Kesenian Yogyakarta : Tari Anila Prahasta

0 6

Tari Anila Prahasta adalah sebuah tari klasik gaya Yogyakarta yang ide ceritanya mengambil dari cuplikan dari cerita Ramayana, yang menceritakan tentang Anila bertarung dengan Prahasta dari kerajaan Alengka. Hal ini dikarenakan istri dari Rama Wijaya diculik oleh Rahwana. Yayasan Sasminta Mardawa didirikan sejak tahun 1962, yayasan ini bergerak spesifik pada pelatihan tari klasik gaya Yogyakarta dan karawitan sebagai bagian pendukungnya. Yayasan ini mengalami perjalanan yang panjang. Dulu awal tahun 1962 awalnya bernama Mardowo Budoyo. Karena animo masyarakat untuk belajar tari klasik ini besar dan banyak maka pada tahun 1976 dibuatkan satu wadah lagi dengan nama Pamulangan Bekso Ngayogyakarto (PBN), yang mana untuk Mardowo Budoyo untuk mengajar tari klasik untuk anak-anak, sedangkan Pamulangan Bekso Ngayogyakarto (PBN) untuk mengajar yang lebih dewasa.

Yayasan ini didirikan oleh Alm. Sasmita Dipura (Romo Sas). Pada tahun 1988, untuk mengenang beliau akhirnya kedua yayasan ini dilebur menjadi satu dengan nama Yayasan Sasminta Mardawa yang berbasecamp di Ndalem Tejokusuman. Tari Anila Prahasta ini, Anila merupakan senopati kerajaan Pancawati yang membela Prabu Rama Wijaya, sedangkan Prahasta adalah patih kerajaan Alengka Diraja. Dengan segala kesaktian keduanya, mereka bertanding untuk memperoleh kemenangan. Walaupun pada akhirnya pertarungan ini dimenangkan oleh Anila.

Walaupun menang terhadap Prahasta, Anila dalam pertempuran tersebut sempat terdesak, tapi dalam keadaan itu, Anila menjumpai tugu besar dan menggunakannya untuk memukul kepala Prahasta, dan Prahastapun tewas dengan kepala dan badannya hancur. Ternyata tugu yang dipakai untuk memukul kepala Prahasta tersebut merupakan perwujudan dari seorang bidadari yang bernama Indradi, yang tidak lain adalah ibu kandung Raja Sugriwa. Indradi adalah istri dari seorang resi yang bernama Gotama yang mengutuk istrinya menjadi tugu batu, karena berselingkuh dengan Batara Surya. Dengan kematian Prahasta oleh pukulan Anila menggunakan tugu ini, malah membebaskan Indradi dari kutukan resi Gotama.

Gerakan pada Tari Anila Prahasta ini juga sangat khusus karena sudah menunjuk karakter tertentu, dimana Anila adalah kera, maka secara langsung menggunakan ragam gerak kera dengan kinantang kera, sedangkan Prahasta mengunakan ragam gerak papang sekar suwun. Semua gerakan masih mengaju pada gerak tari klasik gaya Yogyakarta yang lebih dikenal dengan Joged Mataraman, yag disesuai dengan karakter tarian yang dibawakan. Gerak tari pada Beksan Anila Prahasta memadukan gerak gagah antep, lincah dan sangat atraktif. Dimana Anila memadukan dengan gerak yang cerdik dan galak, sedangkan Prahasta dengan tubuh yang lebih besar lebih terlihat geraknya yang lebih menawan. Gerak awal disebut dengan maju gendhing berupa gerakan sembahan, kemudian ulap-ulap ketika mereka bertemu dan diteruskan pada adegan gerak peperangan sampai akhir yang disebut dengan mundur gendhing. Polanya menggunakan gerak tari Wayang Wong yang biasanya ada gerak sembahan, lumaksono, ngambak banyu dan srisig.

Busana yang dikenakan Anilo berupa irah-irahan gunung keling, memakai busana lengan panjang dengan warna bitu tua, jamangya bentuknya lung-lungan (melengkung), slepe, kalung susun satu, celana cindhe, sampur, sumping, jarik dengan motip parang klithik tudhing. Kain ini biasanya digunakan untuk peran kera yang mempunyai jabatan. Selain itu topeng warna biru tua berbentuk muka binatang kera biru seseuai dengan karakter Anila sebagai kera biru. Busana ini sangat dapat menghidupkan karakter pelaku atau tokoh yang dibawakan, artinya sebelum adegan didalamnya, busana ini dapat menunjukan peran apa yang akan ditarikan. Sedangkan Prahasta menggunakan busana berwarna hitam dengan sulaman emas lengan panjang dengan kaos tangan putih, irah-irahan dengan nama bledekan lar dan memakai probo, kalung susun satu, slepe, celana chindhe, sampur, jarik dengan motip parang polos dan memakai topeng warna merah yang menandakan sifatnya seorang raksasa serta memakai lipung (gada yang kedua ujungnya tajam).

Iringan gendhing pada Tari Anila Prahasta menggunakan gamelan klasik Jawa, dengan gendhing pada maju gendhing menggunakan gendhing ladrang, sedangkan pada adegan perangnya menggunakan gendhing playon pada inti beksan yang pada adagan akhir atau mundur gendhing menggunakan gendhing gangsaran. Tapi itu semua bisa  dikreasi para penata musiknya, sesuai dengan apa yang mau dipakai, karena tidak ada pakemnya dalam hal ini. Tarian klasik gaya Yogyakarta ini ragamnya banyak sekali yang menambah khasanah budaya Indonesia, yang menunjukan eksistensi tari klasik Yogyakarta yang sangat dinamis serta memliki karakter tersendiri. Dan itu tidak lepas dari ide cerita yang digunakan selama ini, mulai dari cerita lepas sampai mengambil dari epos Ramayana maupun Mahabarata yang itu semua merupakan sumber utama ide tarian tersebut, selain di lengkapi dengan tarian-tarian yang sudah ada seperti bedaya dan Srimpi.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-anila-prahasta/

Leave A Reply

Your email address will not be published.