarnya ditujukan atau diperuntukan untuk remaja yang berumur 10 sampai 15 tahun yang ingin belajar tari golek gaya Yogyakarta, dimana tarian ini sebagai dasar pembentukan kepribadian anak terutama dalam pembentukan tingkah laku dan budi pekerti.

Sebelum terbentuknya Tari Golek Kenyo Tinembe ini, beliau telah menyusun bentuk-bentuk tari golek yang lainnya, dengan makna dan filosofi yang dalam seperti Tari Golek Cluntang, Tari Golek Mudatama, Tari Golek Langensuka dan masih banyak yang lainnya. Tari golek bersumber dari tari Klana Alus (Beksan Putra) yang mulai berkembang sejak abad ke 19. Dulunya tarian Golek ditarikan oleh seorang remaja putra yang berperawakan kecil dan berparas cantik.

Gerak Tari Golek Kenyo Tinembe varian kareografinya sangat sederhana dimana pola lantainya dibuat simetris. Gerak tarian ini disusun dengan irama, sehingga tercipta ekspresi yang jelas apa yang mau disampaikan isi dalamnya. Semua gerak tari gaya Yogyakarta berpedoman pada Joged Mataram, dimana harus selalu sawiji (konsentrasi), greged (penuh semangat), sengguh (percaya diri) dan ora mengkuh (pantang menyerah).

Geraknya terbagi menjadi 3, dimana awalnya disebut dengan maju beksan yang diawali dengan gerakan menyembah, kemudian inti beksan yang berisi gambaran cara-cara seorang gadis  sedang berhias agar terlihat cantik dan menarik seperti gerakan memakai bedak (tarikan), bercermin (ngilo), memakai hiasan sanggul (atrap cundhuk), memakai jamang (atrap jamang), memakai sabuk ( atrap slepe) dan pada bagian akhir atau mundur beksan, seperti gerakan berjalan (kapang-kapang), mohon pamit dan diakhiri gerakan duduk sembahan (sila panggung).

Busana yang dipakai pada Tari Golek Kenyo Tinembe ini memakai kain batik bercorak parang rusak, bagian atasnya menggunakan rompi bludru warna merah bersulamkan emas, dilengkapi dengan sondher/sampur, slepe yang di pakai dipinggang, jamang elar (terbuat dari bulu menthok), konde dengan sinyong serta pelik, ceplok jebehan, godhegan, cundhuk mentul, cundhuk jongkat, sepasang subang (ronyok), sumping, klat bahu, cincin, gelang klana dan kalung tanggalan (susun 3).

Iringan tarian ini menggunakan gamelan klasik Jawa dengan pola iringan gending hanya menggunakan bentuk gending ladrang irama I dan irama II. Biasanya tari golek ini nama dan gendhingnya sama namanya, walaupun ragamnya banyak, yang membedakan hanya iringan gendhinya saja. Inti dari tari golek sebenarnya sama semua, walaupun banyak sekali ragamnya seperti, tari golek surung dayung, tari golek ayun-ayun dan tari golek lambang sari.

Eksistensi dari Tari Golek Kenyo Tinembe selain sebagai tontonan juga sebagai hiburan yang didalamnya mengandung makna yang sangat dalam yaitu mencari jati/kepribadian sang penarinya. Tarian ini merupakan repertoar yang menggambarkan kepribadian remaja putri yang mengikuti aturan-aturan khusus terkait busana yang mengacu pada norma-norma yang berlaku di Kraton Yogyakarta.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-golek-kenyo-tinembe/

Leave A Reply

Your email address will not be published.